KlikMojok – Saat gelaran Gresikan (Gelar Apresiasi Karya Seni, Literasi, dan Sains) serta Kick Off SPMB 2027-2028 di Gressmall Gresik pada Sabtu, 26 September 2026, SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A menawarkan pengalaman berbeda. Pengunjung tidak hanya disuguhi pameran hasil karya murid, melainkan juga berkesempatan menyaksikan langsung demonstrasi pembuatan bola-bola cokelat yang diperagakan oleh enam koki cilik dari kelas 3.
Muhammad Sulaiman Al Maliki, seorang murid kelas 3 SD Mugres Kampus A, memberikan jawaban lugas saat ditanya mengenai tujuan pameran kue cokelat ini. “Biar kita bisa ngajarin orang,” ujarnya, menunjukkan semangat berbagi ilmu.
Menurut Al Maliki, pameran ini bukan sekadar ajang unjuk gigi hasil karya. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai peluang emas untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan yang telah ia kuasai kepada khalayak umum.
Antusiasme dan semangat berbagi ini begitu kentara di stan kelas 3 selama acara Gresikan dan Kick Off SPMB 2027-2028 yang berlangsung di Gressmall Gresik pada Sabtu, 26 September 2026.
Di antara berbagai stan yang memamerkan karya-karya kreatif murid lainnya, stan kelas 3 berhasil menyajikan sebuah pengalaman yang unik dan berbeda bagi para pengunjung.
Para pengunjung tidak hanya diajak untuk mengamati hasil kreativitas para siswa, melainkan juga berkesempatan menyaksikan secara langsung demonstrasi memasak bola-bola cokelat yang dipandu oleh enam koki cilik dari kelas 3.
Keenam murid yang bertugas sebagai koki cilik tersebut adalah Muhammad Sulaiman Al Maliki dari kelas 3 A.R. Sutan Mansur, kemudian Aluna Ayudia Inara dan Muthia Adeeva Ramadhani dari kelas 3 Ki Bagus Hadikusumo, Yasmine Nuzulul Riskina dari kelas 3 Jenderal Sudirman, serta Assyfa Putri Ramadhani dari kelas 3 Mr. Kasman Singodimedjo.
Secara bergantian, mereka menunjukkan bahan-bahan dan perlengkapan yang diperlukan, sembari menjelaskan setiap tahapan dalam proses pembuatan bola-bola cokelat kepada pengunjung yang antusias.
Namun, di balik penampilan mereka yang terlihat singkat dan lancar di hadapan khalayak, tersimpan proses persiapan intensif yang telah dimulai sejak sepekan sebelum acara berlangsung.
Keenam murid tersebut berlatih secara cermat bersama guru pembimbing mereka, Yetty Setyawaty, S.Pd., untuk memastikan setiap siswa mampu menjalankan tugasnya dengan baik selama sesi live cooking.
Yetty menjelaskan bahwa gagasan untuk menghadirkan sesi live cooking ini bermula dari materi pembelajaran Bahasa Indonesia yang membahas tentang pembuatan poster untuk makanan atau minuman.
“Idenya muncul dari kegiatan pelajaran Bahasa Indonesia tentang membuat poster untuk makanan atau minuman,” tutur Yetty.
Dari kegiatan teoritis tersebut, konsep pembelajaran kemudian berevolusi menjadi sebuah pengalaman yang jauh lebih konkret dan nyata. Murid-murid tidak hanya sekadar merancang poster makanan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan makanan sederhana tersebut.
“Live cooking ini untuk menunjukkan cara membuat kue sederhana yang mudah dan anak-anak sukai,” imbuhnya.
Sejak dimulainya kegiatan Gresikan SD Mugres, enam koki cilik ini menunjukkan semangat yang luar biasa dalam menjalankan setiap tugas mereka. Dengan percaya diri, mereka memamerkan bahan-bahan dan perlengkapan, lalu secara detail menjelaskan tahapan demi tahapan pembuatan bola-bola cokelat kepada para pengunjung yang hadir.
Menariknya, seluruh proses persiapan yang cukup intensif ini sama sekali tidak dirasakan sebagai beban oleh para murid. Mereka dengan sukarela mengikuti sesi latihan tambahan setelah jam pelajaran sekolah usai.
“Enam chef cilik dari murid-murid paralel kelas 3 ini bersemangat sekali. Terbukti ketika ada latihan saat sekolah sudah usai, mereka tidak keberatan,” ungkap Yetty, mengapresiasi dedikasi anak didiknya.
Bagi Yetty selaku guru pembimbing, keberanian yang ditunjukkan oleh para murid untuk tampil di depan umum dan menjelaskan seluruh proses pembuatan makanan menjadi salah satu momen yang paling berkesan dan membanggakan.
Para siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai resep dan cara membuat makanan, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan informasi tersebut dengan jelas kepada orang lain, serta menunjukkan kemampuan bekerja sama yang solid selama proses demonstrasi berlangsung.
Momen kebahagiaan itu terlihat jelas saat Al Maliki dengan gembira menikmati setiap tahapan pembuatan bola-bola cokelat di hadapan para pengunjung. Raut wajahnya semakin ceria ketika melihat pengunjung antusias mencicipi hasil karya tangannya.
Dengan rasa ingin tahu yang khas anak-anak, Al Maliki bahkan tak sungkan untuk berinteraksi dengan pengunjung, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Pertanyaan-pertanyaan lugu tersebut menjadi bagian integral dari interaksi dua arah antara murid dan pengunjung. Melalui pengalaman ini, anak-anak tidak lagi hanya berperan sebagai penjaga stan pasif, melainkan bertransformasi menjadi pihak yang aktif menjelaskan, mendemonstrasikan, dan bahkan menerima umpan balik langsung dari orang lain.
Kehadiran sesi live cooking ini secara efektif mengubah stan kelas 3 menjadi sebuah ruang interaksi yang dinamis. Pengunjung dapat menyaksikan seluruh proses pembuatan bola-bola cokelat, mengajukan pertanyaan kepada para murid, menikmati hasil olahan mereka, bahkan beberapa di antaranya berkesempatan untuk mencoba membuatnya sendiri.
Antusiasme pengunjung sangat tinggi, terbukti dari ludesnya seluruh persediaan bola-bola cokelat yang disiapkan. Kue-kue yang awalnya tersedia untuk dinikmati pengunjung akhirnya habis tak bersisa.
Bagi Yetty, respons positif dari pengunjung ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan bagi setiap murid.
“Momen paling berkesan saat anak-anak dengan berani menerangkan cara membuat bola-bola cokelat dan bisa bekerja sama dalam membuatnya. Pengunjung banyak yang tertarik. Mereka minta kue. Kue-kue yang tersedia habis tanpa sisa,” jelas Yetty dengan bangga.
Namun, keberhasilan sesi live cooking ini bukan hanya diukur dari ludesnya seluruh hidangan yang disajikan. Lebih dari itu, terdapat proses pembelajaran mendalam yang berlangsung di balik setiap interaksi di meja stan.
Dalam kegiatan ini, para murid belajar banyak hal, mulai dari keberanian berbicara di hadapan publik, kemampuan mengikuti tahapan kerja secara sistematis, keterampilan membagi tugas dalam tim, hingga rasa tanggung jawab terhadap peran masing-masing.
Mereka juga memahami bahwa sebuah karya seni atau produk dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam ketika tidak hanya sekadar dipamerkan. Proses pembuatannya dan pengetahuan di baliknya juga dapat dibagikan dan bermanfaat bagi orang lain.
Inilah salah satu alasan utama mengapa Yetty merasa begitu bangga terhadap pencapaian dan karakter yang ditunjukkan oleh para muridnya.
“Hal yang paling membanggakan dari anak-anak selama kegiatan adalah anak-anak bertanggung jawab dengan tugasnya. Mereka bersedia menjaga stan, sementara teman yang lain menyaksikan hiburan di panggung,” pungkas Yetty.
Tingginya rasa tanggung jawab ini menunjukkan bahwa pengalaman pameran tidak hanya terbatas pada momen tampil di hadapan pengunjung. Lebih jauh, murid-murid juga belajar tentang pentingnya menjaga amanah dan menyelesaikan setiap tugas hingga kegiatan pameran benar-benar berakhir.
Bagi Muhammad Sulaiman Al Maliki, pengalaman berharga menjadi koki cilik dalam ajang Gresikan ini meninggalkan pemahaman sederhana namun mendalam tentang esensi makna berbagi.
Ketika kembali ditanya mengenai tujuan diselenggarakannya pameran ini, ia dengan lugas menjawab, “Biar kita bisa ngajarin orang.”
Kalimat lugas Al Maliki tersebut secara sempurna merefleksikan semangat utama di balik Gresikan 2026. Karya para murid tidak hanya dipandang sebagai objek pajangan semata, melainkan berfungsi sebagai media komunikasi yang efektif, sarana untuk berbagi pengalaman, dan wadah untuk menunjukkan berbagai kemampuan yang telah mereka kuasai.












