KlikMojok – SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo (Musasi) sukses menggelar Science Camp 2026 yang membawa siswa Sciencetech Class merasakan pengalaman belajar langsung di alam terbuka. Kegiatan edukatif ini berlangsung selama dua hari penuh, dari Kamis hingga Jumat, tanggal 1–2 Oktober 2026, berlokasi di Coban Talun, Batu. Acara tahunan ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan bertahan hidup dan kemandirian.
Para peserta Science Camp 2026 terdiri dari siswa-siswi Sciencetech dari kelas VII dan kelas VIII. Dengan tema sentral “Keterampilan Bertahan Hidup di Alam”, perkemahan ini bertujuan untuk mengajarkan berbagai kemampuan esensial yang relevan dengan kondisi lingkungan luar.
Nuansa tema tersebut sudah mulai terasa sejak hari pertama, tepatnya saat para peserta tiba di lokasi dan mulai bergotong-royong mendirikan tenda secara berkelompok. Setiap anggota kelompok segera membagi tugas, mulai dari memasang tiang-tiang penyangga hingga merapikan berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk perkemahan.
Proses mendirikan tenda ini secara langsung mengajarkan pentingnya kerja sama tim, sebab sebuah tenda tidak akan dapat berdiri kokoh tanpa kontribusi aktif dari setiap anggota kelompok. Lebih dari itu, aktivitas ini juga menjadi pengalaman berharga dan awal yang baik bagi para siswa untuk mulai belajar mandiri dalam situasi yang menantang.
Siswa-siswi dituntut untuk mampu mengambil keputusan secara kolektif dan bertanggung jawab saat menghadapi berbagai kesulitan yang mungkin muncul di lapangan. Setelah seluruh tenda berhasil berdiri, para peserta kemudian berkumpul bersama untuk menunaikan salat Zuhur dan Asar secara berjamaah.
Setelah itu, rangkaian Science Camp 2026 secara resmi dibuka oleh panitia. Salah satu inovasi menarik pada pelaksanaan tahun ini adalah keterlibatan aktif siswa kelas VIII yang turut menjadi bagian dari tim panitia pelaksana kegiatan.
Selain mengelola jalannya acara, siswa kelas VIII juga memiliki tugas penting untuk mendampingi dan membimbing peserta dari kelas VII sepanjang kegiatan. Hal ini berarti, siswa kelas VIII tidak hanya berkedudukan sebagai peserta, melainkan juga mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar mengelola sebuah kegiatan besar sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab terhadap adik-adik kelas mereka.
Usai acara pembukaan, para peserta Science Camp 2026 langsung mendapatkan materi keterampilan bertahan hidup yang disampaikan oleh perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Materi ini dirancang khusus dan disesuaikan secara cermat dengan tema kegiatan serta kebutuhan praktis siswa saat berada di lingkungan alam terbuka.
Dalam sesi ini, siswa diajarkan berbagai teknik vital, termasuk cara menangani individu yang tidak sadarkan diri dalam situasi darurat. Selain itu, mereka juga dilatih tentang prosedur yang benar untuk mengangkat korban menggunakan tandu darurat, sebuah keterampilan yang sangat penting dalam pertolongan pertama.
Tidak hanya itu, petugas BPBD juga memperkenalkan beberapa jenis tumbuhan liar yang aman dan dapat dimakan di alam. Pengetahuan baru ini membuka pandangan peserta, membuat mereka melihat lingkungan sekitar dengan perspektif yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Siswa tidak lagi sekadar menikmati keindahan pemandangan, melainkan juga belajar untuk ‘membaca’ dan memahami kondisi alam di sekitar mereka. Oleh karena itu, seluruh rangkaian kegiatan ini benar-benar terasa seperti sebuah kelas yang berpindah dari ruang-ruang sekolah formal ke hamparan alam terbuka yang luas.
Suasana Science Camp 2026 semakin meriah dan hidup ketika malam tiba, dengan dimulainya rangkaian kegiatan malam di Coban Talun. Setelah sesi materi dari BPBD, para peserta diajak untuk menyaksikan sebuah video pendek yang mengangkat tema bencana alam.
Seluruh siswa menyimak tayangan video tersebut dengan penuh keseriusan dan ketertiban. Selanjutnya, mereka diberikan waktu istirahat untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan salat Magrib dan Isya secara berjamaah.
Setelah selesai beribadah, masing-masing kelompok siswa mulai sibuk menyiapkan makan malam. Momen ini menjadi tantangan tersendiri karena mereka harus memasak sendiri hidangan mereka menggunakan bahan-bahan yang telah disiapkan sebelumnya.
Menu makan malam yang tersaji sangat beragam dan menggugah selera, mulai dari nasi goreng, mi nyemek, sosis panggang, kari Jepang, hingga berbagai kreasi kuliner lainnya yang disiapkan oleh setiap kelompok.
Namun, menurut Farchah Nada, seorang peserta, keseruan utama dari kegiatan malam itu bukan hanya terletak pada hidangan yang lezat. Ia justru lebih menikmati momen kebersamaan yang secara alami tumbuh dan terjalin erat selama proses memasak bersama teman-temannya.
“Perasaanku malam itu senang banget karena bisa senang-senang dan tertawa lepas bersama teman,” ujar Nada, mengungkapkan kegembiraannya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan yang mungkin terasa sederhana di rumah menjadi sangat berbeda dan istimewa ketika dilakukan bersama-sama di alam terbuka. Terlebih lagi, proses memasak ini mendorong setiap siswa untuk saling membantu dan berbagi tugas, mempererat ikatan persahabatan.
“Masak dan makan bersama membuat suasana makin hangat dan seru,” lanjutnya.
Setelah makan malam usai, udara di Coban Talun mulai terasa semakin dingin menyelimuti. Namun, suasana seketika berubah menjadi hangat dan akrab ketika para guru menyalakan api unggun di tengah area perkemahan.
Momen ini dilanjutkan dengan acara tukar kado yang diselenggarakan oleh para guru dan siswa kelas VIII. Dengan iringan musik yang mengalun lembut, para peserta menikmati malam kebersamaan ini bersama kelompok masing-masing.
Di sisi lain, tim panitia dari kelas VIII telah menyiapkan serangkaian permainan seru untuk memeriahkan suasana. Beberapa di antaranya adalah whisper dance, teka-teki menantang, serta kuis yang menguji pengetahuan Matematika, IPA, dan pengetahuan umum.
Setiap kelompok dengan antusias berlomba-lomba untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang diberikan demi memenangkan hadiah menarik. Alhasil, suasana malam itu semakin ramai, penuh dengan sorak sorai dan gelak tawa yang riang.
Janeeta Adiva, yang menjabat sebagai ketua panitia dari kelas VIII, mengungkapkan bahwa ia sangat menikmati momen kebersamaan ini. Ia merasa senang dan bangga melihat semua peserta dapat berkumpul dan mengikuti seluruh kegiatan dengan penuh antusiasme.
“Perasaanku selama acara malam Science Camp itu senang banget,” ujar Adiva dengan wajah berseri.
Menurutnya, berbagai permainan yang diselenggarakan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata bagi para peserta. Lebih dari itu, permainan-permainan tersebut juga dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis serta memperkuat semangat kerja sama dalam kelompok.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan malam selesai, para peserta kembali ke tenda masing-masing. Mereka segera mengambil sleeping bag dan bersiap untuk melewati malam yang dingin namun berkesan di alam terbuka.
Keesokan harinya, kegiatan kembali dimulai sejak pagi buta dengan agenda tracking atau pendakian menuju Puncak Kalindra. Usai menunaikan salat Subuh, seluruh peserta segera berganti pakaian olahraga dan bersiap untuk memulai perjalanan yang menantang ini.
Sebelum berangkat, mereka mengisi energi dengan sarapan sederhana yang telah mereka siapkan sendiri. Pilihan menu sarapan cukup bervariasi, ada yang memilih mi kuah instan, minuman sereal Energen, dan berbagai makanan praktis lainnya.
Selanjutnya, seluruh peserta berkumpul kembali sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Bersama-sama, mereka memulai perjalanan yang menanjak menuju Puncak Kalindra, sebuah titik dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Perjalanan mendaki ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda dan berkesan bagi para siswa. Mereka dituntut untuk berjalan mengikuti jalur yang telah ditentukan sambil terus menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan dalam kelompok.
Meskipun langkah-langkah terasa melelahkan, keceriaan dan semangat tetap terpancar di sepanjang perjalanan. Sesekali, para siswa berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dengan berfoto bersama teman-teman mereka.
Foto-foto tersebut tidak hanya mengabadikan keindahan pemandangan alam, tetapi juga momen-momen berharga selama perjalanan menuju puncak. Setelah berhasil mencapai Puncak Kalindra, rombongan melanjutkan petualangan mereka menuju kawasan Econique Coban Talun.
Di Econique Coban Talun, para peserta kembali menemukan ruang untuk bersenang-senang dan bermain bebas. Mereka tampak asyik bermain air, bermain pasir, dan tidak lupa berswafoto bersama teman-teman untuk mengabadikan kenangan.
Meskipun pakaian mereka basah kuyup dan penuh pasir, hal itu sama sekali tidak mengurangi kegembiraan para siswa. Bahkan, beberapa di antara mereka terlihat berlari-lari tanpa alas kaki menuju area tenda, saking tidak sabarnya.
Keramaian itu menunjukkan keinginan mereka untuk segera mendapatkan giliran mandi setelah puas bermain air. Sementara itu, para guru telah dengan sigap menyiapkan hidangan soto ayam hangat yang lezat, siap untuk mengembalikan tenaga dan energi para peserta yang kelelahan.
Setelah menikmati santapan siang, para siswa mulai merapikan seluruh barang bawaan pribadi mereka. Mereka juga bertugas mengembalikan sleeping bag dan matras yang telah digunakan selama dua hari berkemah.
Selanjutnya, peserta bersiap untuk melaksanakan salat Jumat bagi yang laki-laki. Usai menunaikan salat, mereka memasukkan barang-barang bawaan ke dalam mobil masing-masing, bersiap untuk perjalanan pulang.
Para guru turut membagikan bekal makan siang untuk dinikmati selama perjalanan pulang. Perlahan-lahan, suasana di area perkemahan yang semula ramai oleh aktivitas siswa mulai berubah menjadi lebih tenang dan hening.
Dua hari yang padat dengan berbagai aktivitas dan pengalaman baru ini akhirnya menyisakan rasa lelah yang mendalam. Di dalam kendaraan yang membawa mereka pulang, beberapa peserta terlihat terlelap, pulas setelah menjalani rangkaian kegiatan yang begitu intens.
Dalam kurun waktu yang relatif singkat, mereka telah melewati beragam pengalaman berharga. Mulai dari tantangan mendirikan tenda, sesi belajar pertolongan darurat, pengalaman memasak mandiri, hingga kehangatan momen menyalakan api unggun bersama.
Tak hanya itu, mereka juga aktif mengikuti berbagai permainan seru dan menempuh perjalanan mendaki menuju puncak. Oleh karena itu, perjalanan pulang menjadi kesempatan yang sangat dinantikan untuk memulihkan tenaga dan beristirahat.
Pada akhirnya, Science Camp 2026 terbukti bukan sekadar kegiatan berkemah biasa. Acara ini menjelma menjadi sebuah ruang belajar yang unik, di mana pengetahuan teoritis dapat bertemu langsung dengan pengalaman nyata yang mendalam.
Di bawah naungan tenda, para siswa belajar tentang kemandirian dan bagaimana cara berbagi tanggung jawab dengan sesama. Sementara itu, di tengah keseruan permainan, mereka diajarkan pentingnya bekerja sama dan menghargai setiap peran dari anggota kelompok.
Adapun perjalanan mendaki menuju puncak mengajarkan mereka tentang keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan fisik dan mental. Dengan demikian, alam terbuka secara keseluruhan telah menjadi ruang belajar yang luar biasa, menghadirkan pengalaman yang lebih dekat, otentik, dan membekas di hati setiap peserta.
Oleh karena itu, Science Camp 2026 meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada sekadar kumpulan foto dan cerita. Kegiatan ini berhasil menanamkan pengalaman berharga tentang kemandirian, pentingnya kerja sama, keberanian menghadapi kesulitan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
Semua pelajaran berharga tersebut pada akhirnya turut pulang bersama para siswa. Bukan tersimpan rapi di dalam buku pelajaran, melainkan melekat kuat dalam diri mereka melalui pengalaman nyata yang telah mereka jalani dan rasakan sendiri.












