Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Salim A. Fillah Ungkap Kunci Bahagia Sejati: Istiqomah di Tengah Dinamika Perubahan Zaman

badge-check

Salim A. Fillah Ungkap Kunci Bahagia Sejati: Istiqomah di Tengah Dinamika Perubahan Zaman Perbesar

KlikMojok – Ustaz Salim A. Fillah, seorang dai dan penulis terkemuka, menekankan pentingnya menjaga istiqomah di jalan Allah sebagai kunci utama untuk meraih ketenteraman jiwa dalam menghadapi laju perubahan zaman yang begitu cepat. Pesan mendalam ini disampaikannya dalam sebuah kajian kolaborasi yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim Al-Ma’un, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Suko, dan SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi) pada Sabtu, 26 September 2026.

Fenomena global menunjukkan bahwa dunia terus bergerak dan mengalami transformasi dengan kecepatan yang luar biasa. Oleh karena itu, setiap individu sangat membutuhkan ketenteraman batin sebagai pegangan yang kokoh untuk menavigasi kompleksitas kehidupan sehari-hari.

Pernyataan mengenai kebutuhan akan ketenteraman tersebut disampaikan oleh Ustaz Salim A. Fillah dalam sebuah kajian umum yang berlangsung di Aula Masjid At-Tanwir Miosi. Acara tersebut diadakan pada hari Sabtu, 26 September 2026, dan merupakan hasil kerja sama yang harmonis antara Majelis Ta’lim Al-Ma’un, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Suko, serta SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi).

Kajian yang dipimpin oleh Ustaz Salim A. Fillah ini secara spesifik mengangkat tema yang relevan, yaitu “Menjadi Muslim Adaptif tapi Konsisten: Keteladanan Nabi Menyeimbangkan Kemajuan dan Keimanan.” Menurut pandangan Salim A. Fillah, esensi dari tema ini adalah bagaimana seorang Muslim dapat menghadapi berbagai perubahan zaman yang terus bergulir tanpa sedikit pun kehilangan konsistensi dalam menjalankan ajaran agamanya.

Dalam penjelasannya, Salim A. Fillah menegaskan, “Bahasa agama konsisten yaitu istikamah.” Beliau selanjutnya mengingatkan seluruh jamaah tentang betapa krusialnya istiqomah sebagai elemen sentral dan tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim yang beriman.

Salim A. Fillah lebih lanjut menguraikan bahwa dunia saat ini sedang mengalami evolusi dan perubahan yang sangat luar biasa. Transformasi tersebut dapat terlihat jelas dari perkembangan teknologi yang signifikan, mulai dari komputer yang dahulu berukuran sebesar ruangan hingga kini menjadi perangkat ringkas yang dapat diletakkan di atas meja.

Saat ini, kemajuan teknologi terus berlanjut pesat dengan hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurut Ustaz Salim A. Fillah, kemampuan AI bahkan telah mencapai titik di mana ia dapat mengatur dan memanipulasi wajah untuk keperluan produksi film.

Menyikapi kondisi tersebut, beliau menyampaikan, “Di saat dunia penuh kegelisahan, penting kita mencari sakinah, ketenteraman, yang ada di majelis ilmu.”

Menurut penjelasan Salim A. Fillah, partisipasi aktif dalam majelis ilmu memiliki potensi besar untuk mendatangkan ketenteraman batin. Hal ini karena melalui majelis ilmu, hati seseorang menjadi lebih terhubung dan dekat dengan Allah SWT melalui proses mengingat serta memahami ajaran-ajaran-Nya yang mulia.

Beliau kemudian membagikan sebuah rumus sederhana yang menggambarkan kondisi hati manusia. Salim A. Fillah berkata, “Ingat Allah tentram, ingat makhluk gelisah.”

Mengingat hal-hal duniawi seperti rumah, kendaraan, cicilan, bahkan kekhawatiran terkait anak-anak dapat dengan mudah memicu kegelisahan dalam diri. Namun, sebaliknya, ketika seseorang mengingat Allah, hati akan merasakan ketenteraman yang mendalam, sebab Allah lebih memahami segala perasaan dan kondisi manusia.

Selain itu, Allah SWT memiliki jaminan rezeki yang jauh lebih pasti dibandingkan dengan segala rencana atau upaya yang dibuat oleh manusia. Oleh karena itu, menurut Salim A. Fillah, keyakinan yang teguh kepada Allah adalah sumber utama ketenteraman dan kedamaian dalam menjalani setiap aspek kehidupan.

Salim A. Fillah selanjutnya menguraikan perbedaan esensial antara kebahagiaan sejati dengan sekadar kesenangan sesaat. Ia menjelaskan bahwa kesenangan yang bersifat sementara tidak secara otomatis akan membawa pada pencapaian kebahagiaan yang hakiki dan abadi.

Sebagai ilustrasi, beliau mencontohkan individu yang mencari kesenangan melalui aktivitas seperti karaoke dan berbagai bentuk hiburan semata. Akan tetapi, jenis kesenangan semacam itu sangatlah berbeda dengan ketenteraman batin yang timbul dari kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

Salim A. Fillah memaparkan, “Tidak khawatir terkait besok, tidak sedih tentang yang sudah terjadi, itu definisi bahagia sejati.”

Menurut pandangannya, seorang Muslim memiliki kemampuan untuk menghadapi masa depan dengan ketenangan hati yang luar biasa, sebab ia memiliki keyakinan penuh bahwa Allah SWT adalah Dzat yang Maha Menjamin rezekinya. Keyakinan yang kuat ini secara signifikan membantu seseorang untuk tidak terus-menerus terjerumus dalam lingkaran kekhawatiran yang tak berujung.

Penulis buku inspiratif berjudul “Jalan Cinta Para Pejuang” ini turut mengingatkan bahwa alokasi waktu yang manusia gunakan untuk beribadah dan mengingat Allah masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah waktu yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya bagi setiap manusia untuk kembali menata dan mengelola penggunaan waktunya dengan lebih bijak.

Salim A. Fillah bahkan mengemukakan kemungkinan bahwa doa-doa yang belum terkabul bisa jadi merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Beliau menuturkan, “Jangan-jangan doa kita tidak dikabulkan karena Allah sayang.”

Guna mempertahankan istiqomah, Salim A. Fillah mengingatkan akan pentingnya doa memohon jalan yang lurus yang senantiasa dibaca berulang kali. Doa mustajab ini, yang termaktub dalam Surah Al-Fatihah, diucapkan minimal 17 kali dalam setiap pelaksanaan salat fardhu.

Menurut beliau, frekuensi pengulangan doa tersebut merupakan indikasi yang jelas tentang betapa fundamentalnya kebutuhan manusia akan istiqomah. Salim A. Fillah kemudian mengaitkan hal ini dengan urgensi untuk senantiasa melaksanakan amalan kebaikan secara konsisten dan berkelanjutan.

Beliau menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan, “Amalan yang paling Allah cintai, terus menerus, kontinu, lestarikan, rutinkan, meskipun sedikit.”

Sebagai contoh konkret, beliau menjelaskan istiqomah dalam melaksanakan salat tahajud. Seseorang dapat memulai kebiasaan ini dengan memasang alarm sekitar setengah jam sebelum masuknya waktu Subuh, secara bertahap membangun konsistensi.

Selain salat tahajud, istiqomah juga dapat diwujudkan melalui ibadah puasa serta sedekah. Salim A. Fillah berpendapat bahwa sedekah dalam jumlah besar yang hanya dilakukan sesekali waktu memiliki nilai yang berbeda dengan sedekah dalam jumlah kecil namun dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Beliau mengilustrasikan, “Sedekah satu miliar, terus libur seumur hidup, itu kalah dengan sedekah harian seribu, dua ribu, dan seterusnya.” Bagi Salim A. Fillah, poin terpenting dan paling utama dalam setiap amalan adalah konsistensi atau istiqomah itu sendiri.

Salim A. Fillah kemudian mengajak para jamaah untuk terlebih dahulu menuntaskan segala kewajiban yang ada. Beliau menyarankan agar target penyelesaian kewajiban tersebut dapat dicapai dalam kurun waktu tiga bulan, sebelum kemudian mulai menambahkan amalan-amalan sunnah.

Setelah kewajiban pokok tertunaikan, jamaah dapat memilih satu amalan sunnah spesifik dan berupaya menjaganya secara istiqomah. Sebagai contoh, beliau menyarankan untuk memilih salat qabliyah Subuh sebagai salah satu amalan sunnah yang dapat ditekuni.

Selanjutnya, amalan sunnah tersebut dapat ditambahkan satu per satu, setelah seseorang merasa benar-benar kuat dan mampu menjalankannya dengan baik. Dengan pendekatan bertahap ini, kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh dan berkembang secara alami tanpa mengorbankan konsistensi yang telah terbangun.

Salim A. Fillah juga menekankan pentingnya bagi setiap individu untuk memiliki setidaknya satu amalan kebaikan yang tidak diketahui oleh orang lain. Amalan rahasia tersebut berfungsi sebagai bentuk hubungan pribadi yang sangat intim dan tulus antara seorang hamba dengan Tuhannya, Allah SWT.

Beliau menyatakan, “Iman itu seperti itu, harus ada amalan yang disembunyikan.”

Menurut penjelasannya, istiqomah juga tidak dapat dipisahkan dari praktik muhasabah atau introspeksi diri yang mendalam. Setiap individu perlu memiliki kemampuan untuk secara jujur menemukan serta mengakui kekurangan dan kelemahan yang ada dalam dirinya sendiri.

Individu yang istiqomah, lanjut Salim A. Fillah, tidak akan menyibukkan diri dengan mencari-cari kesalahan atau kekurangan pada orang lain. Sebaliknya, mereka akan terus menerus fokus pada kekurangan diri sendiri, menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan perbaikan yang berkelanjutan.

Selain istiqomah, seorang Muslim juga dituntut untuk menjadi pribadi yang adaptif dalam menghadapi berbagai situasi. Menurut Salim A. Fillah, sifat adaptif ini tidak hanya berarti sekadar mengikuti perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang dianggap benar.

Beliau mendorong para jamaah untuk senantiasa menjaga tali silaturahim, karena hubungan baik dengan sesama manusia memiliki potensi untuk memperluas wawasan serta pandangan. Lebih dari itu, silaturahim juga secara langsung berkaitan dengan kelapangan dan keluasan rezeki yang akan didapatkan.

Salim A. Fillah dengan tegas menyampaikan, “Yang ingin rezekinya luas, sambunglah silaturahim.”

Selanjutnya, Salim A. Fillah mengajak seluruh jamaah untuk membiasakan diri dalam bermusyawarah. Ini berarti mendiskusikan berbagai persoalan secara bersama-sama, mencakup beragam topik mulai dari pendidikan anak hingga hobi pribadi.

Isu-isu terkait pendidikan anak, misalnya, juga memerlukan pembahasan dan kesepakatan bersama. Tujuannya sangat penting, yaitu agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.

Menurut pandangan beliau, setiap persoalan yang melibatkan banyak pihak atau kepentingan, seyogianya dibicarakan dan diputuskan secara kolektif. Dengan demikian, proses pengambilan keputusan tidak akan hanya bertumpu pada pandangan atau opini satu orang saja, melainkan hasil konsensus bersama.

Selain musyawarah, Salim A. Fillah juga sangat menekankan urgensi untuk terus menerus belajar. Beliau mengajak jamaah untuk senantiasa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dengan mengatakan, “Sinau, sinau, sinau.”

Membahas kembali pada inti tema kajian, yaitu “Konsisten Menghadapi Perubahan,” Salim A. Fillah mengulang penekanan pada dua kata kunci utama: adaptif dan konsisten. Beliau mengingatkan bahwa tidak ada perlunya mempertentangkan kedua konsep ini satu sama lain.

Salim A. Fillah dengan tegas menyatakan, “Yang benar konsisten tapi adaptif.” Dalam konteks bahasa agama, konsistensi yang dimaksud ini dikenal dengan istilah istiqomah.

Beliau lantas mengutip sebuah kisah inspiratif tentang seorang Badui yang mendatangi Nabi Muhammad SAW dan memohon penjelasan singkat mengenai inti ajaran Islam. Nabi Muhammad kemudian menyampaikan esensi ajaran tersebut melalui dua pilar utama: iman dan istiqomah, dengan bersabda, “Katakan aku beriman kepada Allah dan istiqomah.”

Menurut pemahaman Salim A. Fillah, jika ajaran Islam diringkas hingga mencapai intinya yang paling dasar, maka iman yang disertai dengan istiqomah akan menjadi salah satu pokok ajaran yang sangat penting. Istiqomah pada gilirannya akan melahirkan keteguhan dan kekuatan batin yang esensial dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan hidup.

Salim A. Fillah juga menginformasikan bahwa individu yang menjaga istiqomah akan dianugerahi ketenteraman batin melalui kabar gembira yang disampaikan oleh para malaikat. Pesan dari malaikat tersebut berisi jaminan agar mereka tidak perlu merasa khawatir dan tidak pula bersedih.

Lebih lanjut, Salim A. Fillah menerangkan bahwa individu-individu yang senantiasa menjaga seseorang dalam jalur kebaikan juga memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa lingkungan sosial harus dijaga dan dipelihara melalui pembentukan hubungan yang baik dan positif antar sesama.

Beliau kembali menegaskan betapa krusialnya menjaga silaturahim, membiasakan musyawarah, dan terus menerus belajar. Ketiga elemen ini berfungsi sebagai penopang utama yang membantu seorang Muslim untuk tetap bersikap terbuka terhadap berbagai perubahan yang terjadi, tanpa sedikit pun mengikis prinsip-prinsip dasar keimanan.

Menurut pandangannya, dinamika perubahan zaman yang terjadi seharusnya tidak menyebabkan manusia kehilangan arah atau tujuan hidup. Justru sebaliknya, setiap perubahan perlu dihadapi dengan cara memperkuat dan mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Dalam sesi kajiannya, Salim A. Fillah juga mengisahkan sebuah gambaran tentang seorang wanita yang datang menemui ustaz untuk memohon doa agar suaminya dianugerahi kekayaan. Salim A. Fillah kemudian menyisipkan sebuah candaan ringan untuk menggambarkan berbagai keinginan dan harapan yang kerap dimiliki oleh manusia.

Dalam cerita tersebut, sang ibu berkata, “Doakan suami saya jadi orang kaya.” Salim A. Fillah lantas menanggapi dengan candaan, menanyakan apakah sang ibu akan tetap setia mendampingi suaminya apabila kelak suaminya benar-benar menjadi kaya raya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Gunung Sampah Membara: Pertarungan Melawan Api di TPA Belahantengah Mojokerto

27 Sep 2026 - 18:46 WIB

Ketika Gunung Sampah Membara: Pertarungan Melawan Api di TPA Belahantengah Mojokerto

Ketika Hujan Tak Lagi Menyimpan Janji: Kerentanan Jawa Barat di Tengah Krisis Air dan Kerusakan DAS

27 Sep 2026 - 18:45 WIB

Ketika Hujan Tak Lagi Menyimpan Janji: Kerentanan Jawa Barat di Tengah Krisis Air dan Kerusakan DAS

Mengantar Amanah Kemanusiaan: Perjalanan Penuh Tantangan Lazismu Menuju Korban Gempa Flores

27 Sep 2026 - 18:45 WIB

Mengantar Amanah Kemanusiaan: Perjalanan Penuh Tantangan Lazismu Menuju Korban Gempa Flores

Kolaborasi Aisyiyah-Muhammadiyah: Kunci Penguatan Cabang, Ranting, dan Masjid

27 Sep 2026 - 18:44 WIB

Kolaborasi Aisyiyah-Muhammadiyah: Kunci Penguatan Cabang, Ranting, dan Masjid

Ketika Asap Menjelma Api: Tragedi Kebakaran Kandang di Bondowoso dan Pentingnya Edukasi Pembakaran Limbah Ternak

27 Sep 2026 - 15:18 WIB

Ketika Asap Menjelma Api: Tragedi Kebakaran Kandang di Bondowoso dan Pentingnya Edukasi Pembakaran Limbah Ternak
Trending di Pendidikan