KlikMojok – Panggilan telepon sederhana mampu membuka kembali lembaran-lembaran kenangan lama, menyatukan enam individu yang telah lama menapaki jalur kehidupan masing-masing. Namun, benang persahabatan yang terjalin sejak masa kuliah tetap mereka rawat dengan erat, meskipun telah puluhan tahun terpisah.
Kisah reuni persahabatan ini bermula dari inisiatif Yuliana Rossalita, yang akrab disapa Rossa, melalui sebuah sambungan telepon pada Kamis, 22 Oktober 2026. Telepon tersebut seolah menjadi jembatan waktu, menghidupkan kembali memori akan ikatan persahabatan yang telah bersemi selama 26 tahun lamanya.
Rossa, demikian panggilan akrabnya, saat ini berdomisili di Jakarta. Kendati demikian, bentangan jarak yang memisahkan tidak sedikit pun mengurangi kobaran kerinduan dalam hatinya untuk dapat berkumpul kembali dengan para sahabat lamanya.
Saat menghubungi saya, Rossa melontarkan ajakan yang begitu sederhana namun penuh makna: “Ayo nongkrong di rumah Miftah.” Kata-kata itu seketika membawa ingatan kami kembali ke awal era 2000-an, masa ketika persahabatan kami mulai terjalin erat saat sama-sama menempuh pendidikan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).
Seiring berjalannya waktu, kehidupan telah menuntun kami menyusuri jalur karier dan domisili yang berbeda-beda. Rossa kini sukses meniti karier sebagai pengacara di ibu kota, Jakarta. Sementara itu, Dwi Noviana dan Achmad Fitroni memilih untuk berkarya dengan profesi yang sama, yakni pengacara, namun di kota Surabaya.
Di sisi lain, Selvia Zuroida memantapkan pilihan kariernya sebagai seorang notaris, berpraktik di wilayah Benowo, Surabaya. Adapun Miftahur Roifah, sahabat lainnya, sibuk mengembangkan usaha rumah kos yang berlokasi di kawasan Pakal, Benowo, Surabaya.
Kendati dihadapkan pada kesibukan yang padat dan jarak geografis, keinginan untuk kembali berkumpul dan berbagi cerita tak pernah pudar di hati kami. Oleh karena itu, tanpa ragu sedikit pun, saya langsung menerima ajakan tulus dari Rossa tersebut.
Padahal, pada waktu itu saya masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan laporan asesmen formatif anak didik yang belum rampung. Namun, gejolak kerinduan untuk berjumpa dengan para sahabat terasa jauh lebih mendesak dan tak tertahankan.
Saya merasa sangat beruntung karena memiliki suami yang senantiasa memberikan dukungan penuh terhadap setiap kegiatan yang saya jalani. Ia sama sekali tidak pernah melarang saya untuk berkumpul dengan teman-teman, meskipun terkadang harus rela tinggal sendiri di rumah.
Pada Jumat malam, selepas waktu Isya, saya dan putra kecil saya, Sultan Ahmad Ateem, bertolak menuju kediaman Miftah. Malam itu menjadi momen istimewa ketika kami akhirnya dapat kembali berkumpul bersama, setelah sekian lama terpisahkan oleh beragam kesibukan.
Percakapan pun mengalir begitu saja, tanpa perlu banyak basa-basi atau mencari topik pembuka. Kami larut dalam nostalgia masa-masa kuliah, menertawakan kembali kisah-kisah lucu yang telah lama tersimpan, sekaligus saling berbagi kabar terbaru mengenai perjalanan hidup masing-masing.
Waktu berlalu begitu cepat, seolah tak terasa. Kerinduan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun lamanya akhirnya menemukan wadah untuk tercurahkan dan beristirahat dalam rangkaian percakapan yang hangat dan sederhana itu.
Melihat suasana yang begitu akrab dan hangat, saya akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Miftah. Keputusan ini ternyata disambut dengan penuh kegembiraan oleh Sultan, putra saya, yang belakangan memang sering mengeluhkan suhu udara panas di rumah kami.
Dengan lugu, Sultan sempat berceletuk, “Tidur di sini aja, enak ada AC-nya.”
Ternyata, pendingin udara yang sedang rusak di kediaman kami turut menjadi faktor penentu keputusan kecil untuk menginap malam itu. Akan tetapi, bagi saya pribadi, kesempatan untuk memperpanjang momen kebersamaan dengan para sahabat jauh lebih istimewa dan berarti.
Pada Sabtu pagi, Rossa memiliki agenda untuk mengisi materi perkuliahan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di kampus UWKS. Oleh karena itu, kami semua sempat menjalani kegiatan masing-masing terlebih dahulu sebelum kembali berkumpul bersama.
Setelah agenda Rossa selesai, kami kembali bertemu di kampus yang dulu menjadi saksi bisu awal mula tumbuhnya benih-benih persahabatan kami. Suasana di lingkungan kampus itu tidak hanya membangkitkan kenangan manis, tetapi juga secara nyata menunjukkan betapa jauhnya perjalanan hidup yang telah kami tempuh.
Di tengah hangatnya momen kebersamaan itu, Selvi tiba-tiba melontarkan ide untuk mengabadikan setiap detik pertemuan kami melalui sebuah foto.
Ajakan tersebut langsung kami sambut dengan antusiasme, diiringi senyum dan tawa riang. Bagi kami, berfoto bersama bukan hanya sekadar mendokumentasikan wajah-wajah, melainkan sebuah cara sederhana namun bermakna untuk menyimpan memori pertemuan yang belum tentu dapat terulang dalam waktu dekat.
Mengingat Rossa sedang berada di Surabaya, ia pun berinisiatif mengajak kami untuk berjalan-jalan mengelilingi kota. Kami menyambut usulan itu dengan sangat antusias, seolah ingin menebus waktu kebersamaan yang telah lama terlewatkan.
Petualangan kami berlanjut dari satu pusat perbelanjaan, terus menyusuri sudut-sudut kota hingga malam semakin larut. Kami menikmati setiap jengkal suasana kota, terus berbincang hangat, dan membiarkan momen kebersamaan itu mengarahkan langkah kami berikutnya.
Puncak perjalanan kami berakhir di Bakso Pratama, sebuah kedai bakso legendaris yang terletak di kawasan Dukuh Kupang. Di sana, semangkuk bakso khas Surabaya menjadi hidangan penutup yang sederhana namun sempurna untuk mengakhiri hari yang dipenuhi dengan beragam cerita dan tawa.
Meski pertemuan ini hanya berlangsung selama beberapa hari, momen kebersamaan yang terjalin erat tersebut mengingatkan kami akan sebuah kebenaran: persahabatan sejati tidak harus selalu hadir setiap hari untuk tetap memiliki makna yang mendalam.
Saat ini, kami semua telah memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan kehidupan yang berbeda. Ada berbagai perkara hukum yang harus ditangani, klien-klien yang menanti, usaha yang perlu terus dikembangkan, serta keluarga yang senantiasa membutuhkan perhatian penuh.
Kendati demikian, di tengah padatnya aktivitas, kami tetap berusaha meluangkan waktu untuk saling menyapa dan menjaga komunikasi. Hal ini karena persahabatan yang telah tumbuh bersemi sejak bangku kuliah menyimpan segudang kenangan indah yang tak akan lekang oleh pergantian tahun.
Dua puluh enam tahun bukanlah rentang waktu yang singkat. Selama kurun waktu tersebut, kehidupan memang telah membawa banyak perubahan, namun tidak sedikit pun mampu menghilangkan keakraban serta ikatan batin yang selama ini telah kami rawat bersama.
Pada akhirnya, momen pertemuan ini memberikan pelajaran berharga bahwa rasa rindu tidak selalu menuntut perayaan yang megah atau besar. Terkadang, sebuah panggilan telepon, obrolan panjang yang mengalir, sesi foto bersama, dan hidangan semangkuk bakso sudah lebih dari cukup untuk kembali menghangatkan jalinan persahabatan lama.
Dan ketika kami kembali menjalani kehidupan masing-masing, satu keyakinan teguh tetap kami bawa dalam hati: persahabatan sejati akan selalu menjadi jalan pulang yang menenangkan, kapan pun kami membutuhkannya.












