KlikMojok – Minggu pagi di penghujung Oktober 2026, kampus Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Bojonegoro, menjelma lautan sarung. Sekitar 8.000 pasang kaki melangkah serentak, memeriahkan Jalan Sehat Bersarung PCNU Bojonegoro yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat. Bukan sekadar ajang olahraga biasa, kegiatan ini adalah perayaan Hari Santri yang sarat makna, sebuah deklarasi identitas, dan penegasan semangat kebersamaan yang mengakar kuat di Bumi Angling Dharma.
Hari Santri, yang diperingati setiap tahun, adalah momen refleksi atas peran sentral santri dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Mengenakan sarung, busana yang tak terpisahkan dari keseharian santri, bukan hanya simbol kesederhanaan, melainkan juga cerminan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Dalam konteks ini, jalan sehat bersarung menjadi medium efektif untuk menguatkan identitas santri di tengah masyarakat, sekaligus mengajak pada pola hidup sehat yang produktif.
Peserta yang hadir tak hanya dari Kota Bojonegoro, melainkan juga perwakilan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dari seluruh kecamatan, menunjukkan jangkauan dan soliditas organisasi. Ribuan wajah penuh senyum, langkah-langkah yang berirama, memancarkan energi positif yang kental dengan semangat silaturahmi.
Kemeriahan acara dibuka langsung oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap inisiatif keagamaan dan kemasyarakatan ini. Turut hadir sejumlah tokoh penting PCNU Bojonegoro, antara lain Rais Syuriah PCNU KH Maimun Syafi’i, Ketua PCNU dr. Kholid Ubed, Katib Syuriah KH Hilmi Aljumadi, Sekretaris PCNU Moh. Zainudin, serta Wakil Ketua PCNU sekaligus Ketua Panitia Hari Santri, Ahmad Jakfar Almansur, menunjukkan komitmen kolektif para pemimpin Nahdlatul Ulama.
Dalam sambutannya, Ketua PCNU Bojonegoro, dr. Kholid Ubed, menekankan bahwa jalan sehat ini jauh melampaui sekadar aktivitas fisik. “Kita terbiasa melakukan upaya untuk sehat,” ujarnya, menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif akan kesehatan. Menurutnya, masyarakat yang sehat adalah fondasi vital bagi pembangunan bangsa. Oleh karena itu, membudayakan olahraga dan pola hidup sehat harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ia juga mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk terus menjaga kebersamaan dan berkontribusi nyata dalam pembangunan, melampaui sekadar seremoni.
Bupati Setyo Wahono sendiri memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan yang berhasil memadukan semangat olahraga dengan pelestarian identitas santri. Baginya, sarung adalah representasi nilai kesederhanaan dan kesantunan yang melekat pada diri santri. Ia berpesan agar para santri senantiasa meningkatkan kualitas diri, menjaga kesehatan, meraih prestasi, dan memperluas wawasan. “Santri harus tampil sederhana, harus sehat, harus berprestasi dan berwawasan luas, serta berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan selalu menjaga kedamaian dan persatuan,” tegas Bupati. Pesan ini bukan hanya ajakan, melainkan cetak biru bagi peran santri di masa depan. Lebih lanjut, Setyo Wahono juga mengingatkan pentingnya merawat kerukunan dan persatuan, mewujudkan semangat hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) melalui tindakan nyata. “Menjaga persatuan, merawat kerukunan dan membangun negeri merupakan tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya, menggarisbawahi tanggung jawab kolektif.
Untuk menambah semarak acara, panitia menyediakan ratusan hadiah yang dibagikan melalui undian kupon gratis. Hadiah utama yang paling dinanti adalah satu paket umrah gratis dari Kanufaza, unit bisnis PCNU Bojonegoro, yang menjadi daya tarik tersendiri. Namun, PCNU Bojonegoro tidak berhenti pada hadiah. Mereka juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk cek kadar gula darah, sebagai bagian dari upaya nyata mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kesehatan masing-masing. Ini menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang pelayanan dan kepedulian.
Di bawah terik matahari Bojonegoro yang hangat, ribuan langkah kaki bersarung itu meninggalkan jejak bukan hanya di aspal kampus, melainkan juga di hati masyarakat. Jalan Sehat Bersarung PCNU Bojonegoro ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah manifestasi komitmen Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi, mendorong kesehatan, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan semangat persatuan serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Sebuah perayaan Hari Santri yang tak hanya meriah, namun juga kaya akan pesan dan harapan.












