Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Retaknya Ikatan Darah: Kisah Tragis Cekcok Keluarga di Probolinggo Berujung Pembacokan

badge-check

Retaknya Ikatan Darah: Kisah Tragis Cekcok Keluarga di Probolinggo Berujung Pembacokan Perbesar

KlikMojok – Desa Kedungrejo, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, biasanya diselimuti ketenangan pedesaan, tempat kehidupan berputar dalam ritme yang pelan. Namun, pada suatu Senin yang nahas di bulan Oktober 2026, ketenangan itu pecah oleh riak emosi yang tak terkendali, menyeret dua generasi dalam satu ikatan darah ke jurang kekerasan. Sebuah cekcok keluarga yang awalnya hanya adu mulut, tiba-tiba menjelma menjadi insiden berdarah ketika Ares, seorang kakek berusia 73 tahun, diduga mengayunkan sabit ke arah cucunya sendiri, Rohman Soleh, 32 tahun, melukai pelipisnya hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa memilukan ini bukan sekadar insiden kekerasan biasa; ia adalah cerminan rapuhnya batas kesabaran dan pentingnya komunikasi dalam sebuah keluarga, bahkan di antara mereka yang terikat tali darah paling dekat. Konflik yang berawal dari perselisihan antara Tima, istri Ares, dan Asifa, istri Rohman, menunjukkan bagaimana percikan kecil emosi dapat dengan cepat menyulut api besar yang membakar keharmonisan.

Ketika Asifa mengadukan pertengkaran itu kepada suaminya, Rohman, benih ketegangan baru pun tertanam. Rohman, yang mungkin merasa perlu membela istrinya, mendatangi Ares yang saat itu sedang berada di kandang sapi, mencari rumput, seolah-olah hendak menyelesaikan masalah. Namun, pertemuan itu justru memicu ledakan emosi yang tak terduga. Menurut keterangan AKP Agus Eko Widodo, Kapolsek Bantaran, korban sempat melontarkan kata-kata kasar yang membuat Ares, sang kakek, naik pitam. Kata-kata pedas itu, yang mungkin tak tertahan lagi oleh beban usia dan emosi yang memuncak, menjadi pemicu bagi Ares untuk mengayunkan sabit yang sedianya digunakan untuk mencari pakan ternak.

Dalam kondisi emosi yang membara, Ares diduga mengayunkan sabit ke arah cucunya satu kali. Senjata tajam itu mengenai pelipis Rohman, meninggalkan luka yang menganga. “Korban terluka dan dilarikan ke Puskesmas Bantaran untuk mendapat penanganan medis. Kemudian, dirujuk ke RSUD dr. Mohamad Saleh,” kata Agus, mengonfirmasi kondisi korban pada Sabtu (17/10/2026) petang melalui pesan singkat. Luka tersebut mengharuskan Rohman menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit, sebuah konsekuensi pahit dari perselisihan yang tak terkendali.

Insiden ini segera menarik perhatian pihak berwajib. Kasi Humas Polres Probolinggo, Ipda Widy Purwa Apriyantoro, menjelaskan bahwa anggota Polsek Bantaran telah bergerak cepat menangani kasus dugaan penganiayaan ini. Terduga pelaku, Ares, telah diamankan ke Mapolres Probolinggo sejak Selasa (13/10/2026), sehari setelah kejadian. “Sementara terduga pelaku telah kami amankan ke Mapolres Probolinggo sejak Selasa (13/10),” ujar Ipda Widy. Untuk memperkuat proses penyidikan, polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi mata dan menyita sebilah sabit yang diduga digunakan dalam aksi pembacokan tersebut sebagai barang bukti krusial. “Penyidikan masih berlanjut sesuai peraturan,” tegas Widy, menunjukkan keseriusan pihak kepolisian dalam mengungkap tuntas rangkaian kejadian ini.

Kasus ini tidak hanya menjadi catatan hitam dalam sejarah keluarga di Kedungrejo, tetapi juga sebuah pengingat keras bagi kita semua tentang betapa krusialnya pendidikan emosi dan penyelesaian konflik dalam lingkungan keluarga. Ketika ikatan darah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan justru retak oleh amarah dan salah paham, tragedi seperti ini bisa terjadi. Ia menyoroti urgensi untuk menanamkan nilai-nilai kesabaran, empati, dan komunikasi yang sehat sejak dini, agar perselisihan, sekecil apa pun, tidak lagi berujung pada kekerasan yang meninggalkan luka fisik dan batin yang mendalam, menghancurkan fondasi keluarga yang seharusnya kokoh.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menuju Keabadian, Bukan Tribun: Kisah Pilu Empat Suporter PSS Sleman yang Berpulang di Jalan Tol

19 Okt 2026 - 09:44 WIB

Menuju Keabadian, Bukan Tribun: Kisah Pilu Empat Suporter PSS Sleman yang Berpulang di Jalan Tol

Jejak Digital Para Pelajar: Memahami Risiko Viral dan Jerat UU ITE di Era Media Sosial

19 Okt 2026 - 09:43 WIB

Jejak Digital Para Pelajar: Memahami Risiko Viral dan Jerat UU ITE di Era Media Sosial

Aisyiyah Krian Selaraskan Pendidikan Spiritual dan Sosial Lewat Dakwah Berbagi Sayur Mayur

19 Okt 2026 - 09:43 WIB

Aisyiyah Krian Selaraskan Pendidikan Spiritual dan Sosial Lewat Dakwah Berbagi Sayur Mayur

Psikologi Dakwah dalam Simulasi Mubaligat Aisyiyah Sidoarjo: Strategi Menjangkau Mad’u Tepat Sasaran

19 Okt 2026 - 09:42 WIB

Psikologi Dakwah dalam Simulasi Mubaligat Aisyiyah Sidoarjo: Strategi Menjangkau Mad’u Tepat Sasaran

Jalan Pulang yang Tak Pernah Tiba: Kisah Pilu 4 Suporter PSS Sleman dalam Kecelakaan Tol Madiun

19 Okt 2026 - 06:13 WIB

Jalan Pulang yang Tak Pernah Tiba: Kisah Pilu 4 Suporter PSS Sleman dalam Kecelakaan Tol Madiun
Trending di Pendidikan