Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Reaktualisasi Pemikiran Hamka & Za’Ba: Dosen Uhamka Angkat Strategi Adaptasi untuk Generasi Muda

badge-check

Reaktualisasi Pemikiran Hamka & Za’Ba: Dosen Uhamka Angkat Strategi Adaptasi untuk Generasi Muda Perbesar

KlikMojok – Pada pertengahan September 2026, Dr. Abdul Rahman Jupri, M.Pd., seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), menjadi pembicara utama dalam sebuah seminar internasional di Seremban, Malaysia. Ia membahas pentingnya reaktualisasi pemikiran tokoh intelektual besar Hamka dan Za’Ba, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan cara generasi muda mengonsumsi informasi dan membaca, guna memastikan warisan gagasan mereka tetap relevan.

Seminar yang bertajuk “Wacana Pemikiran, Warisan dan Relevansi Sejagat” ini diselenggarakan oleh Lembaga Muzium Negeri Sembilan di Hotel Royal Chulan, Seremban, pada tanggal 14 hingga 15 September 2026. Dalam forum tersebut, Dr. Abdul Rahman Jupri, yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Uhamka, mengambil peran sebagai salah satu pembicara yang menyoroti isu krusial ini.

Acara internasional ini berhasil mengumpulkan hampir 300 peserta dari berbagai negara serumpun, termasuk Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei. Mereka berdiskusi mendalam mengenai pemikiran, karya, serta warisan intelektual dari dua tokoh penting: Za’Ba, atau Zainal Abidin Ahmad, yang dikenal sebagai figur sentral dalam bahasa dan pemikiran Melayu, serta Hamka, atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Dalam presentasinya, Abdul Rahman secara spesifik mengangkat urgensi reaktualisasi pemikiran Hamka dan Za’Ba. Ia menekankan bahwa hal ini menjadi semakin vital di tengah pergeseran ekologi membaca yang terjadi pada generasi muda, baik di Indonesia maupun Malaysia.

Menurutnya, upaya pewarisan pemikiran kedua tokoh tersebut tidak akan cukup hanya dengan memastikan karya-karya mereka selalu tersedia. Dibutuhkan langkah-langkah strategis yang secara khusus disesuaikan dengan karakteristik serta kebiasaan generasi muda dalam mencari dan memperoleh informasi.

“Reaktualisasi sastra Hamka perlu dilakukan untuk mewariskan pemikiran Hamka kepada generasi muda. Saat ini, perlu dipikirkan sejauh mana generasi muda Indonesia dan Malaysia mengenal dua tokoh besar seperti Hamka dan Za’Ba,” ujar Abdul Rahman, menjelaskan perlunya pendekatan baru.

Ia lebih lanjut berpendapat bahwa pemikiran yang ditinggalkan oleh Hamka dan Za’Ba masih sangat relevan dan dapat menjadi sumber pembelajaran berharga mengenai nilai-nilai kehidupan yang fundamental.

“Pemikiran Hamka dan Za’Ba yang luar biasa perlu diwariskan kepada generasi muda agar dapat menjadi sumber pembelajaran nilai-nilai kehidupan. Untuk mewariskan pemikiran kedua tokoh tersebut tentu diperlukan strategi yang sesuai dengan karakteristik generasi muda,” lanjutnya, menegaskan kembali pentingnya adaptasi.

Pada pembukaan seminar, EXCO Pelancongan, Kesenian, Kebudayaan dan Warisan Negeri Sembilan, Datuk Razali Abu Samah, turut menyampaikan pandangannya. Mewakili Menteri Besar Negeri Sembilan, beliau menggarisbawahi urgensi penguatan peran Negeri Sembilan dalam upaya pemeliharaan, penelitian, dan pengembangan warisan budaya serta intelektual Nusantara.

Datuk Razali mengungkapkan harapannya untuk masa depan. “Saya mahu melihat Negeri Sembilan berkembang bukan sahaja sebagai negeri yang kaya dengan warisan budaya, tetapi juga mempunyai ekosistem ilmu yang kukuh dan tradisi intelektual yang dihormati. Kertas kerja perlu diterbitkan, hasil penyelidikan perlu didokumentasikan dan jaringan sarjana Nusantara perlu terus diperluas,” ujarnya, menyerukan peningkatan aktivitas akademik dan pelestarian.

Seminar ini juga menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti terkemuka dari Indonesia dan Malaysia. Mereka meliputi Prof. Susanto Zuhdi dari Universitas Indonesia, Prof. Silvia Rosa dari Universitas Andalas, Dr. Shakila dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Prof. Madya Dr. Karim Harun dari Universiti Kebangsaan Malaysia, serta Dr. Abdul Karim dari Institut Pendidikan Guru Kampus Raja Melewar Malaysia.

Selain sesi diskusi akademik yang intens, penyelenggara seminar juga menyelenggarakan pameran manuskrip dan dokumentasi yang menampilkan warisan Za’Ba dan Hamka.

Melalui pameran tersebut, para peserta berkesempatan untuk melihat lebih dekat jejak karya serta kontribusi monumental kedua tokoh ini terhadap perkembangan pemikiran, bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu-Nusantara secara keseluruhan.

Pertemuan selama dua hari tersebut tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga ruang dialog penting bagi para akademisi dari berbagai negara serumpun. Pemikiran Za’Ba dan Hamka tidak hanya dibahas sebagai peninggalan sejarah semata, melainkan juga sebagai gagasan yang terus-menerus dikaji dan dicari relevansinya bagi kehidupan generasi sekarang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jilatan Api di Ladang Tebu Lumajang: Kisah Pilu Petani Melawan Bahaya Pekerjaan

22 Sep 2026 - 18:49 WIB

Jilatan Api di Ladang Tebu Lumajang: Kisah Pilu Petani Melawan Bahaya Pekerjaan

Bisikan Sunyi Brantas: Jejak Tak Bernama Mayat Perempuan di Bendungan Waruturi Kediri

22 Sep 2026 - 18:48 WIB

Bisikan Sunyi Brantas: Jejak Tak Bernama Mayat Perempuan di Bendungan Waruturi Kediri

Ketika Obat Nyamuk Menjelma Bara: Pelajaran Penting dari Kebakaran Rumah di Gresik

22 Sep 2026 - 15:20 WIB

Ketika Obat Nyamuk Menjelma Bara: Pelajaran Penting dari Kebakaran Rumah di Gresik

Jejak Asap di Tidar: Tragedi Kebakaran Warung Madura Malang dan Pelajaran Keselamatan yang Mahal

22 Sep 2026 - 15:19 WIB

Jejak Asap di Tidar: Tragedi Kebakaran Warung Madura Malang dan Pelajaran Keselamatan yang Mahal

Jejak Syekh Ibrahim Al-Madani: Kisah Muazin Masjidilharam dan Suara Fajar yang Abadi

22 Sep 2026 - 15:18 WIB

Jejak Syekh Ibrahim Al-Madani: Kisah Muazin Masjidilharam dan Suara Fajar yang Abadi
Trending di Pendidikan