KlikMojok – Perjalanan darat yang panjang dan penuh rintangan telah ditempuh oleh tim Lazismu Jawa Timur menuju wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Armada truk yang membawa logistik bantuan kemanusiaan bagi korban gempa Flores ini harus melalui jalan-jalan terjal dan menikung. Bahkan, beberapa kendaraan sempat mengalami kendala teknis dan tersendat akibat kondisi medan yang berat serta muatan yang signifikan.
Lebih dari sekadar mengangkut barang bantuan, ekspedisi ini membawa amanah besar dari para donatur. Di balik setiap kilometer perjalanan yang ditempuh dari Jawa Timur menuju Flores, NTT, tersimpan harapan agar warga yang terdampak gempa dapat segera menerima pertolongan yang sangat dibutuhkan.
Medan yang harus dilalui oleh tim relawan bukanlah jalur biasa. Jalanan yang berliku tajam, tanjakan yang curam, dan turunan yang sangat panjang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang bertugas mengantar bantuan logistik untuk para korban gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) di Flores, NTT.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, melalui lembaga amil zakat infak sedekah Muhammadiyah (Lazismu), menginisiasi pengiriman bantuan kemanusiaan ini. Bantuan tersebut difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang terdampak bencana alam.
Secara resmi, pelepasan armada bantuan ini dilaksanakan di halaman PT Hesheng Plastic Industri pada Rabu, 16 September 2026 yang lalu.
Sebanyak tiga unit truk Fuso dan satu truk Colt diesel diberangkatkan, mengangkut beragam kebutuhan esensial. Muatan tersebut meliputi terpal yang akan digunakan sebagai hunian darurat, air mineral, mi instan, family kit, serta Rendangmu yang merupakan titipan khusus dari Lazismu Pusat.
Secara lebih rinci, bantuan yang diangkut terdiri dari 2.200 lembar terpal, 1.100 dus air mineral kemasan 1.500 ml, 520 dus mi instan, dan 200 box Rendangmu. Selain itu, terdapat pula bantuan tambahan berupa sembako yang merupakan titipan dari Lazismu Sumatera Barat, torn air dari Jasa Tirta, serta berbagai titipan lain dari Lazismu kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.
Ahmad Saifu, Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur Bidang Pendayagunaan dan Pendistribusian, menjelaskan bahwa proses persiapan pengiriman bantuan ini memakan waktu sekitar satu pekan. Waktu tersebut diperlukan untuk melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk para donatur. “Alhamdulillah atas doa-doa para donatur yang telah mengamanahkan kepada Lazismu, perjalanan dilancarkan oleh Allah Swt. Meskipun masih ada kendala-kendala kecil,” ujar Mamak, sapaan akrabnya.
Menurut Mamak, tantangan yang paling signifikan justru muncul saat armada bantuan mulai memasuki wilayah NTT. Kondisi medan yang sangat berat di sana membuat waktu tempuh perjalanan menjadi lebih panjang dari perkiraan. “Medannya memang luar biasa berat. Dibutuhkan waktu kurang lebih 15 jam untuk sampai di Pos Layanan Reo,” katanya.
Meskipun demikian, perjalanan panjang yang penuh kesulitan tersebut terasa lebih ringan berkat kekompakan luar biasa dari tim relawan. Bahkan, hujan yang sempat turun dan jalur yang terus-menerus naik-turun tidak sedikit pun menyurutkan semangat mereka.
“Kebersamaan dan kekompakan tim relawan luar biasa. Sesulit apa pun medan yang dilewati terasa lebih ringan dan mudah,” ungkap Mamak, menggambarkan suasana tim di lapangan.
Baginya, momen yang paling mengharukan bukanlah sekadar saat kendaraan berhasil tiba di lokasi, melainkan ketika melihat bantuan tersebut akan segera diterima oleh masyarakat yang sangat membutuhkan. “Sedih, prihatin, terharu, menangis, sekaligus bahagia ketika bantuan sudah tiba di tujuan supaya segera bisa dibagikan,” tuturnya dengan penuh perasaan.
Mamak menegaskan bahwa pengiriman bantuan ini bukan hanya sekadar proses distribusi logistik. Ia merupakan wujud nyata dari kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan Muhammadiyah Jawa Timur terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Melalui gerakan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Muhammadiyah secara konsisten berupaya memastikan bahwa kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.
“Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga beban psikologis bagi masyarakat. Kehadiran relawan dan bantuan ini menjadi pesan bahwa mereka tidak sendiri,” jelasnya, menekankan pentingnya dukungan moral bagi korban.
Perjalanan panjang yang menantang menuju NTT ini juga turut dirasakan langsung oleh Agus Hilda Laksana, seorang relawan Muhammadiyah yang berasal dari Lumajang dan ikut serta mengawal pengiriman bantuan.
Agus menceritakan bahwa kondisi kendaraan sempat menjadi tantangan serius, mengingat jalur yang dilalui sangat berbeda dengan perjalanan rutin biasa. “Sebetulnya muatan truk dari Jawa Timur masih normal. Namun karena sopir belum pernah melewati jalur NTT yang tikungannya curam serta tanjakan dan turunannya ekstrem, akhirnya sebagian muatan harus dikurangi,” jelas Agus mengenai penyesuaian yang harus dilakukan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, sekitar 175 karton bantuan kemudian dipindahkan ke kendaraan Hilux, demi memastikan perjalanan tetap aman dan lancar. “Kami akhirnya berani mengawal sampai Posyan Reo. Sisanya diturunkan di Poskorda Manggarai Barat,” katanya.
Agus merinci jadwal kedatangan armada. Kendaraan pertama berhasil tiba di Reo pada hari Rabu, 23 September 2026. Sementara itu, kendaraan Fuso menyusul sehari kemudian, yakni pada Kamis, 24 September 2026.
Namun, tidak semua armada berjalan mulus. Perjalanan beberapa kendaraan lainnya masih menghadapi kendala teknis. Salah satu kendaraan mengalami masalah pada sistem rem, sementara kendaraan lain mengalami kerusakan pada kopling, yang mengharuskan perbaikan selama beberapa hari di Lombok.
“Yang satu masih perbaikan rem dan tertahan di Pelabuhan Sape untuk menyeberang menuju Bajo. Mohon doanya semoga diberikan kelancaran dan kesehatan untuk semua relawan,” harap Agus, memohon dukungan doa untuk kelancaran tim.
Bagi Agus, perjalanan kemanusiaan ini memberikan banyak pelajaran berharga. Ia menyadari bahwa bantuan yang mungkin terlihat sederhana di mata sebagian orang, pada kenyataannya membutuhkan perjuangan yang sangat panjang dan berat agar bisa sampai kepada tangan penerima yang membutuhkan.
“Amanah ini harus dijaga. Kita belajar untuk selalu bersyukur,” ujarnya, merefleksikan pentingnya menjaga kepercayaan dan menghargai setiap upaya.
Dari Jawa Timur menuju NTT, armada-armada tersebut membawa lebih dari sekadar logistik. Di dalamnya terkandung kepedulian tulus dari para donatur, kerja keras tanpa lelah dari para relawan, dan sebuah pesan kemanusiaan yang kuat: bahwa dalam setiap musibah, akan selalu ada tangan-tangan yang berusaha hadir untuk memberikan bantuan.
Bagi Muhammadiyah, upaya membantu mereka yang sedang berada dalam kesulitan bukanlah semata-mata kegiatan sosial biasa. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan bagian integral dari pengamalan nilai-nilai Al-Ma’un, yaitu menghadirkan manfaat yang nyata bagi sesama.












