Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Membangun Perspektif Futuristik: Peran Strategis Perempuan Nasyiatul Aisyiyah dalam Pembangunan Berkelanjutan

badge-check

Membangun Perspektif Futuristik: Peran Strategis Perempuan Nasyiatul Aisyiyah dalam Pembangunan Berkelanjutan Perbesar

KlikMojok – Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Dr. Lia Istifhama, M.E.I., seorang anggota DPD RI periode 2024-2029 asal Jawa Timur, menjadi salah satu pembicara kunci dalam Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Acara yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga platform strategis untuk pemberdayaan perempuan muda.

Kegiatan ini secara spesifik bertujuan untuk mendorong gerakan perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah menuju terwujudnya Jawa Timur yang berkelanjutan. Pembahasan utama berfokus pada bagaimana seharusnya peran strategis seorang perempuan, khususnya dalam lingkup Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur, dapat menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan.

Dalam paparannya di Expotorium Umpo, Lia Istifhama menegaskan adanya islamisasi dalam keilmuan, di mana filsafat ilmu yang berkembang turut menyentuh teori sosial. Ia menggarisbawahi pentingnya cara pandang ini dalam konteks peran perempuan.

“Perempuan harus senantiasa berpikir futuristik, zaman selalu berubah. Perempuan harus mampu membangun perspektif kepemimpinan melalui akronim dari kata perempuan itu sendiri. Yakni personalia, empathy, responsibility, equiety, motivation, positivity, universal, analiticlal, dan negotiation,” ujarnya, menekankan kualitas yang harus dimiliki pemimpin perempuan.

Lia Istifhama melanjutkan penjelasannya mengenai perkembangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia yang menuju visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, visi ini sangat erat kaitannya dengan empat aspek mendesak, yaitu lingkungan hidup yang kondusif, menjadikan sekolah sebagai sosial inklusif, ekonomi yang berkelanjutan, dan kemitraan global. Ia melihat Nasyiatul Aisyiyah memiliki potensi besar untuk bersinergi dengan baik dalam mewujudkan keempat aspek tersebut.

Ia juga menyinggung peradaban keilmuan yang sejatinya telah ada sejak bangsa Islam pada abad ke-17. Lia sangat menekankan kepada seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur untuk mengambil peran aktif, sebab perempuan memiliki peran krusial dalam kehidupan. Kekuatan ini, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi sebuah bendera yang kuat, mampu memengaruhi generasi muda agar memiliki nilai-nilai luhur.

“Sebagai muslim kita harus bangga dan juga terus semangat belajar ketika fasilitas kita miliki. Sebagaimana teori strategi bahwa bagaimana cara berpikir bukan apa yang dipikirkan untuk sebuah strategi. Strategi adalah tentang masa depan, yang mana masa depan sendiri adalah ketika strategi itu berdampak,” jelas Lia, mendorong semangat belajar dan berpikir strategis.

Ketika membahas bagaimana menjaga keberlanjutan pembangunan, Lia Istifhama memberikan paparan yang sangat relevan dengan dunia kekinian para pemuda, termasuk kader Nasyiatul Aisyiyah. Ia menyarankan pemanfaatan ruang digital dengan mengandalkan media sosial sebagai alat utama.

“Mengapa? Karena generasi saat ini sangat mudah beradaptasi dengan teknologi. Aktifitas intinya menkonvergensikan tiga sektor industri yaitu computing, communication, dan content. Dan secara simultan mampu menggali manfaat dari digital dalam hal mengetahui preferensi,” paparnya, menjelaskan efektivitas media digital.

Pembangunan berkelanjutan, lanjutnya, didefinisikan sebagai proses memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Ini adalah prinsip dasar yang harus dipegang teguh.

Ia juga menjelaskan bahwa pembangunan merupakan sistem multi dimensi. Implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) adalah langkah awal yang esensial dalam menyamakan pemahaman dan secara sistematis meningkatkan kesejahteraan global.

“Ada 17 tujuan SDGs yaitu kemiskinan, makanan, kesehatan, pendidikan, generasi, air, energi, ekonomi, infrastruktur, inequality, perkotaan, produksi berkelanjutan, iklim, laut, perbedaan, institusi dan implementasi,” urainya, merinci target-target global tersebut.

Fokus pembangunan berkelanjutan telah bergeser dari pendekatan ekonomi semata menuju pendekatan yang lebih holistik. Pendekatan ini mencakup manusia, planet, kemakmuran, perdamaian, dan kemitraan demi mencapai kesejahteraan global yang adil dan berkemajuan.

Pembangunan berkelanjutan secara fundamental mengembangkan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk menjamin kesejahteraan generasi sekarang dan juga generasi mendatang. Ini juga merupakan transisi penting dari Millenium Development Goals (MDGs) yang memiliki 8 tujuan dan 18 target, menjadi Sustainable Development Goals (SDGs) dengan 17 tujuan dan 169 target yang lebih komprehensif.

“Prinsip SDGs atau TPB (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) mengedepankan integritas, universal, dan tak ada satupun yang tertinggal. Dengan tetap memperhatikan peran para pemangku kepentingan, yaitu pemerintah dan parlemen, akademisi dan pakar, serta ormas dan media,” jelasnya, menegaskan inklusivitas dan kolaborasi dalam pencapaian SDGs.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Di Balik Pipa Bocor Panjang Jiwo: Pelajaran Kesiapan Warga Surabaya Selatan Menghadapi Gangguan Air PDAM

17 Okt 2026 - 18:47 WIB

Di Balik Pipa Bocor Panjang Jiwo: Pelajaran Kesiapan Warga Surabaya Selatan Menghadapi Gangguan Air PDAM

Ketika Senandung Malam Terhenti di Trotoar: Kisah Kelelahan dan Roda Penyanyi Dangdut Tulungagung

17 Okt 2026 - 18:46 WIB

Ketika Senandung Malam Terhenti di Trotoar: Kisah Kelelahan dan Roda Penyanyi Dangdut Tulungagung

Pelatihan IMAM Muhammadiyah Lumajang Tekankan Tiga Kriteria Penting Takmir Masjid: Pinter, Bener, Kober

17 Okt 2026 - 18:45 WIB

Pelatihan IMAM Muhammadiyah Lumajang Tekankan Tiga Kriteria Penting Takmir Masjid: Pinter, Bener, Kober

Fajar yang Membara di Madiun: Saat 13 Ribu Anak Ayam Jadi Abu, Harapan Peternak Luluh Lantak

17 Okt 2026 - 15:19 WIB

Fajar yang Membara di Madiun: Saat 13 Ribu Anak Ayam Jadi Abu, Harapan Peternak Luluh Lantak

Jejak Kebangsaan di Tebuireng: Kapolri Ziarah Gus Dur, Merajut Sinergi Ulama dan Umara

17 Okt 2026 - 15:18 WIB

Jejak Kebangsaan di Tebuireng: Kapolri Ziarah Gus Dur, Merajut Sinergi Ulama dan Umara
Trending di Pendidikan