Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Pelatihan IMAM Muhammadiyah Lumajang Tekankan Tiga Kriteria Penting Takmir Masjid: Pinter, Bener, Kober

badge-check

Pelatihan IMAM Muhammadiyah Lumajang Tekankan Tiga Kriteria Penting Takmir Masjid: Pinter, Bener, Kober Perbesar

KlikMojok – Takmir masjid di Lumajang, Jawa Timur, kini semakin menyadari pentingnya memiliki pengurus yang memenuhi kriteria ‘pinter’, ‘bener’, dan ‘kober’ demi memakmurkan tempat ibadah. Tiga kriteria fundamental ini menjadi fokus utama dalam pelatihan Institut Manajemen dan Administrasi Masjid (IMAM) Muhammadiyah yang diselenggarakan di Masjid Ar-Rahmah Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu hingga Ahad, 17–18 Oktober 2026.

Pelatihan yang mengusung tema ‘Memakmurkan Masjid, Mencerahkan Umat’ ini berhasil menarik perhatian 40 peserta. Mereka merupakan perwakilan dari 18 masjid Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Kabupaten Lumajang, serta lima peserta lainnya yang berasal dari Kabupaten Pasuruan. Acara penting ini merupakan kolaborasi antara Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PDM Lumajang dengan LPCRPM PWM Jawa Timur.

Sejak pagi pukul 08.00 WIB, para peserta antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kapabilitas mereka dalam mengelola masjid. Selain bertujuan untuk memperluas wawasan mengenai manajemen masjid yang efektif, kegiatan ini juga berfungsi sebagai platform silaturahmi yang berharga bagi para takmir. Di forum ini, mereka dapat saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan masjid di daerah masing-masing.

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua Takmir Masjid Ar-Rahmah Pasirian, Gatot Sujono, menyambut kehadiran seluruh peserta dengan suasana penuh kehangatan dan keakraban. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan ‘ahlan wa sahlan’ atau selamat datang kepada seluruh pengurus masjid yang telah hadir.

Gatot Sujono mengungkapkan harapannya yang besar agar masjid-masjid di berbagai daerah tidak hanya terlihat megah dari segi fisik bangunannya. Lebih dari itu, ia menekankan bahwa masjid harus benar-benar makmur, dicintai oleh seluruh jemaah, dan berfungsi sebagai pusat kegiatan utama bagi umat Islam.

Menurut Gatot, kemakmuran sebuah masjid tidak akan terwujud tanpa keterlibatan pengelola yang memiliki komitmen tinggi dan kemampuan yang memadai. Oleh karena itu, pelatihan IMAM Muhammadiyah ini dipandang sebagai kesempatan emas bagi para takmir untuk tidak hanya meningkatkan kapasitas mereka dalam manajemen, tetapi juga untuk memperkuat semangat dakwah yang menjadi inti dari peran masjid.

Suasana pelatihan semakin hangat dan akrab ketika Gatot Sujono memberikan kejutan kuliner istimewa bagi para peserta. Panitia telah menyiapkan hidangan sate dan gulai kambing yang lezat, menambah kebersamaan selama sesi pelatihan berlangsung.

Meski demikian, Gatot juga tak lupa menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam pelayanan dan jamuan yang diberikan oleh panitia. Ia kemudian menutup sambutannya dengan sebuah pantun yang berhasil mengundang senyum dan tawa dari para peserta yang hadir:

“Kalau ada gelas yang pecah, jangan tuangkan minuman kopi.
Kalau ada tutur kata yang salah, mohon tidak dimasukkan ke dalam hati.”

Dalam sesi presentasi mengenai profil Masjid Ar-Rahmah, Gatot Sujono secara khusus menjelaskan betapa krusialnya memilih individu yang tepat untuk menggerakkan berbagai kegiatan di masjid. Ia secara tegas menyoroti dan menekankan tiga kriteria utama yang harus dimiliki oleh takmir, yaitu ‘pinter’, ‘bener’, dan ‘kober’.

Kriteria pertama adalah ‘pinter’ atau cerdas. Seorang takmir dituntut untuk memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengelola administrasi masjid, merancang program-program yang inovatif, serta menjalankan manajemen masjid secara profesional. Dengan bekal kemampuan tersebut, pengelola dapat menyusun dan melaksanakan kegiatan yang relevan serta sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi jemaah.

Kriteria kedua adalah ‘bener’ atau jujur dan amanah. Pengelola masjid harus senantiasa menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh umat. Selain itu, mereka wajib menunjukkan integritas dan tanggung jawab penuh dalam mengelola dana, fasilitas, dan berbagai program yang dilaksanakan oleh masjid. Kejujuran adalah pondasi utama dalam pengelolaan aset umat.

Kriteria ketiga adalah ‘kober’ atau memiliki waktu dan kepedulian. Gatot menjelaskan bahwa kemampuan dan kejujuran saja belum cukup untuk memakmurkan masjid. Takmir juga harus bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk secara aktif menghidupkan dan menjalankan kegiatan masjid, di tengah berbagai kesibukan sehari-hari yang mungkin mereka miliki.

Gatot Sujono menegaskan bahwa ketiga kriteria tersebut saling melengkapi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Ia memberikan contoh, takmir yang cerdas namun tidak memiliki integritas berisiko tinggi menyalahgunakan kepercayaan jemaah. Sebaliknya, individu yang jujur tetapi tidak memiliki waktu dan komitmen yang cukup akan kesulitan dalam menjalankan program-program masjid secara optimal.

Oleh karena itu, proses pemilihan takmir masjid harus mempertimbangkan secara matang aspek kemampuan, integritas, dan kesediaan mereka untuk mengabdi. Dengan pendekatan ini, masjid diharapkan akan memiliki tim pengelola yang solid dan mampu menjalankan amanah dengan baik, sekaligus mengembangkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar.

Melalui pelatihan IMAM Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh LPCRPM ini, para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan pengetahuan manajemen yang telah mereka peroleh ke dalam pengelolaan masjid masing-masing. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi antar takmir.

Selain itu, mereka diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antartakmir untuk bersama-sama membangun masjid sebagai pusat yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan pengelolaan yang profesional dan digerakkan oleh individu-individu yang berkomitmen, masjid Muhammadiyah tidak hanya akan menjadi sekadar tempat salat. Lebih dari itu, masjid dapat berkembang menjadi pusat peradaban yang mencerahkan seluruh umat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Di Balik Pipa Bocor Panjang Jiwo: Pelajaran Kesiapan Warga Surabaya Selatan Menghadapi Gangguan Air PDAM

17 Okt 2026 - 18:47 WIB

Di Balik Pipa Bocor Panjang Jiwo: Pelajaran Kesiapan Warga Surabaya Selatan Menghadapi Gangguan Air PDAM

Ketika Senandung Malam Terhenti di Trotoar: Kisah Kelelahan dan Roda Penyanyi Dangdut Tulungagung

17 Okt 2026 - 18:46 WIB

Ketika Senandung Malam Terhenti di Trotoar: Kisah Kelelahan dan Roda Penyanyi Dangdut Tulungagung

Membangun Perspektif Futuristik: Peran Strategis Perempuan Nasyiatul Aisyiyah dalam Pembangunan Berkelanjutan

17 Okt 2026 - 18:44 WIB

Membangun Perspektif Futuristik: Peran Strategis Perempuan Nasyiatul Aisyiyah dalam Pembangunan Berkelanjutan

Fajar yang Membara di Madiun: Saat 13 Ribu Anak Ayam Jadi Abu, Harapan Peternak Luluh Lantak

17 Okt 2026 - 15:19 WIB

Fajar yang Membara di Madiun: Saat 13 Ribu Anak Ayam Jadi Abu, Harapan Peternak Luluh Lantak

Jejak Kebangsaan di Tebuireng: Kapolri Ziarah Gus Dur, Merajut Sinergi Ulama dan Umara

17 Okt 2026 - 15:18 WIB

Jejak Kebangsaan di Tebuireng: Kapolri Ziarah Gus Dur, Merajut Sinergi Ulama dan Umara
Trending di Pendidikan