Menu

Mode Gelap
Menganalisis Langkah Google: Produksi Pixel Pindah ke Vietnam & India Melihat Era Baru Robotika di WRC Beijing 2026: Bukan Sekadar Tontonan Futuristik Peran Krusial Ibu di Era Digital: Ngaji Bareng Ikwam SD Al Islam Cerme Bekali Wali Murid Ilmu Pengasuhan Duta Bangsa di Kancah Global: 54 Mahasiswa PENS Ikuti Mobilitas Internasional ke Cina dan Taiwan Kolaborasi Tanggap Bencana: Lazismu Jatim Distribusikan Bantuan Gempa NTT via Kapal TNI AL Misi Strategis Dewan Kebudayaan Gresik 2026-2029: Mengawal Identitas Budaya di Tengah Modernisasi

Pendidikan

Peran Krusial Ibu di Era Digital: Ngaji Bareng Ikwam SD Al Islam Cerme Bekali Wali Murid Ilmu Pengasuhan

badge-check


					Peran Krusial Ibu di Era Digital: Ngaji Bareng Ikwam SD Al Islam Cerme Bekali Wali Murid Ilmu Pengasuhan Perbesar

KlikMojok – Kegiatan Ngaji Bareng yang diselenggarakan oleh Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Al Islam Cerme menjadi wadah penting bagi para ibu wali murid untuk memperdalam ilmu sekaligus memperkuat peran mereka dalam pengasuhan anak. Acara rutin ini kembali diadakan pada Jumat, 21 Agustus 2026, di Cerme, Gresik, untuk membahas bagaimana ibu dapat memahami tantangan pengasuhan anak melalui ilmu, komunikasi, keteladanan, dan kekuatan doa.

Bertempat di Masjid Sabilil Muttaqin, yang berlokasi di depan Perguruan Muhammadiyah Cerme, sekitar 50 ibu wali murid turut serta dalam kajian tersebut. Mereka fokus menyimak materi yang mengangkat tema krusial: “Kewajiban Menuntut Ilmu: Ibu Cerdas, Anak Berkualitas”.

Suasana diskusi dalam kajian ini terasa sangat hangat dan interaktif. Para ibu tidak hanya pasif mendengarkan pemaparan materi, melainkan juga diajak untuk merefleksikan kembali peran fundamental mereka di dalam lingkungan keluarga.

Kajian yang mencerahkan ini dipandu langsung oleh Ustazah Siti Fatimah, yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SD Al Islam Cerme.

Ustazah Siti Fatimah memulai pertemuan dengan mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7, yang menegaskan janji akan bertambahnya nikmat bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Dari landasan syukur tersebut, pembahasan kajian kemudian beralih ke isu-isu yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari para ibu. Salah satu poin utama yang disoroti adalah berbagai tantangan yang dihadapi seorang ibu dalam mendampingi tumbuh kembang anak di era digital yang serba cepat ini.

Konsep bahwa ibu adalah “madrasah ula” atau sekolah pertama dan utama bagi anak menjadi inti pembahasan dalam kegiatan ngaji bareng ini. Oleh karena itu, sangat ditekankan bahwa seorang ibu harus senantiasa belajar dan beradaptasi untuk menghadapi dinamika serta perubahan zaman yang terus berlangsung.

Anak-anak memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap sosok ibu mereka. Rumah menjadi lingkungan awal di mana anak mulai mengenal berbagai nilai kehidupan, mempelajari bahasa, membentuk sikap, serta merasakan kasih sayang yang tulus.

Akan tetapi, realitas dunia anak saat ini berkembang dengan kecepatan yang jauh melampaui masa lalu. Kemajuan teknologi telah menyajikan berbagai jenis informasi yang belum tentu mudah untuk disaring dan dipahami secara bijak oleh anak-anak.

Ustazah Fatimah mengidentifikasi anak-anak di masa kini sebagai “generasi stroberi”. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan generasi yang memiliki kreativitas tinggi, namun di sisi lain, juga rentan terhadap berbagai bentuk tekanan.

“Dunia anak-anak kita hari ini sangat berbeda dengan dunia zaman dulu,” ungkap Fatimah, menekankan perbedaan signifikan antara generasi sekarang dengan generasi sebelumnya.

Menurut penuturannya, sangat penting bagi seorang ibu untuk memahami perkembangan zaman secara mendalam agar tetap dapat mendampingi anak-anaknya dengan efektif. Jika pemahaman ini kurang, dikhawatirkan akan terjadi pelebaran jarak komunikasi antara anak dan orang tua.

Oleh karena itu, ibu dituntut untuk mampu menjalankan beberapa peran secara simultan. Seorang ibu harus bisa menjadi teman, seorang guru, dan juga menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbagi cerita dan perasaan.

Di samping peran tersebut, kualitas komunikasi sehari-hari juga memerlukan perhatian khusus. Penggunaan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang terbukti mampu menjaga perasaan anak serta membangun fondasi kepercayaan yang kuat.

Sebaliknya, ucapan yang bersifat menyakitkan atau melukai berpotensi meninggalkan bekas luka yang mendalam dan berkepanjangan pada jiwa anak. Dengan demikian, rumah harus diupayakan menjadi lingkungan di mana rasa aman dan kehangatan dapat tumbuh dan berkembang.

Fatimah juga memberikan penekanan pada pentingnya menghargai setiap karya atau usaha yang dilakukan oleh anak. Ia menyarankan agar setiap pemberian sederhana dari anak diterima dengan senyum tulus dan ekspresi penghargaan yang jelas.

Melalui cara demikian, anak akan belajar memahami bahwa setiap usaha yang mereka lakukan memiliki makna dan nilai. Bentuk penghargaan ini juga berfungsi penting dalam menjaga dan meningkatkan rasa percaya diri anak.

Ilmu pengetahuan menjadi benang merah utama yang menghubungkan seluruh materi dalam kajian ini. Menuntut ilmu, menurut Fatimah, bukanlah sekadar kegiatan untuk mengumpulkan informasi atau menambah wawasan semata.

Fatimah menjelaskan bahwa seorang ibu perlu meluruskan niat dalam setiap aktivitas yang dikerjakan. Ia menekankan bahwa mengurus rumah tangga dan mendampingi anak bisa menjadi bagian integral dari praktik ibadah yang bernilai di sisi Allah.

Selanjutnya, ia memaparkan berbagai keutamaan menuntut ilmu yang bersumber dari tuntunan hadis Nabi Muhammad Saw.

Dijelaskan bahwa individu yang tekun mencari ilmu akan mendapatkan doa kebaikan dari para malaikat. Bahkan, seluruh makhluk di bumi ini disebut-sebut turut memohonkan ampunan bagi mereka yang berilmu.

Tidak hanya itu, Allah Swt juga menjanjikan kemudahan dalam menapaki jalan menuju keberkahan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

“Barangsiapa menginginkan kesuksesan dunia, ia harus dengan ilmu,” tambahnya, mengutip sebuah pepatah bijak.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ilmu bukan hanya kunci menuju kesuksesan di dunia, melainkan juga merupakan jalan menuju keberhasilan di akhirat. Bahkan, ilmu dianggap sebagai kunci utama bagi siapa saja yang mendambakan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat secara bersamaan.

Meskipun demikian, ilmu tidak dapat berdiri sendiri; ia memerlukan ‘teman perjalanan’. Dalam konteks kajian ini, doa diidentifikasi sebagai salah satu kekuatan vital yang harus dimiliki oleh seorang ibu.

Ustazah Fatimah mendorong para ibu untuk membiasakan diri memanjatkan doa setelah menunaikan salat. Selain itu, ia juga menganjurkan agar para ibu tidak ragu menyampaikan segala keluh kesah dan harapan mereka langsung kepada Allah Swt.

Di samping aspek spiritual, menjaga kebugaran fisik juga menjadi poin yang mendapat perhatian. Olahraga seperti berenang dan memanah diperkenalkan sebagai metode efektif untuk memelihara kesehatan tubuh.

Dengan demikian, dimensi pengasuhan anak tidak hanya terbatas pada upaya mendidik anak semata. Seorang ibu juga wajib merawat dan menjaga dirinya sendiri agar senantiasa memiliki kekuatan fisik dan mental untuk mendampingi seluruh anggota keluarga.

Memanfaatkan waktu dengan bijak menjadi pesan penting yang disampaikan pada sesi penutup kajian. Fatimah mengingatkan kembali hadis Rasulullah Saw mengenai pentingnya menghargai setiap kesempatan dalam hidup.

Pesan tersebut meliputi pentingnya memanfaatkan masa muda sebelum tiba masa tua, serta menghargai waktu sehat sebelum tubuh dihadapkan pada sakit.

Demikian pula, waktu luang harus dimanfaatkan sebelum kesibukan menghampiri. Ia menekankan bahwa hidup mesti dijalani dengan sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput.

Pesan-pesan tersebut, meskipun terdengar sederhana, sangat menyentuh realitas keseharian para ibu. Hal ini karena seringkali waktu mereka habis tersita oleh rutinitas rumah tangga yang berulang tanpa henti.

Oleh karena itu, setiap kesempatan untuk belajar menjadi sangat berharga. Melalui kegiatan seperti ini, para ibu tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga memperbarui perspektif dan cara pandang mereka terhadap peran dalam keluarga.

Di samping manajemen waktu dan menjaga kesehatan, para ibu juga dianjurkan untuk mengembangkan sifat pemurah. Disampaikan bahwa rezeki yang mereka peroleh bukanlah semata-mata milik pribadi.

Terdapat hak orang lain yang terkandung dalam rezeki yang telah diterima. Dengan membiasakan diri berbagi, keluarga dapat belajar memahami bahwa keberkahan tidak hanya terwujud dalam bentuk materi semata.

Pada akhirnya, kegiatan ngaji bareng yang diinisiasi oleh Ikwam SD Al Islam Cerme ini menjelma menjadi sebuah forum sederhana yang sarat dengan pesan-pesan mendalam dan relevan.

Di forum tersebut, para ibu kembali diingatkan dan diajak untuk belajar tentang pentingnya peran mereka sebagai pendamping utama bagi anak. Mereka juga diingatkan kembali bahwa fondasi keteladanan yang kuat bermula dari lingkungan rumah.

Alasannya, anak-anak mungkin saja melupakan banyak nasihat verbal yang diberikan. Namun, mereka cenderung sangat mengingat dan meniru apa yang setiap hari mereka saksikan dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, definisi ibu cerdas tidak hanya terbatas pada sosok yang memiliki banyak pengetahuan. Ibu cerdas adalah individu yang senantiasa mau belajar dan selalu hadir secara utuh bagi anak-anaknya.

Dari lingkungan masjid, seluruh pesan dan pembelajaran berharga tersebut kemudian dibawa pulang oleh para ibu. Harapannya, ilmu yang didapat dapat menjadi cahaya penerang, doa menjadi sumber kekuatan, dan rumah dapat berfungsi sebagai sekolah pertama yang selalu dipenuhi kehangatan serta kasih sayang.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Duta Bangsa di Kancah Global: 54 Mahasiswa PENS Ikuti Mobilitas Internasional ke Cina dan Taiwan

21 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Kolaborasi Tanggap Bencana: Lazismu Jatim Distribusikan Bantuan Gempa NTT via Kapal TNI AL

21 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Misi Strategis Dewan Kebudayaan Gresik 2026-2029: Mengawal Identitas Budaya di Tengah Modernisasi

21 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Warisan Daniel Rembeth: Inspirasi Abadi Pejuang Hak Anak dan Pendidikan

20 Agustus 2026 - 20:08 WIB

Bukan Akhir, Justru Awal: Memaknai Perjalanan Spiritual Umrah Setelah Kembali ke Tanah Air

20 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Trending di Pendidikan