KlikMojok – Di ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut, di mana embun beku sering menyapa pepohonan pinus dan kabut tebal menyelimuti punggung bukit, Puncak Jobolarangan di lereng Gunung Lawu menyimpan kisah tentang kerapuhan manusia dan kekuatan solidaritas. Pada Senin, 2 November 2026, sebuah panggilan darurat memecah kesunyian Dusun Wonomulyo, Desa Genilangit, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Seorang pria, yang belakangan diduga mengalami gangguan jiwa (ODGJ), ditemukan tersesat di antara bebatuan dan vegetasi pegunungan yang terjal, terperangkap dalam pelukan dingin Lawu yang mengancam. Kondisinya kritis, diduga kuat telah mengalami hipotermia parah.
Kisah ini bukan sekadar laporan penemuan orang hilang, melainkan cerminan tantangan ganda: kejamnya alam pegunungan dan kerentanan individu di pinggir masyarakat. Puncak Jobolarangan, bagian dari kompleks Gunung Lawu, dikenal dengan medannya yang menantang dan perubahan suhu ekstrem yang bisa datang tiba-tiba. Bagi siapa pun, apalagi seseorang yang mungkin kehilangan orientasi atau kemampuan kognitifnya, tempat ini bisa menjadi labirin maut. Keberadaan individu dengan gangguan jiwa di ruang publik seringkali luput dari perhatian, namun ketika mereka tersesat di lingkungan yang ekstrem, risiko yang dihadapi berlipat ganda, menuntut respons cepat dan terkoordinasi.
Informasi pertama kali diterima oleh Call Center BPBD Magetan pada pukul 11.30 WIB. Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Eka Radityo, segera menggerakkan tim setelah laporan tersebut. Tanpa menunda, personel BPBD Magetan langsung bergerak menuju lokasi kejadian pada pukul 11.45 WIB. Lokasi penemuan, yang berada di ketinggian sekitar 2.300 mdpl, bukan hanya sulit dijangkau, tetapi juga menuntut kecepatan karena ancaman hipotermia – kondisi di mana suhu tubuh inti turun drastis, mengancam fungsi organ vital.
Proses evakuasi segera menjadi operasi gabungan yang melibatkan berbagai pihak. Tim 4 BPBD Magetan, dengan personel Pusdalops Wiji dan Bella, serta anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) yang terdiri dari Sunardi, Rangga, Rendy, Baharudin, Heri, dan Zainudin, menjadi garda terdepan. Mereka tidak bekerja sendirian. Sinergi kuat terjalin dengan personel gabungan dari Polri, TNI, Perhutani, Kecamatan Poncol, Pemerintah Desa Genilangit, Puskesmas Poncol, Basecamp Jobolarangan, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi lintas instansi dan komunitas ini menjadi kunci keberhasilan, mengingat medan pegunungan yang terjal dan membutuhkan keahlian khusus.
Setelah berjuang melawan waktu dan medan yang sulit, tim gabungan akhirnya berhasil menjangkau korban. Pukul 15.58 WIB, pria tersebut berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Petugas kesehatan dari Puskesmas Poncol yang telah siaga di lokasi segera memberikan penanganan awal sebelum membawa korban ke RSUD dr. Sayidiman Magetan. Di sana, ia akan menerima perawatan medis lebih lanjut untuk memulihkan kondisi fisiknya dari ancaman hipotermia dan memastikan kesehatannya secara menyeluruh.
Kisah penyelamatan di Puncak Jobolarangan ini bukan hanya berakhir dengan lega, tetapi juga meninggalkan sejumlah refleksi penting. Ini adalah pengingat akan kerapuhan manusia di hadapan alam yang perkasa, sekaligus bukti nyata kekuatan gotong royong dan kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat institusi. Bagi masyarakat, khususnya yang gemar beraktivitas di alam terbuka, insiden ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan dan persiapan matang.
BPBD Magetan, melalui Kepala Pelaksana Eka Radityo, senantiasa menyerukan kewaspadaan. “BPBD Kabupaten Magetan menghimbau kepada masyarakat Kabupaten Magetan untuk selalu waspada dan berhati-hati apabila beraktivitas. Apabila ada kejadian serupa ataupun bencana lainnya dapat menghubungi nomor pelayanan/Call Center BPBD Kabupaten Magetan di 0813 3643 0086 / 0351 89111,” demikian imbauan resmi dari BPBD Magetan. Lebih dari itu, kejadian ini juga membuka mata kita tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang rentan. Respons cepat dan koordinasi yang baik tidak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi juga memperkuat jaring pengaman sosial dan kesiapsiagaan kita menghadapi tantangan di masa depan. Di balik dinginnya Puncak Jobolarangan, kehangatan kemanusiaan telah memenangkan pertarungan.












