Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Pelayaran Terakhir Sang Mualim: Cita-cita yang Karam Bersama KM Virgo Transport 8

badge-check

Pelayaran Terakhir Sang Mualim: Cita-cita yang Karam Bersama KM Virgo Transport 8 Perbesar

KlikMojok – Tangis pilu pecah, mengoyak senyap Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Jombang, Kamis (1/10/2026), ketika sebuah peti berwarna biru muda diturunkan dari mobil jenazah. Momen itu adalah puncak penantian 18 hari yang menguras jiwa, sebuah penantian yang akhirnya bermuara pada kepulangan Gondam Prakoso (32), sang mualim yang mengarungi lautan, kini kembali ke pangkuan tanah kelahirannya, bukan lagi dengan langkah tegap seorang pelaut, melainkan dalam diam. Gondam adalah salah satu korban tragedi tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, sebuah musibah yang merenggut nyawanya dan meninggalkan duka mendalam.

Peti jenazah Gondam segera dibawa masuk ke rumah, di mana suasana duka kian menyayat. Ibu, istri, dan kerabat tak mampu lagi membendung air mata yang sedari lama tertahan. Sang istri bahkan sempat kolaps, pingsan di tengah pusaran kesedihan yang tak tertahankan, setelah berhari-hari menanti kabar, merajut harap di antara cemas, tentang keberadaan suaminya pasca-kecelakaan kapal di perairan luas Laut Jawa.

Kisah Gondam bukan hanya tentang tragedi, melainkan juga tentang perjuangan dan pengorbanan. Sebagai mualim dua di KM Virgo Transport 8, ia adalah salah satu tulang punggung kapal. Sebelum musibah itu terjadi, di tengah kepungan bahaya, Gondam sempat menghubungi keluarganya, mengirimkan pesan terakhir yang akan selalu terngiang. Dzulkarnaen Sutopo, paman Gondam, mengenang komunikasi pilu tersebut. “Ia sebetulnya di jam 01.04 menit itu sempat hubungi kita, pihak keluarga. ‘Ma, kapal ku tenggelam,’ bilangnya pada jam itu,” ujar Dzulkarnaen usai pemakaman, suaranya sarat kepedihan.

Pesan singkat itu menjadi titik akhir komunikasi, awal dari penantian panjang yang penuh ketidakpastian. Keluarga terus berharap, memanjatkan doa, agar Gondam bisa ditemukan selamat. Namun, takdir berkata lain. Setelah 18 hari berlalu, kepastian itu akhirnya datang, membawa kabar yang melegakan sekaligus menghancurkan. Basarnas menginformasikan bahwa jenazah Gondam telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi. “Alhamdulillah, tadi pagi sudah kita jemput di Bandara Juanda Surabaya dan kita bawa ke rumah duka dan kita makamkan,” lanjut Dzulkarnaen, mengungkapkan lega bercampur duka.

Dari keterangan kru kapal lain yang selamat, terungkap bahwa Gondam menunjukkan dedikasi luar biasa di detik-detik terakhirnya. Ia bersama lima kru lainnya disebut-sebut sebagai yang terakhir keluar dari kapal saat mulai terbalik. Sebelum menyelamatkan diri, Gondam dan rekan-rekannya sempat menjalankan tugas mulia: membagikan pelampung kepada penumpang lain dan mengembangkan life raft, memastikan keselamatan orang lain di atas dirinya sendiri. Sebuah tindakan heroik yang membuktikan jiwa pelaut sejati.

Namun, di balik tugas mulianya, Gondam menyimpan sebuah cita-cita besar yang belum sempat terwujud. Sebelum berlayar untuk terakhir kalinya, ia telah menyelesaikan proses pendaftaran untuk melanjutkan pendidikan. Gondam berambisi meningkatkan keilmuan dan kariernya di bidang maritim, bermimpi suatu hari dapat menyandang pangkat kapten kapal. Sebuah aspirasi luhur yang kini harus karam, terkubur bersama raga Gondam di pemakaman umum desa setempat, menyisakan jejak mimpi yang tak tergapai.

Perjalanan jenazah Gondam menuju rumah duka pun tak luput dari cobaan. Ambulans yang membawanya sempat terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Raya Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang. Jenazah kemudian harus dipindahkan ke ambulans lain untuk melanjutkan perjalanan, seolah takdir masih ingin menguji kesabaran keluarga hingga menit-menit terakhir. Gondam meninggalkan seorang istri dan seorang anak berusia empat tahun, serta segudang cita-cita yang kini hanya bisa dikenang.

Bagi keluarga, ditemukannya jenazah Gondam, meski menyisakan duka mendalam, setidaknya mengakhiri penantian panjang yang menyesakkan. Kepastian ini memungkinkan mereka untuk memberikan penghormatan terakhir, memeluk jasadnya, dan mengantarkannya ke peristirahatan abadi. Gondam kini telah kembali ke kampung halamannya untuk selamanya, bukan lagi sebagai pelaut yang bersiap mengarungi samudra, melainkan sebagai anggota keluarga yang akhirnya dipulangkan setelah 18 hari dinantikan, meninggalkan kisah tentang keberanian, pengorbanan, dan cita-cita yang tak sempat berbunga.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Merayakan 65 Tahun Perjalanan Pendidikan, SD Muhdelta Gelar Karnaval Imajinatif dan Family Day Penuh Kebersamaan

2 Okt 2026 - 21:07 WIB

Merayakan 65 Tahun Perjalanan Pendidikan, SD Muhdelta Gelar Karnaval Imajinatif dan Family Day Penuh Kebersamaan

Membangun Karakter Holistik: Mabit SMP Muhammadiyah 8 Tanggulangin Ajak Siswa Belajar dari Alam Trawas

2 Okt 2026 - 18:47 WIB

Membangun Karakter Holistik: Mabit SMP Muhammadiyah 8 Tanggulangin Ajak Siswa Belajar dari Alam Trawas

Syahganda Nainggolan Pimpin Bakom: Misi Komunikasi Dua Arah dan Tantangan AI

2 Okt 2026 - 18:45 WIB

Syahganda Nainggolan Pimpin Bakom: Misi Komunikasi Dua Arah dan Tantangan AI

Dosen Uhamka Integrasikan Pengalaman Jurnalistik ke Modul Ajar, Dorong Kompetensi Menulis Mahasiswa

2 Okt 2026 - 15:16 WIB

Dosen Uhamka Integrasikan Pengalaman Jurnalistik ke Modul Ajar, Dorong Kompetensi Menulis Mahasiswa

Ketika Rintik Tak Cukup Mengusir Dahaga: Menanti Musim Penghujan Sejati di Ponorogo

2 Okt 2026 - 12:40 WIB

Ketika Rintik Tak Cukup Mengusir Dahaga: Menanti Musim Penghujan Sejati di Ponorogo
Trending di Pendidikan