KlikMojok – Senja baru saja menyelimuti Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, ketika ketenangan Kamis malam (1/10/2026) mendadak terkoyak oleh nyala api yang membesar. Peristiwa naas ini, yang kemudian meluluhlantakkan sebagian dari tiga rumah warga, diduga kuat bermula dari sebuah praktik agraris yang telah turun-temurun dikenal: bediang di kandang sapi. Ironisnya, metode penghangat ternak yang lazim di pedesaan ini justru menjadi pemicu kerugian material yang ditaksir mencapai sekitar Rp170 juta, menyisakan duka sekaligus pelajaran mendalam bagi komunitas.
‘Bediang’, atau proses pembakaran jerami kering atau sekam padi untuk menghangatkan hewan ternak, merupakan kearifan lokal yang telah lama diterapkan di banyak wilayah pedesaan Indonesia. Tujuannya baik, menjaga sapi tetap hangat dan sehat, terutama di malam hari atau musim dingin. Namun, tanpa kewaspadaan ekstra, praktik ini menyimpan potensi bahaya yang mengintai, seperti yang terjadi di Dander. Api yang berasal dari bediang di kandang sapi dengan cepat merambat ke tumpukan jerami kering yang mudah terbakar, menciptakan kobaran yang tak terkendali.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Bojonegoro, Siswoyo, menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Laporan kebakaran diterima oleh petugas Pos Temayang hanya delapan menit kemudian, memicu respons cepat dari tim pemadam. “Kami terima sekitar pukul 18.08 WIB. Petugas kemudian langsung berangkat ke lokasi,” ujar Siswoyo, sehari setelah kejadian.
Penjelasan Siswoyo lebih lanjut menegaskan dugaan awal. “Dugaan sementara penyebabnya dari bediang kandang sapi yang merambat ke jerami kering. Api kemudian membesar dan membakar bagian rumah,” jelasnya, menggambarkan betapa cepatnya api menjalar dari sumber awalnya ke bangunan permukiman. Ini menjadi pengingat betapa krusialnya jarak aman antara sumber api dan material mudah terbakar, sebuah edukasi yang tak boleh lekang oleh waktu.
Untuk menaklukkan amukan api, Damkarmat Bojonegoro mengerahkan kekuatan penuh. Sebanyak 23 personel dari berbagai pos – lima dari Pos Temayang, 11 dari Pos Kota, dan tujuh dari Pos Ngasem – bahu-membahu di lokasi. Enam unit armada pemadam kebakaran dan dua unit kendaraan suplai air juga diterjunkan, menggambarkan skala upaya pemadaman yang masif. Berkat kesigapan dan kerja keras tim, kobaran api akhirnya berhasil dikendalikan. “Alhamdulillah pukul 20.30 WIB api dapat di kendalikan,” kata Siswoyo, menandai berakhirnya perjuangan melawan jilatan api.
Meski tak ada korban jiwa atau luka-luka yang dilaporkan – “Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut,” tegas Siswoyo – kerugian material yang ditanggung warga cukup besar. Tiga rumah mengalami kerusakan signifikan: rumah milik Sunarto diperkirakan merugi sekitar Rp70 juta, sementara rumah Supriyadi dan Kusno masing-masing sekitar Rp50 juta. Total kerugian mencapai Rp170 juta. Di tengah kerugian tersebut, ada secercah keberhasilan: petugas berhasil menyelamatkan aset berupa rumah milik Yudi yang ditaksir bernilai sekitar Rp250 juta, berkat upaya lokalisasi api yang cepat dan tepat.
Peristiwa kebakaran ini bukan hanya sekadar catatan insiden, melainkan sebuah cermin bagi kita semua tentang pentingnya mitigasi risiko dalam setiap aspek kehidupan, termasuk praktik tradisional. Kolaborasi apik antara Polsek Dander, Koramil Dander, Brigif TP 33/NS, Yonif TP 885/BP, Satpol PP Dander, pelapor, dan masyarakat sekitar dalam penanganan kebakaran menunjukkan kekuatan solidaritas komunal. Ini menjadi pengingat bahwa pendidikan keselamatan, khususnya terkait penggunaan api dan penanganan material mudah terbakar, harus terus digalakkan, terutama di daerah pedesaan yang masih banyak mengandalkan metode tradisional. Dari Bojonegoro, kita belajar bahwa kearifan lokal perlu diiringi dengan kewaspadaan modern agar tak lagi menjelma menjadi malapetaka.












