Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Di Balik Peluit Penjaga Parkir: Mantan Murid Ajarkan Makna Ikhtiar dan Tawakal kepada Sang Guru

badge-check

Di Balik Peluit Penjaga Parkir: Mantan Murid Ajarkan Makna Ikhtiar dan Tawakal kepada Sang Guru Perbesar

KlikMojok – Di tengah hiruk pikuk halaman sebuah gedung resepsi pernikahan, suara peluit terdengar nyaring. Seorang pria paruh baya dengan cekatan mengatur keluar-masuk kendaraan, mengarahkan para pengemudi dengan isyarat tangan dan tiupan peluit yang sesekali memecah keramaian. Pemandangan ini menjadi latar belakang pertemuan tak terduga yang akan memberikan pelajaran berharga tentang ikhtiar dan tawakal.

Pada hari yang sama, Pak Anwar, seorang guru senior yang telah mendedikasikan 33 tahun hidupnya untuk dunia pendidikan, turut hadir di resepsi pernikahan tersebut. Di tengah kerumunan tamu undangan, matanya tak sengaja menangkap sosok pria yang sibuk mengatur kendaraan itu.

Pria itu memiliki jenggot tebal kemerahan dan kulit gelap. Meski usia telah mengukir banyak perubahan pada wajahnya, Pak Anwar merasakan adanya keakraban yang kuat. Setelah mengamati sejenak, Pak Anwar memutuskan untuk mendekati pria tersebut.

Pria itu menjawab pertanyaan Pak Anwar dengan sedikit kegugupan. Ia menatap wajah gurunya itu cukup lama, seolah sedang mencoba mengingat kembali memori-memori lama yang telah tersimpan puluhan tahun lamanya.

Keduanya saling berpandangan, dan untuk sesaat, hiruk pikuk keramaian di sekeliling mereka seolah sirna, digantikan oleh keheningan yang penuh makna.

Ingatan Pak Anwar pun melayang jauh ke masa lalu, puluhan tahun silam. Ia teringat akan seorang anak muda yang pernah menjadi muridnya di ruang kelas. Murid tersebut dikenal dengan sifat keras kepalanya, seringkali sulit diatur, dan kerap membuat Pak Anwar harus menghela napas panjang.

Namun, lelaki yang kini berdiri di hadapannya tampak sangat berbeda. Wajahnya memancarkan keteduhan, dan tatapannya begitu tenang. Di balik jenggot tebal serta kulitnya yang menghitam karena terpapar matahari, Pak Anwar menemukan ketegaran hidup yang tak pernah ia duga akan dimiliki oleh mantan muridnya itu.

“Berapa anakmu sekarang?” tanya Pak Anwar, membuka percakapan.

Pak Anwar sedikit terkejut mendengar jawaban, sementara pria itu, yang ternyata adalah Abdul Syukur, hanya tersenyum tipis.

Nama Abdul Syukur sendiri dipilihnya setelah ia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Berasal dari wilayah timur Indonesia, ia pernah menimba ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur. Sekarang, ia telah menikah dengan seorang janda asal Padang dan menjalani kehidupan yang sederhana bersama keluarganya.

Pak Anwar kembali memperhatikan Abdul Syukur, merenungkan fakta bahwa ia memiliki tujuh orang anak. Tujuh amanah besar, tujuh kehidupan yang sepenuhnya harus ia jaga dan penuhi kebutuhannya.

Di sisi lain, Abdul Syukur setiap hari harus berdiri di bawah terik matahari, meniup peluit, mengatur lalu lintas kendaraan, dan mengandalkan kekuatan fisiknya untuk mencari nafkah. Rasa iba seketika menyelimuti hati Pak Anwar. Namun, perasaan itu segera bercampur dengan rasa bangga melihat mantan muridnya mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya hidup. Anak yang dulu dikenal keras kepala itu kini telah menjelma menjadi seorang pria yang begitu tenang dalam menerima takdirnya.

“Kamu bekerja di sini?” tanya Pak Anwar.

Abdul Syukur menjawab, “Ya, Pak. Kami diminta menjaga parkir di sini karena penjaga sebelumnya tidak menyetor uang kepada pemilik gedung.”

Meski matanya memancarkan kelelahan, ia menjawab pertanyaan tersebut dengan suara yang tetap tenang.

“Bagaimana dengan kehidupanmu sekarang?” Pak Anwar bertanya dengan nada pelan.

Abdul Syukur tersenyum lagi. Kemudian, dengan suara yang tenang dan penuh keyakinan, ia memberikan jawaban yang mendalam.

“Yang mengurus dan memberi makan semuanya Allah, Pak. Bukan saya.”

Pak Anwar terdiam sejenak, meresapi setiap kata. Ia memperhatikan peluit yang ada di tangan Abdul Syukur, butiran keringat yang membasahi wajahnya, serta dedikasi lelaki itu yang tak henti bekerja di bawah terik matahari demi menafkahi keluarganya.

Abdul Syukur terus bekerja keras dan berusaha, namun hatinya tidak semata-mata menggantungkan kehidupan pada pekerjaannya. Sebaliknya, ia sepenuhnya menyerahkan dan menggantungkan hidupnya kepada Allah SWT.

Pak Anwar menundukkan kepalanya, meresapi pelajaran baru yang didapatnya. Puluhan tahun berkarier sebagai seorang guru telah mengajarkannya banyak hal. Namun, pada hari itu, di halaman gedung resepsi yang ramai, ia justru kembali mendapatkan pelajaran berharga dari seorang murid yang pernah ia bimbing: pelajaran tentang pentingnya ikhtiar (usaha) yang dibarengi dengan tawakal (pasrah dan berserah diri kepada Tuhan).

Abdul Syukur kembali melanjutkan tugasnya sebagai penjaga parkir. Sementara itu, Pak Anwar melangkah masuk menuju gedung resepsi, dengan suara peluit yang masih terdengar nyaring dari halaman, mengiringi langkahnya dan menjadi pengingat akan pelajaran yang baru saja ia terima.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Membuka Gerbang Ilmu dan Rekreasi: Jatim Park Hadirkan Mega Science Center di Pekan Raya Jatim Surabaya

8 Okt 2026 - 09:45 WIB

Membuka Gerbang Ilmu dan Rekreasi: Jatim Park Hadirkan Mega Science Center di Pekan Raya Jatim Surabaya

Ketika Bumi Pacitan Retak: Kemarau Panjang dan Ancaman Longsor yang Mengintai

8 Okt 2026 - 09:45 WIB

Ketika Bumi Pacitan Retak: Kemarau Panjang dan Ancaman Longsor yang Mengintai

Melatih Mental dan Fisik: Latihan Tanding Perdana Tapak Suci MI Muhammadiyah 5 Banyutengah

8 Okt 2026 - 09:44 WIB

Melatih Mental dan Fisik: Latihan Tanding Perdana Tapak Suci MI Muhammadiyah 5 Banyutengah

Wakil Bupati Sidoarjo Ajak Jemaah Umrah Panjatkan Doa untuk Bangsa

8 Okt 2026 - 09:43 WIB

Wakil Bupati Sidoarjo Ajak Jemaah Umrah Panjatkan Doa untuk Bangsa

Ketika Patok Bicara: Konflik Lahan dan Jalan Buntu Petani di Perkebunan Lumajang

8 Okt 2026 - 06:12 WIB

Ketika Patok Bicara: Konflik Lahan dan Jalan Buntu Petani di Perkebunan Lumajang
Trending di Pendidikan