KlikMojok – Senja itu, Kamis sore, langit di kawasan utara Sungai Brantas, Kabupaten Jombang, mendadak muram. Awan hitam menggantung rendah, seolah hendak runtuh dari pelukan langit yang biasanya cerah. Tak ada yang menyangka, petang yang semula berjalan biasa itu akan berubah menjadi kepanikan ketika hujan deras dan angin puting beliung Jombang datang silih berganti, menerjang permukiman warga. Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan kekuatan alam dan sekaligus pelajaran berharga tentang resiliensi komunitas.
Di Desa Katemas, Kecamatan Kudu, hujan turun begitu deras, membasahi jalanan dan rumah-rumah warga selama sekitar 30 menit. Namun, hujan rupanya bukan satu-satunya ancaman yang harus dihadapi. Sekitar pukul 16.00 WIB, angin kencang tiba-tiba datang menerjang. Hembusannya begitu kuat, bergulung-gulung membentuk pusaran putih yang membuat suasana berubah mencekam. Dalam hitungan detik, ketenangan desa seolah direnggut paksa. Atap-atap rumah terangkat, lalu beterbangan diterjang amukan angin. Sejumlah kios tak luput dari terjangan. Pohon-pohon di tepi jalan tumbang, roboh dengan suara berdebam yang memecah suasana. Di tengah kekacauan itu, suara azan yang dikumandangkan warga terdengar menyelingi deru angin dan bunyi pepohonan yang bertumbangan, seolah memohon perlindungan di tengah amukan alam.
Hanya sekitar 15 menit angin mengamuk, namun waktu yang singkat itu cukup untuk meninggalkan kerusakan di sejumlah sudut permukiman. Rohman (42), warga setempat, masih mengingat bagaimana cuaca berubah begitu cepat. “Anginnya sangat kencang. Puting bergulung-gulung,” tutur Rohman, Kamis sore itu, menggambarkan kengerian yang mereka alami. Bagi warga, sore itu bukan sekadar tentang hujan dan angin. Ada kecemasan ketika atap rumah terangkat, ada ketegangan saat pohon-pohon tumbang, dan ada kekhawatiran melihat kerusakan yang ditinggalkan setelah amukan angin berlalu.
Meski dampaknya cukup besar, Rohman memastikan bahwa sejauh yang diketahuinya, tidak ada warga yang mengalami luka-luka. Di tengah kerusakan yang terjadi, kabar tersebut menjadi sedikit kelegaan bagi masyarakat, sebuah pelajaran tentang prioritas keselamatan di tengah bencana. Hingga Rabu sore, warga masih bergotong royong melakukan pendataan terhadap rumah, kios, dan pepohonan yang terdampak. Ini adalah wujud nyata dari pendidikan karakter: kebersamaan dan kepedulian. Jumlah pasti kerusakan belum diketahui, namun semangat kebersamaan telah nyata terlihat. Warga juga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang untuk penanganan lebih lanjut, menunjukkan pentingnya koordinasi dalam mitigasi bencana.
Bencana angin puting beliung itu ternyata tak hanya menyasar Desa Katemas. Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria, membenarkan adanya laporan kerusakan serupa di sejumlah wilayah lain. Berdasarkan data sementara, sedikitnya empat desa di empat kecamatan terdampak kejadian tersebut. Selain Desa Katemas di Kecamatan Kudu, laporan juga datang dari Desa Plandaan di Kecamatan Plandaan, Desa Megaluh di Kecamatan Megaluh, serta Desa Pucangsimo di Kecamatan Bandarkedungmulyo. “Untuk detail jumlah rumah yang terdampak masih dilakukan pendataan,” jelas Stevy, menegaskan bahwa proses identifikasi kerusakan masih berlangsung. BPBD Jombang terus menghimpun informasi dari seluruh wilayah terdampak untuk mengetahui tingkat kerusakan dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan. Hingga Rabu petang, belum ada laporan mengenai korban luka maupun korban jiwa, sebuah anugerah di tengah cobaan.
Kini, setelah angin berlalu, pekerjaan warga belum selesai. Kerusakan yang tertinggal masih harus didata, sementara rumah-rumah yang atapnya rusak perlu segera ditangani agar bisa kembali melindungi penghuninya. Senja di Jombang sore itu mengajarkan betapa cepatnya keadaan dapat berubah, namun juga betapa kuatnya jiwa gotong royong dan ketangguhan manusia. Dalam waktu singkat, hujan dan angin mampu merusak apa yang dibangun warga dengan susah payah. Namun, di tengah puing-puing dan atap yang beterbangan, keselamatan warga menjadi kabar paling melegakan, sementara upaya pendataan dan penanganan kerusakan kini menjadi harapan agar kehidupan dapat kembali berjalan seperti sediakala. Ini adalah pelajaran berharga tentang adaptasi, kesiapsiagaan, dan kekuatan solidaritas yang tak lekang oleh waktu, bahkan di tengah amukan alam.












