KlikMojok – Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Buduran berhasil mencatatkan sejarah penting dalam gelaran Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Kehadiran mereka di Ponorogo bertujuan untuk memperkuat semangat kaderisasi yang inklusif serta menciptakan ruang bertumbuh yang setara bagi seluruh anggota.
Meskipun usianya baru menginjak dua tahun, PCNA Buduran di Sidoarjo tidak gentar dalam mengambil peran strategis. Semangat pantang menyerah ini membuktikan bahwa status sebagai cabang baru bukanlah penghalang untuk berkontribusi aktif, apalagi hanya menjadi pengamat dalam dinamika besar organisasi Nasyiatul Aisyiyah.
Cabang yang relatif muda ini segera menunjukkan keaktifannya dengan berpartisipasi dalam Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Acara tersebut diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Ponorogo selama tiga hari, yaitu dari Jumat hingga Ahad, tanggal 16 sampai 18 Oktober 2026.
Dua perwakilan dari PCNA Buduran, yaitu Ketua Rifatul Hidayah dan Sekretaris Aisyah Nor Millah, turut bergabung dengan rombongan kontingen Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Sidoarjo. Mereka melangkah penuh keyakinan menuju forum strategis tersebut, hadir langsung untuk mewakili para kader di tingkat akar rumput. Kehadiran mereka bukan sekadar partisipasi, melainkan sebuah tonggak penting untuk memperluas cakrawala pengetahuan, memahami dinamika kepemimpinan di tingkat wilayah, serta menyuarakan berbagai aspirasi demi kemajuan dan pengembangan cabang mereka.
Bagi Rifatul Hidayah, partisipasi dalam forum Musywil XIII ini jauh melampaui sekadar agenda rutin organisasi. Ia menyampaikan, “Forum tertinggi di tingkat Jawa Timur ini menjadi kesempatan emas untuk mengejar ketertinggalan, menggembleng kapasitas kader, dan memastikan keberadaan cabang baru dalam menentukan arah gerakan bersama ke depan.”
Rifatul Hidayah lebih lanjut menegaskan bahwa agenda pemilihan pimpinan wilayah merupakan momen yang sangat krusial bagi seluruh kader, khususnya bagi cabang-cabang yang masih berada dalam fase awal perkembangannya.
“Bagi PCNA Buduran, pemilihan pemimpin wilayah bukan sekadar pergantian kepengurusan. Melainkan momentum penting untuk memastikan kami, yang merupakan cabang baru, turut terlibat dalam agenda penting ini. Kami juga ingin memastikan, seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah di Jawa Timur mendapatkan ruang untuk tumbuh, kesempatan berkontribusi, dan perhatian yang setara dalam gerak organisasi,” tegas Rifa.
Rifa menaruh harapan besar agar Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur yang akan datang dapat menghadirkan kepemimpinan dengan visi yang jernih. Ia menambahkan, “Pemimpin baru harus mampu merangkul seluruh lapisan organisasi, mulai dari kader akar rumput, pimpinan cabang, hingga pimpinan daerah, sehingga program kerja wilayah benar-benar menjawab kebutuhan secara menyeluruh.”
PCNA Buduran memiliki pandangan bahwa kekuatan fundamental Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur justru bersumber dari keberagaman potensi, karakter, dan kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah. Mereka percaya bahwa setiap cabang memiliki sumber daya, tantangan, dan kebutuhan yang khas. Keberagaman ini, menurut PCNA Buduran, seharusnya menjadi modal utama untuk membangun sebuah organisasi yang semakin kokoh, inklusif, dan berdaya.
Rifa menambahkan, “Setiap daerah tentu memiliki kearifan lokal masing-masing, dengan sumber daya dan kebutuhan yang berbeda-beda. Calon pemimpin dan jajaran PWNA Jawa Timur yang baru harus mampu memetakan potensi, memahami kondisi, serta melihat kebutuhan setiap daerah secara utuh. Jangan sampai kebijakan organisasi hanya berpusat pada daerah-daerah tertentu, sementara daerah lain kurang mendapatkan perhatian.”
Harapan yang diungkapkan tersebut semakin mempertegas urgensi pemerataan kesempatan dalam proses pembinaan organisasi. Baik cabang yang sudah mapan maupun cabang perintis, keduanya memerlukan akses terhadap ruang belajar, pendampingan yang terjadwal, serta dukungan konkret untuk dapat mengoptimalkan potensi para kadernya.
Menurut kader PCNA Buduran, indikator kemajuan organisasi tidak semata-mata bergantung pada laporan program kerja. Keberhasilan yang sesungguhnya tercapai ketika organisasi mampu menyediakan akses yang seluas-luasnya bagi setiap kader agar dapat berkembang dan memberikan kontribusi. Oleh karena itu, suara dan aspirasi yang datang dari tingkat cabang harus menjadi landasan utama dalam merumuskan arah kebijakan yang relevan, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui arena Musywil XIII ini, PCNA Buduran memancarkan optimisme bahwa Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur akan semakin mempererat kolaborasi antar daerah, memperkuat kaderisasi yang inklusif, dan mendistribusikan kesempatan secara adil kepada seluruh cabang. Dukungan serta ruang untuk berproses ini merupakan fondasi yang sangat vital bagi organisasi-organisasi muda dalam membangun gerakan yang berkelanjutan dan berjangka panjang.
Langkah proaktif dari PCNA Buduran ini secara nyata membuktikan bahwa perempuan muda tidak perlu menunda untuk mulai memberikan kontribusi hingga organisasi menjadi besar. Keberanian untuk terus belajar, terlibat secara aktif, dan menyuarakan berbagai gagasan merupakan modal utama yang esensial dalam membangun sebuah organisasi yang mampu memberikan dampak positif.












