KlikMojok – Pada Rabu (16/9/2026), sebuah pertunjukan pantomim yang diselenggarakan oleh Lazismu Lumajang bersama SMK Muhammadiyah Jatiroto (SMK Muhaja) berhasil menarik perhatian sekitar 250 pasang mata di aula sekolah. Pertunjukan seni tanpa dialog selama lima menit ini, yang juga dilengkapi dengan monolog, menjadi media dakwah kreatif dan edukasi anti-bullying yang berbicara lebih lantang daripada seribu kata.
Suasana di aula SMK Muhammadiyah Jatiroto Lumajang tiba-tiba berubah hening. Ratusan pasang mata tertuju fokus ke arah panggung, menyaksikan seorang pemain pantomim berjalan dengan kepala tertunduk, menjadi sasaran ejekan, dorongan, serta tatapan sinis dari teman-temannya tanpa sedikit pun mengucapkan kata-kata. Iringan musik yang mengalun lirih semakin menambah nuansa sendu pada pementasan tersebut. Pertunjukan berdurasi lima menit tanpa dialog yang digelar pada Rabu (16/9/2026) ini secara gamblang menyampaikan pesan bahwa perundungan atau bullying meninggalkan luka yang seringkali tidak kasat mata, namun berdampak mendalam.
Inilah pendekatan unik yang diterapkan oleh Lazismu Lumajang dalam menyampaikan dakwahnya. Mereka tidak hanya mengandalkan mimbar dan ceramah tradisional, melainkan juga menyuguhkan pesan-pesan kemanusiaan melalui paduan seni pantomim dan monolog yang menyentuh. Kolaborasi dengan SMK Muhammadiyah Jatiroto (SMK Muhaja) ini mengemas dakwah kreatif tersebut sebagai sebuah platform edukasi yang efektif, sekaligus menjadi wadah untuk Gerakan Infak Pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak yatim, piatu, dan kaum dhuafa.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala SMK Muhammadiyah Jatiroto, Bapak Iwan Supriyogi. Turut hadir pula tim pantomim dan monolog yang dikomandoi oleh Fahmi Khairuddin, S.Pd., M.A., seorang dosen dari STKIP Muhammadiyah yang juga merupakan putra dari Ketua Badan Pengurus Lazismu Lumajang, Drs. Djatto, M.M.
Dalam kesempatan sambutannya, Iwan Supriyogi mengajak seluruh siswa untuk lebih mendalami peran Lazismu. Ia memperkenalkan Lazismu sebagai lembaga amil zakat Muhammadiyah yang secara konsisten menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, mencakup bidang pendidikan, sosial, dan kemanusiaan.
Iwan menjelaskan, “Hari ini Lazismu menghadirkan pertunjukan monolog yang dipadukan dengan seni pantomim sekaligus menggalang Gerakan Infak Pendidikan untuk membantu anak-anak yatim, piatu, dan dhuafa.”
Lebih lanjut, ia mengungkapkan harapannya agar para siswa tidak hanya sekadar menikmati sajian pertunjukan, melainkan juga mampu menangkap esensi dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.
“Mudah-mudahan kegiatan ini memberikan ilmu, hikmah, pembinaan mental, serta menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari. Ikutilah kegiatan ini dengan baik,” pesan Iwan.
Setelah sambutan selesai, lampu-lampu di aula meredup, menandakan dimulainya pertunjukan pantomim. Dalam keheningan total, tanpa suara dan dialog, adegan seorang pelajar yang menjadi korban ejekan serta perlakuan kasar dari teman-temannya ditampilkan. Kekuatan gerakan tubuh para pemain berhasil membangkitkan emosi, mengubah suasana aula yang tadinya ramai menjadi senyap seketika.
Keheningan yang menyelimuti aula kemudian dipecahkan oleh Fahmi Khairudin.
“Semangat hari ini, mas e…,” sapa Fahmi, mencoba mencairkan suasana.
Sapaan yang sederhana namun akrab itu segera disambut dengan riuh semangat dari para siswa. Setelah suasana di antara mereka mencair, Fahmi kemudian mengarahkan perhatian mereka pada sebuah realitas yang lebih serius dan mendalam.
“Jadilah orang yang membuat orang lain merasa aman,” tuturnya, menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung.
Fahmi melanjutkan dengan menjelaskan bahwa fenomena kasus perundungan atau bullying di Indonesia masih berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan.
Selama beberapa tahun belakangan, jumlah laporan kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Bentuk kekerasan ini bervariasi, mulai dari bullying verbal, fisik, sosial, hingga perundungan digital. Yang lebih tragis, beberapa kasus bahkan berakhir dengan hilangnya nyawa anak-anak yang tidak sanggup lagi menahan tekanan berat yang mereka hadapi.
Menurut penjelasan Fahmi, bullying tidak hanya terbatas pada tindakan fisik seperti memukul atau mendorong. Ia menegaskan bahwa mengejek, memberikan julukan yang buruk, mengucilkan teman dari pergaulan, menyebarkan gosip, mengunggah foto tanpa izin, bahkan memberikan komentar jahat di media sosial, semuanya merupakan bentuk-bentuk perundungan yang sama-sama dapat meninggalkan luka mendalam bagi korbannya.
“Kadang kita mengatakan, ‘Itu kan cuma bercanda.’ Padahal bagi korban, luka itu bisa tersimpan sangat lama,” ungkap Fahmi.
Guna memperkuat pesan yang disampaikannya, Fahmi mengutip firman Allah SWT dari Surah Al-Hujurat ayat 11. Ayat tersebut secara tegas melarang orang-orang yang beriman untuk saling mengolok-olok, karena bisa jadi mereka yang direndahkan justru memiliki kedudukan yang lebih mulia di sisi Allah SWT.
“Iman seharusnya membuat kita menjadi orang yang menghadirkan rasa aman bagi orang lain,” tegasnya.
Selain itu, ia juga memberikan penguatan mental kepada para korban bullying, mendorong mereka untuk tidak ragu atau takut mencari pertolongan.
“Kalau kamu menjadi korban, meminta bantuan bukan berarti lemah. Meminta bantuan berarti kamu berani menjaga diri,” jelas Fahmi.
Di sisi lain, bagi individu yang pernah terlibat sebagai pelaku bullying, Fahmi dengan tegas mengajak mereka untuk memiliki keberanian dalam melakukan perubahan.
“Segera berhenti, akui bahwa itu salah, minta maaf, perbaiki diri, dan jangan pernah mengulanginya lagi,” seru Fahmi.
Menjelang akhir kegiatan, sebuah kalimat sederhana namun penuh makna menggema di seluruh aula.
Kalimat tersebut adalah: “Stop Bullying, Start Caring.”
Kalimat tersebut bukan sekadar slogan semata. Pada siang hari itu, Lazismu Lumajang tidak hanya sekadar mengajak para pelajar untuk berbagi rezeki melalui Gerakan Infak Pendidikan.
Lebih dari itu, mereka tengah menanamkan sebuah nilai yang jauh lebih fundamental dan besar, yakni keyakinan bahwa lingkungan sekolah harusnya menjadi ruang yang aman bagi setiap anak untuk merasa dihargai, serta bertumbuh dan berkembang tanpa dibayangi rasa takut.
Sebab, dakwah terkadang tidak selalu harus dimulai dari mimbar ceramah, melainkan juga bisa muncul dari sepasang tangan yang bergerak dalam diam, kemudian secara perlahan mengetuk hati dan kesadaran setiap individu yang menyaksikannya.












