KlikMojok – Di balik megahnya kaldera Bromo yang kini diselimuti jejak arang, ada sebuah rumah sederhana di Probolinggo yang diselimuti duka jauh lebih pekat. Rumah di Perumahan Griya Yuna Yuni, Jalan Serayu, Kelurahan Kedopok, Kota Probolinggo, itu seharusnya menyambut kepulangan Sefriel Ardiyansyah, pemuda 19 tahun yang beranjak menjadi pahlawan. Namun, pada Sabtu (17/10/2026), pintu itu tetap tertutup bagi kepulangannya, setelah ia tak kembali dari medan perjuangan melawan api yang melalap hutan konservasi Gunung Bromo. Kematian Sefriel, seorang relawan karhutla Bromo, menyisakan lubang menganga di hati keluarganya, sebuah pengorbanan yang takkan terlupakan.
Suasana haru masih merajai kala Kapolresta Probolinggo Kota AKBP Lucky Pramana Putra dan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nur Patria Kurniawan tiba. Kunjungan mereka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud empati mendalam bagi keluarga yang kehilangan, sekaligus refleksi atas tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah merenggut empat nyawa, termasuk Sefriel. Ia dikenang sebagai relawan dari luar lingkaran kehutanan, yang tanpa ragu ikut terjun ke garis depan.
AKBP Lucky Pramana Putra, dengan nada prihatin, menyampaikan bahwa kedatangannya adalah bentuk kepedulian terhadap orang tua Sefriel. “Adapun kami ke sini merupakan salah satu wujud empati kami terhadap orang tua korban Sefriel Ardiyansyah terkait musibah ini. Ini salah satu bentuk kepedulian kami terhadap korban karhutla,” ujar Lucky kepada awak media, menegaskan bahwa kepergian Sefriel adalah duka bersama. Ia berharap, musibah serupa tak lagi terulang, tak ada lagi nyawa yang melayang dalam upaya penyelamatan alam. “Harapan kami tentunya tidak ingin lagi ada hal-hal seperti ini. Siapa pun juga tidak akan mau ada musibah seperti ini. Insyaallah ananda husnul khotimah, ditempatkan di surga Allah SWT,” tambahnya, mendoakan almarhum.
Di tengah kesedihan yang masih membekas, pertanyaan mengenai langkah hukum untuk mengusut penyebab kebakaran sempat mengemuka. Namun, Lucky menjelaskan bahwa keluarga korban masih dalam suasana berkabung mendalam, sehingga pembicaraan mengenai persoalan hukum belum menjadi prioritas utama.
Sementara itu, Nur Patria Kurniawan dari BBKSDA Jawa Timur hadir membawa amanah dari Kementerian Kehutanan. Ia tak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menyerahkan santunan kepada keluarga Sefriel, sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan pemuda itu. Nur Patria secara khusus menyoroti keberanian Sefriel. Meskipun bukan bagian dari petugas kehutanan, semangat kerelawanannya mendorongnya untuk ikut serta memadamkan api, sebuah keputusan heroik yang berujung pada takdir tragis. “Bukan apa-apa, tapi itu adalah bentuk kepedulian kami karena Mas Sefriel itu sebagai orang di luar kehutanan, tapi menjadi relawan yang ikut memadamkan kebakaran,” kata Nur Patria, memberikan penghormatan.
Ia menekankan betapa berbahayanya penanganan api di kawasan alam terbuka. Kondisi lapangan yang bisa berubah drastis dalam hitungan detik, mulai dari perubahan arah angin hingga pergerakan lidah api yang tak terduga, menjadi ancaman nyata bagi setiap petugas dan relawan. Risiko-risiko ini, yang tak jarang luput dari perhatian publik, adalah harga yang harus dibayar oleh mereka yang berjuang di garis depan. “Intinya kita semua berdoa mudah-mudahan kebakaran cepat selesai dan tidak ada lagi kejadian-kejadian yang seperti ini berulang,” ujarnya, menyiratkan harapan dan doa untuk keselamatan semua.
Sefriel Ardiyansyah, bersama tiga korban lainnya, menghembuskan napas terakhirnya dalam insiden karhutla yang terjadi di Blok Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10/2026). Mereka dilaporkan terjebak dalam kobaran api yang ganas saat berjuang memadamkannya, sebuah momen tragis yang mengakhiri dedikasi mereka.
Kini, perjuangan melawan api di Bromo menyisakan kehilangan mendalam bagi keluarga Sefriel. Rumah yang dulunya penuh tawa kini diselimuti keheningan, menanti kepulangan yang takkan pernah tiba. Kisah Sefriel adalah pengingat akan pengorbanan para pahlawan tanpa tanda jasa, mereka yang rela mempertaruhkan nyawa demi menjaga kelestarian alam, meninggalkan jejak kepahlawanan yang abadi, bahkan saat tubuh mereka tak lagi pulang ke pangkuan keluarga.












