Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Api Bromo Membakar Jiwa: Pesan Kearifan Tengger untuk Keselamatan di Tengah Karhutla

badge-check

Api Bromo Membakar Jiwa: Pesan Kearifan Tengger untuk Keselamatan di Tengah Karhutla Perbesar

KlikMojok – Asap masih mengepul tipis, namun duka yang pekat telah menyelimuti lereng Tengger. Hutan dan lahan di kawasan konservasi Gunung Bromo, yang selama ini menjadi lambang keagungan alam, kini menyimpan kisah pilu nan tragis. Empat nyawa melayang dan dua lainnya kritis, bukan karena amuk gunung, melainkan dalam upaya heroik memadamkan api karhutla yang melalap hijaunya Bromo, sebuah peristiwa yang menjadi alarm keras bagi penanganan kebakaran di lereng Tengger.

Tragedi yang terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026, ini disebut sebagai insiden pertama sepanjang ingatan tokoh masyarakat Tengger, ketika kebakaran hutan di kawasan Bromo sampai merenggut korban jiwa. Sebuah preseden buruk yang memicu keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat adat yang telah berabad-abad hidup berdampingan dengan gunung suci itu.

Ketua Patuman Pandita Kawasan Tengger, Romo Sutomo, mengungkapkan rasa prihatinnya atas musibah tersebut. Ia mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan kejadian tragis semacam itu menimpa saat menjalankan tugas mulia. “Sepanjang ini, baru kali ini karhutla di kawasan Bromo Tengger menelan korban. Tapi ini namanya musibah, kita tidak tahu. Tidak ada orang yang ingin celaka,” kata Romo Sutomo, dengan nada bergetar.

Namun, bagi masyarakat Tengger, tragedi ini tak cukup hanya dipandang sebagai musibah semata. Ada pelajaran mendalam yang harus dipetik. Keselamatan personel yang diterjunkan untuk menghadapi kobaran api, dari relawan hingga aparat, harus menjadi perhatian serius, terutama mengingat kebakaran terjadi di kawasan konservasi dengan medan dan kondisi yang penuh risiko serta tak terduga.

Supoyo, salah satu tokoh masyarakat Suku Tengger, secara khusus memberikan pesan kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla. Mulai dari relawan yang berbekal semangat juang, petugas konservasi, hingga prajurit TNI dan aparat Polri, semua diimbau agar tidak mengabaikan faktor keselamatan diri saat menjalankan tugas berat ini.

Menurut Supoyo, tanggung jawab untuk menjaga kawasan konservasi Bromo memang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Namun, upaya pemadaman api, sebesar apa pun tantangannya, tidak semestinya membuat keselamatan orang-orang di garis depan menjadi hal yang dikesampingkan. “Api ini arahnya ke mana, ini berlaku untuk semua unsur yang terlibat. Baik itu relawan, petugas, TNI-Polri, kami hanya bisa berpesan, tugas memang tetap harus dijalankan, namun kita tidak bisa mengabaikan faktor keselamatan,” tegas Supoyo, menyerukan pentingnya strategi dan perlindungan diri.

Ia juga menilai, kebakaran hutan yang berulang kali terjadi di kawasan Bromo seharusnya menjadi perhatian bersama yang lebih komprehensif. Pemerintah tidak hanya dituntut hadir untuk memastikan api dapat dikendalikan dan kawasan konservasi terlindungi, tetapi juga wajib menjamin bahwa penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan setiap personel di lapangan. Bagi Supoyo, menjaga kawasan Bromo tidak boleh dipisahkan dari upaya melindungi nyawa orang-orang yang mempertaruhkan diri di dalamnya. Keberhasilan penanganan kebakaran harus berjalan beriringan dengan keselamatan petugas dan relawan. “Bagaimanapun, kebakaran ini setiap siklus pasti terjadi. Yang penting pemerintah tetap hadir dalam rangka menjaga keselamatan, baik itu petugas maupun kawasan lereng Tengger ini sendiri,” ujarnya, menekankan peran krusial negara.

Supoyo juga menegaskan, jatuhnya korban jiwa dalam musibah karhutla kali ini harus menjadi bahan evaluasi serius dan mendalam. Pengalaman pahit tersebut diharapkan menjadi pembelajaran berharga untuk memperbaiki sistem dan prosedur penanganan kebakaran hutan di masa depan, khususnya di kawasan lereng Gunung Bromo yang rentan.

“Keselamatan itu yang utama, di samping suksesnya tugas serta tanggung jawab menjaga kawasan konservasi lereng Gunung Bromo. Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam penanganan kebakaran hutan,” katanya, berharap tragedi ini menjadi titik balik. Ia berharap, tragedi yang menelan empat korban jiwa dan menyebabkan dua orang lainnya kritis itu tidak akan pernah terulang kembali. Sebab, perlindungan kawasan konservasi seharusnya tidak berujung pada jatuhnya korban jiwa dari mereka yang berupaya menjaganya. “Kami hanya berharap ke depannya peristiwa seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya, dengan harapan besar akan kesadaran dan perbaikan.

Kisah pilu ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya lanskap Bromo, ada pengorbanan dan risiko yang tak kasat mata. Pendidikan tentang keselamatan, protokol darurat yang memadai, dan perhatian serius terhadap kesejahteraan para penjaga hutan, adalah esensi dari kearifan lokal yang kini menyeruak dari lereng Tengger. Sebuah pelajaran berharga agar tugas mulia menjaga alam tak lagi dibayar dengan nyawa.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Antrean Melumpuhkan Kota: Jember Kembali ke Pola WFH di Tengah Krisis Pertalite

17 Okt 2026 - 21:04 WIB

Ketika Antrean Melumpuhkan Kota: Jember Kembali ke Pola WFH di Tengah Krisis Pertalite

Mengembangkan Bakat Bahasa Inggris: Daftar Lengkap Juara Pidato FFU X 2026 dari Gresik

17 Okt 2026 - 21:04 WIB

Mengembangkan Bakat Bahasa Inggris: Daftar Lengkap Juara Pidato FFU X 2026 dari Gresik

Astama Razin dan Radamel Falco Puncaki Olimpiade IPA FFU X 2026 di Gresik

17 Okt 2026 - 21:03 WIB

Astama Razin dan Radamel Falco Puncaki Olimpiade IPA FFU X 2026 di Gresik

Di Balik Pipa Bocor Panjang Jiwo: Pelajaran Kesiapan Warga Surabaya Selatan Menghadapi Gangguan Air PDAM

17 Okt 2026 - 18:47 WIB

Di Balik Pipa Bocor Panjang Jiwo: Pelajaran Kesiapan Warga Surabaya Selatan Menghadapi Gangguan Air PDAM

Ketika Senandung Malam Terhenti di Trotoar: Kisah Kelelahan dan Roda Penyanyi Dangdut Tulungagung

17 Okt 2026 - 18:46 WIB

Ketika Senandung Malam Terhenti di Trotoar: Kisah Kelelahan dan Roda Penyanyi Dangdut Tulungagung
Trending di Pendidikan