KlikMojok – Senja di Dusun Aengnyior, Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, biasanya beraroma tanah basah dan dedaunan kering yang bergesekan angin. Namun, Kamis (24/09/2026) itu, aroma rutinitas berubah menjadi bau misteri dan duka. Di tengah hamparan tegalan dataran tinggi yang membentang, sebuah pemandangan tak lazim mengejutkan seorang laki-laki pencari rumput. Tergeletak tak bernyawa, sesosok tubuh perempuan mengakhiri pencarian dua hari yang penuh harap.
Identitas korban segera terkuak: Saniye, 62 tahun, warga Dusun Lobuk, desa yang sama. Ia telah meninggalkan rumahnya sejak Selasa (22/09/2026) tanpa sepatah kata pamit, memicu kekhawatiran dan pencarian tak henti dari pihak keluarga. Penemuan jasadnya di tegalan Dusun Aengnyior oleh pencari rumput menjadi titik akhir dari penantian yang getir itu.
Kapolsek Bluto AKP Agus Sugito menuturkan kronologi penemuan yang mengguncang ketenangan desa. “Temuan itu disampaikan ke warga setempat bernama Pak Sahari, yang kebetulan juga berada di tegalan itu. Pak Sahari kemudian melaporkan ke perangkat desa dan meneruskan laporan ke Polsek Bluto,” jelasnya, Kamis (24/09/2026).
Begitu laporan diterima, tim gabungan dari Polsek Bluto dan Puskesmas Bluto segera bergerak menuju lokasi. Mereka melakukan penanganan awal dan pemeriksaan terhadap jenazah di tempat kejadian. Setelah proses identifikasi dan pemeriksaan awal, jenazah Saniye dievakuasi kembali ke rumah duka di Dusun Lobuk. Dalam suasana duka yang mendalam, pihak keluarga menyampaikan keputusan penting. “Pihak keluarga menyampaikan penolakan untuk dilakukan visum terhadap jenazah dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah,” terang AKP Agus Sugito, menghormati pilihan keluarga yang ingin segera memakamkan almarhumah.
Di balik peristiwa tragis ini, terkuak latar belakang yang menambah pilu. Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, Nenek Saniye telah lama mengidap gangguan kejiwaan. Sebelum ditemukan meninggal dunia, ada saksi mata yang sempat berpapasan dengannya. Saniye terlihat berjalan kaki di Jalan Dusun Aengnyior tanpa alas kaki. Saat disapa, ia tidak memberikan respons, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri, dan terus melanjutkan perjalanannya.
Kepolisian, meski pihak keluarga menolak visum, tetap melanjutkan prosedur investigasi untuk memastikan rangkaian kejadian. “Kami dari Polsek Bluto telah melakukan langkah-langkah kepolisian berupa mendatangi dan melakukan pemeriksaan lokasi kejadian, meminta keterangan dari sejumlah saksi, melakukan dokumentasi serta melaksanakan penyelidikan lebih lanjut,” ujar Agus. Hasil penanganan awal memang belum dapat memastikan penyebab pasti kematian. Dugaan mengenai kondisi korban sebelum ditemukan meninggal dunia masih memerlukan pendalaman dan tidak bisa menjadi kesimpulan medis tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
“Kami juga berkoordinasi dengan pihak terkait serta melakukan pengumpulan bahan keterangan dari saksi dan warga di sekitar lokasi guna memastikan rangkaian kejadian secara utuh,” imbuhnya. Kisah Nenek Saniye mengingatkan kita akan kerentanan individu dengan gangguan kejiwaan di tengah masyarakat, pentingnya kepedulian bersama, dan betapa sebuah kehilangan bisa menyisakan jejak pilu yang mendalam, bahkan di sudut tegalan yang sunyi.












