KlikMojok – Lingkungan sekolah kaya akan berbagai kisah dan peristiwa menarik, mulai dari aktivitas siswa, pencapaian prestasi, hingga program-program unik yang sayangnya kerap hanya tersimpan di galeri ponsel. Menyikapi potensi ini, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo (SMP Musasi) menginisiasi sebuah pelatihan untuk membekali murid dan guru dengan kemampuan mengolah cerita-cerita sehari-hari tersebut menjadi karya jurnalistik yang informatif. Padahal, setiap momen di sekolah memiliki nilai berita yang tinggi dan layak dibagikan kepada khalayak luas, namun banyak yang belum terabadikan dalam bentuk tulisan.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Tim Redaktur Musasi Magazine dari SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo (SMP Musasi) secara proaktif menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk ‘Pelatihan Menulis dan Bedah Majalah: Ubah Cerita Jadi Karya Jurnalistik’. Acara edukatif ini dilaksanakan di Aula SMP Musasi pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari penuh tersebut diikuti oleh berbagai elemen penting di sekolah, termasuk perwakilan murid dari setiap kelas, anggota tim jurnalistik sekolah, serta para guru. Kehadiran peserta juga diperkuat dengan partisipasi dari Mudir Boarding SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Bapak Ahmad Fadlullah, S.Pd.I., M.Pd., Gr., serta Musyrif Boarding, Bapak Muslih, S.Pd., M.Pd.
Untuk memberikan wawasan mendalam, Redaktur Pelaksana Tagar.co, Bapak Mohammad Nurfatoni, hadir sebagai pemateri utama dalam pelatihan ini. Selama sesi berlangsung, para peserta tidak hanya diberikan bekal berupa materi teori jurnalistik, tetapi juga dibimbing langsung untuk memahami proses pengolahan sebuah peristiwa sederhana di lingkungan mereka menjadi sebuah tulisan berita yang tidak hanya informatif tetapi juga menarik untuk dibaca.
Bapak Nurfatoni menjelaskan bahwa esensi dari kegiatan menulis karya jurnalistik sejatinya memiliki kemiripan dengan aktivitas bercerita. Namun, perbedaan krusial terletak pada landasan cerita jurnalistik yang wajib berpegang teguh pada fakta dan harus memenuhi seluruh unsur-unsur penting dalam sebuah berita.
Ia menggarisbawahi hal tersebut dengan menyatakan, “Menulis karya jurnalistik hampir sama dengan bercerita, hanya bentuknya berupa tulisan.”
Selanjutnya, Bapak Nurfatoni membimbing peserta untuk mendalami pemahaman tentang unsur-unsur 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How) yang fundamental agar setiap berita yang ditulis mampu menjawab poin-poin pokok yang menjadi keingintahuan pembaca. Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai strategi pemilihan sudut pandang berita, teknik penyusunan informasi yang efektif, serta kiat-kiat untuk menghasilkan tulisan yang nyaman dan enak dibaca.
Sesi pelatihan dirancang agar berlangsung secara interaktif, memungkinkan peserta untuk terlibat aktif. Setelah selesai menerima penyampaian materi teoritis, para peserta segera diajak untuk mempraktikkan secara langsung keterampilan jurnalistik yang baru saja mereka peroleh.
Dalam sesi praktik, mereka ditugaskan untuk aktif mencari dan mengamati berbagai peristiwa di sekitar, kemudian mengambil foto, menyusun keterangan foto atau caption yang relevan, dan selanjutnya mengolah seluruh informasi yang berhasil dikumpulkan menjadi sebuah berita yang utuh. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya sekadar menyerap teori, melainkan juga secara langsung dihadapkan pada tantangan-tantangan sederhana yang umum dihadapi seorang jurnalis, seperti menentukan peristiwa mana yang memiliki nilai berita dan bagaimana cara terbaik menyajikannya kepada khalayak pembaca.
Bapak Nurfatoni juga memberikan penekanan khusus pada pentingnya fotografi jurnalistik. Ia menyampaikan pandangannya bahwa sebuah foto berita tidak boleh hanya berfungsi sebagai pelengkap tulisan semata, melainkan harus memiliki kemampuan untuk secara efektif membantu pembaca dalam memahami konteks dan detail suatu peristiwa yang diberitakan.
Para peserta diajak untuk secara cermat memperhatikan elemen-elemen penting seperti momen yang tepat, komposisi visual, serta informasi esensial yang terkandung dalam sebuah foto. Setelah itu, mereka diberikan latihan intensif dalam menulis caption foto yang komprehensif, mencakup penjelasan mengenai subjek atau objek dalam foto, deskripsi kegiatan yang sedang berlangsung, lokasi kejadian, waktu pengambilan, serta menyertakan kredit fotografer.
Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat dan Sumber Daya Manusia (Humas dan SDM) SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Ibu Etik Retnowati, S.Pd., Gr., mengungkapkan bahwa lingkungan sekolah sejatinya merupakan ladang yang kaya akan potensi bahan tulisan yang berlimpah.
Ibu Etik lebih lanjut memaparkan, “Tujuan pelatihan ini untuk melatih murid dan guru menulis karya jurnalistik. Banyak peristiwa atau cerita di sekolah yang bisa ditulis.”
Menurut Ibu Etik, dengan bekal kemampuan menulis jurnalistik ini, diharapkan para murid dan guru akan memiliki kepekaan yang lebih tinggi dalam mengamati dan mengidentifikasi peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Karya tulis yang dihasilkan dari pelatihan ini selanjutnya berpotensi untuk dipublikasikan, baik melalui majalah internal sekolah maupun situs web resmi sekolah.
Pelatihan jurnalistik ini tidak hanya menarik minat dari staf pengajar dan murid reguler, tetapi juga berhasil menarik perhatian para pengelola Boarding SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Mereka melihat adanya banyak kegiatan dan cerita dari murid-murid boarding yang selama ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi format berita dan kemudian disalurkan ke berbagai media publikasi.
Mudir Boarding, Bapak Ahmad Fadlullah, menyampaikan bahwa keterampilan menulis merupakan sebuah kebutuhan esensial agar setiap aktivitas dan perkembangan para murid boarding dapat terdokumentasikan dengan baik, sekaligus dapat diketahui oleh masyarakat luas.
Ia menjelaskan, “Tujuan mengikuti pelatihan ini agar bisa menulis kegiatan-kegiatan murid boarding yang menarik dan dikirimkan ke media.”
Senada dengan Bapak Ahmad Fadlullah, Musyrif Boarding, Bapak Muslih, juga menyampaikan harapannya. Beliau berharap agar berbagai cerita dan kejadian menarik dari lingkungan boarding tidak hanya berhenti sebagai arsip atau dokumentasi internal semata.
Bapak Muslih menekankan, “Dengan menulis cerita dan kegiatan di Boarding dan mengirim ke media, itu akan membantu publikasi Boarding SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo.”
Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil membuka wawasan warga sekolah untuk kembali meninjau dan mengapresiasi peristiwa-peristiwa yang selama ini mungkin dianggap sepele atau mudah terlewat. Mulai dari percakapan di dalam kelas, beragam aktivitas murid, foto-foto yang tersimpan di galeri ponsel, hingga program-program sekolah, semuanya berpotensi besar untuk diubah menjadi sebuah karya jurnalistik yang bernilai, asalkan diamati dengan cermat dan ditulis dengan kaidah yang benar.












