KlikMojok – Pada Jumat (25/9/2026), sebanyak 98 siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik, Jawa Timur, mendapatkan pengalaman belajar yang unik. Mereka diajak mendalami dunia kopi, tidak hanya sebagai penikmat, tetapi juga untuk mengasah keterampilan yang berpotensi menjadi peluang usaha menjanjikan di masa depan. Kegiatan ini membekali siswa dengan pemahaman komprehensif tentang kopi.
Suasana Aula Lantai 2 Smamdela Gresik pagi itu dipenuhi aroma khas kopi yang semerbak. Biji-biji kopi yang semula tampak sederhana, satu per satu masuk ke dalam grinder, diolah menjadi bubuk halus yang siap untuk diseduh, menandakan dimulainya sesi praktik yang menarik.
Bagi 98 siswa kelas XI yang hadir, kopi pada hari itu bukan lagi sekadar minuman favorit yang kerap mereka pesan di berbagai kedai. Kopi bertransformasi menjadi objek pembelajaran interaktif yang dapat mereka sentuh, racik sendiri, cicipi, dan yang terpenting, dipandang sebagai sebuah keterampilan berharga dengan potensi nilai jual yang tinggi.
Inisiatif edukatif ini diwujudkan melalui kegiatan kokurikuler yang diberi judul “Ngopi Berilmu: Rahasia Cita Rasa Kopi Bersama Barista” oleh pihak Smamdela.
Untuk membimbing para siswa, Smamdela mengundang Ahmad Muslikhul Amin. Beliau adalah pemilik kafe el.kopi, seorang Barista Bersertifikat BNSP, sekaligus penerima beasiswa pelatihan dari Disnaker Gresik di Medan. Ahmad hadir untuk membuka wawasan siswa agar mereka dapat mengenal kopi secara lebih mendalam, melampaui sekadar kenikmatan secangkir minuman.
Pembelajaran dimulai dengan pengenalan mendalam tentang kopi. Para siswa diajak memahami anatomi buah kopi serta mengenal berbagai jenis kopi yang populer, seperti Arabika, Robusta, Liberika, hingga Ekselsa.
Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan betapa krusialnya proses sangrai (roasting) dan beragam teknik barista dalam membentuk cita rasa unik yang akan tersaji di setiap cangkir kopi.
“Cita rasa kopi kuncinya di saat sangrai dan barista,” terang Ahmad Muslikhul Amin, menekankan pentingnya dua tahapan tersebut.
Penekanan Ahmad tersebut kemudian langsung diimplementasikan dan dibuktikan di meja praktik.
Setelah memahami teori dasar, siswa beralih ke sesi praktik. Mereka terlibat langsung dalam proses menggiling biji kopi, menakar bahan, menyiapkan air, hingga akhirnya mencoba menyeduh kopi sendiri. Dalam praktik ini, mereka menggunakan campuran (blend) biji kopi Arabika sebanyak 60 persen dan Robusta 40 persen.
Selain itu, para siswa juga diperkenalkan dengan beragam teknik penyeduhan kopi, mulai dari metode penyaringan (filter) hingga teknik yang memanfaatkan tekanan, dengan menggunakan berbagai perangkat seduh yang berbeda.
overlooks Pemandangan di aula berubah, tangan-tangan siswa yang biasanya sibuk memegang buku kini cekatan mengolah bahan kopi. Mata mereka tampak fokus mengikuti setiap gerakan terampil yang ditunjukkan oleh barista.
Antusiasme terlihat jelas; beberapa siswa mendekat ke meja praktik, tak ingin melewatkan satu pun tahapan. Berbagai pertanyaan pun mengalir, bahkan banyak yang menyentuh aspek-aspek teknis dalam penyeduhan kopi.
Jasmine Azzura, siswi dari kelas XI IPS, misalnya, menanyakan tentang standar kualitas kopi dan faktor-faktor yang menentukan nilai cita rasa. Sementara itu, Meara Royan menunjukkan ketertarikannya dengan mengajukan pertanyaan seputar proses fermentasi pada kopi.
Tidak ketinggalan, Akhtar dari kelas XI IPA 1 mendalami lebih jauh tentang metode manual brew, ukuran gilingan yang ideal, serta bagaimana mengatur resep Japanese coffee agar takaran air, jumlah kopi, suhu, dan es dapat menghasilkan cita rasa yang konsisten sesuai keinginan.
Melalui serangkaian pertanyaan mendalam tersebut, pemahaman siswa tentang kopi bergeser secara signifikan, dari sekadar komoditas yang dikonsumsi menjadi sesuatu yang dipahami secara ilmiah dan teknis.
Para siswa kini menyadari bahwa secangkir kopi dengan cita rasa istimewa tidak hanya bergantung pada jenis biji kopi semata. Terdapat berbagai faktor lain yang sangat memengaruhi hasil akhir, seperti proses pengolahan, takaran yang tepat, teknik penyeduhan, dan tentu saja, keterampilan sang peracik.
Pengalaman langsung mencicipi hasil racikan kopi menjadikan pengetahuan teoritis tersebut terasa semakin konkret bagi siswa. Mutiara Bintang, siswi kelas XI, mengungkapkan keterkejutannya terhadap cita rasa kopi Robusta yang diracik langsung oleh Ahmad.
“Seger, enak, nggak kerasa kopi banget, tapi pas rasanya endul. Ini tadi kopi robusta buatan Mas Amin langsung,” ujar Mutiara dengan antusias, menggambarkan pengalamannya.
Smamdela secara konsisten berupaya memperluas jenis pengalaman belajar semacam ini melalui berbagai kegiatan kokurikuler. Filosofi pembelajaran di sekolah ini menekankan bahwa edukasi tidak berhenti pada tahap pemahaman teori, melainkan bergerak maju saat siswa aktif mencoba dan menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Yuyun Minarti, S.E., selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Smamdela, memberikan dorongan kepada seluruh siswa. Ia berharap mereka tidak hanya berani mencoba hal baru, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengaplikasikan keterampilan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.
“Berani belajar dan bertanya agar bisa mempraktikkan di rumah dalam meracik secangkir kopi agar punya nilai yang lebih tinggi, atau bahkan bisa mengembangkannya jadi kegiatan entrepreneur,” tegas Yuyun, memotivasi siswa untuk melihat potensi kewirausahaan.
Melalui kegiatan kokurikuler tentang kopi ini, sekolah berharap siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan sesaat. Mereka diharapkan dapat membawa pulang keterampilan tersebut sebagai “oleh-oleh” berharga, mempraktikkannya kembali di rumah, dan bahkan mengembangkannya menjadi sebuah usaha mandiri.
Harapan mulia ini sangat selaras dengan tujuan utama kegiatan, yaitu membekali para siswa dengan hard skill yang konkret. Keterampilan ini diharapkan menjadi salah satu bekal penting menuju kemandirian ekonomi setelah mereka menuntaskan jenjang pendidikan.
Penting untuk dipahami bahwa keterampilan berharga tidak selalu muncul dari mata pelajaran formal yang terasa jauh dari rutinitas sehari-hari. Seringkali, keterampilan justru dapat tumbuh dan berkembang dari hal-hal yang sudah akrab dan dekat dengan kehidupan siswa itu sendiri.
Kopi merupakan salah satu contoh nyata dari fenomena tersebut. Banyak siswa dari generasi sekarang telah mengenal dan menjadikan kopi sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.
Akan tetapi, pada pagi kegiatan tersebut, peran mereka tidak lagi hanya sebagai penikmat pasif. Mereka mengambil posisi di sisi lain meja, mencoba berdiri sebagai kreator, menjadi sosok yang meracik dan membuat minuman kopi.
Momen inilah yang membuat proses pembelajaran terasa lebih relevan dan dekat dengan dunia nyata. Rasa ingin tahu siswa terjawab melalui praktik langsung, teori-teori yang dipelajari teruji melalui pengalaman konkret, dan potensi manfaat dari keterampilan yang mereka dapatkan mulai terlihat jelas.
Tentu saja, kegiatan ini tidak serta-merta berarti bahwa setiap siswa akan langsung menjadi barista profesional. Pun, tidak semua siswa diwajibkan untuk segera membuka kedai kopi setelah mengikuti pelatihan.
Namun, yang terpenting, mereka pulang dengan membawa pemahaman mendalam: bahwa sesuatu yang tampak sederhana pun dapat memiliki nilai dan potensi besar, asalkan dipelajari dengan sungguh-sungguh dan dikerjakan dengan keterampilan yang memadai.
Pagi itu, biji kopi yang diolah dalam grinder tidak hanya sekadar berubah wujud menjadi secangkir minuman yang nikmat.
Di tangan para siswa Smamdela, biji kopi telah bertransformasi menjadi sebuah pengalaman berharga dan, mungkin saja, menjadi salah satu keterampilan esensial yang akan mereka bawa dan kembangkan setelah masa-masa berseragam putih abu-abu mereka berakhir.












