KlikMojok – Kabar duka menyelimuti Malaysia menyusul wafatnya Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali, istri dari mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, pada Senin, 28 September 2026. Kepergian sosok perempuan Melayu yang telah mencapai usia 100 tahun ini sontak menjadi perbincangan hangat, mengingat perannya yang tak lekang mendampingi sang suami di tengah berbagai gejolak politik yang melanda negaranya.
Menurut M. Rohanudin, seorang Praktisi Penyiaran, sejarah perjalanan politik Mahathir Mohamad tidak hanya berkisar pada sosoknya semata. Selama tujuh dekade, di samping figur politik berpengaruh yang telah membentuk wajah Malaysia tersebut, berdiri seorang perempuan teguh yang turut menyaksikan dan menjalani hampir seluruh liku-liku kehidupannya.
Mahathir Mohamad memulai kariernya sebagai seorang dokter muda, kemudian menapaki puncak kekuasaan sebagai perdana menteri, sempat meninggalkan jabatannya, lalu secara mengejutkan kembali ke panggung politik pada usia 92 tahun, hingga kini telah melewati usia satu abad.
Sosok perempuan yang setia mendampingi perjalanan panjang tersebut tak lain adalah Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali.
Tun Dr. Siti Hasmah menghembuskan napas terakhirnya pada Senin, 28 September 2026, di Institut Jantung Negara, Kuala Lumpur, tepat di usianya yang ke-100 tahun. Sementara itu, Mahathir Mohamad kini telah berusia 101 tahun. Kepergian istri mantan perdana menteri pada usia seabad ini memang menarik perhatian dan menjadi topik pembicaraan luas.
Pasangan ini mengikat janji suci pernikahan pada Agustus 1956 dan telah menjalani biduk rumah tangga sebagai suami-istri selama tujuh dekade, yakni 70 tahun. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tujuh orang anak.
Oleh karena itu, wafatnya Tun Dr. Siti Hasmah bukanlah sekadar berita duka mengenai berpulangnya istri seorang mantan perdana menteri semata.
Lebih dari itu, kepergiannya menandai berakhirnya satu babak penting dalam perjalanan panjang sebuah pasangan yang selama tujuh dekade penuh telah hidup berdampingan erat dengan sejarah politik modern Malaysia.
Namun, ada satu aspek krusial yang juga perlu ditekankan: Tun Dr. Siti Hasmah tidak seharusnya hanya dikenang sebagai “istri Mahathir” belaka.
Sesungguhnya, beliau memiliki sejarah dan jejak rekamnya sendiri yang patut diperhitungkan. Jauh sebelum menyandang status sebagai istri seorang perdana menteri, ia telah meniti karier sebagai seorang dokter.
Tun Dr. Siti Hasmah dan Mahathir Mohamad sama-sama menempuh jalur pendidikan kedokteran di institusi bergengsi King Edward VII College of Medicine, Singapura.
Siti Hasmah memulai studinya pada tahun 1947 dan tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya perempuan Melayu di angkatannya kala itu. Ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan lulus sebagai dokter pada tahun 1955.
Setelah itu, kariernya terus berkembang dan menunjukkan dedikasi tinggi di bidang kesehatan masyarakat. Pada tahun 1965, ia menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang mendapatkan penunjukan sebagai Medical Officer di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak.
Tak berhenti di situ, pada tahun 1974, ia kembali mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat posisi State Maternal and Child Health Officer.
Ruang lingkup pengabdiannya sangat luas, meliputi berbagai isu penting seperti kesehatan ibu dan anak, peningkatan kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan, program keluarga berencana, pendidikan kesehatan, upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, hingga perhatian terhadap kesehatan mental.
Salah satu pencapaian internasionalnya terjadi pada tahun 1985, ketika ia memenuhi undangan dari Nancy Reagan untuk menghadiri First Ladies’ Conference on Drug Abuse di Washington. Setelah itu, ia juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh World Federation for Mental Health.
Jelaslah bahwa Tun Dr. Siti Hasmah bukanlah sosok perempuan yang hanya “berdiri di belakang” seorang pemimpin, melainkan figur yang memiliki peran aktif dan kontribusi nyata.
Ia adalah seorang dokter yang berdedikasi, seorang pelopor dalam bidang kesehatan masyarakat, seorang ibu dari tujuh orang anak, sekaligus perempuan tangguh yang secara mandiri menjalankan berbagai bentuk pengabdian publiknya.
Mahathir Mohamad membangun dan memperluas pengaruhnya utamanya melalui jalur politik. Sementara itu, Tun Dr. Siti Hasmah membangun reputasi dan pengaruhnya melalui jalur kedokteran serta pelayanan masyarakat.
Meskipun menempuh dua jalan yang berbeda, kedua jalur pengabdian ini akhirnya bertemu dan menyatu dalam satu ikatan kehidupan yang harmonis, terjalin selama tujuh dekade.
Tun Dr. Siti Hasmah telah mengenal sosok Mahathir jauh sebelum dunia mengenalnya sebagai seorang pemimpin besar. Keduanya telah menjalin perkenalan sejak masa muda mereka.
Setelah itu, mereka melangsungkan pernikahan pada tahun 1956. Sekitar seperempat abad kemudian, tepatnya pada tahun 1981, Mahathir Mohamad ditunjuk menjadi perdana menteri Malaysia. Ia memegang tampuk kepemimpinan selama 22 tahun sebelum akhirnya melepaskan jabatannya pada tahun 2003.
Lima belas tahun setelah mundur, Mahathir kembali aktif di panggung politik. Pada tahun 2018, di usianya yang ke-92 tahun, secara mengejutkan Mahathir kembali dilantik sebagai perdana menteri.
Selama seluruh perubahan dan pasang surut ini, Tun Dr. Siti Hasmah senantiasa berada di sisi Mahathir. Kehadirannya tetap teguh mendampingi sang suami, bahkan ketika Mahathir kembali menduduki pusat kekuasaan setelah bertahun-tahun lamanya absen dari pemerintahan.
Inilah bagian dari kisah yang seringkali terabaikan atau luput dari perhatian, terutama ketika sejarah cenderung terlalu sibuk dengan pencatatan kiprah seorang pemimpin besar.
Seorang pemimpin umumnya dikenang melalui deretan jabatan yang pernah dipegangnya, kebijakan-kebijakan strategis yang dibuatnya, pidato-pidato inspiratifnya, serta keputusan-keputusan politik krusial yang diambilnya.
Namun, pasangan hidup justru menjadi saksi bisu bagi sisi-sisi kehidupan yang tidak selalu terekam dalam arsip negara. Mereka menyaksikan langsung kehidupan keluarga, perubahan yang dibawa oleh usia, momen-momen sulit, dan seluruh aspek kehidupan pribadi yang tersembunyi di balik sorotan publik.
Tun Dr. Siti Hasmah telah menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri. Kini, setelah tujuh dekade, Mahathir Mohamad harus melanjutkan perjalanannya tanpa kehadiran sang istri tercinta.
Setelah 70 tahun mengarungi bahtera pernikahan, ini adalah kali pertama Mahathir harus menjalani sisa kehidupannya tanpa kehadiran perempuan yang telah mendampinginya setia sejak masa muda mereka.
Momen ini bukan lagi sekadar persoalan politik atau kenegaraan. Ini adalah tentang kehilangan yang sangat mendalam dan bersifat pribadi bagi seorang mantan perdana menteri yang ditinggalkan istrinya.
Meskipun demikian, ada satu perjalanan yang tak mungkin terulang lagi: perjalanan hidup yang telah dilalui bersama Tun Dr. Siti Hasmah. Posisinya dalam sejarah tidak bisa direduksi hanya sebagai catatan kaki dalam narasi besar Mahathir.
Seringkali, ketika seorang perempuan menikah dengan tokoh besar atau pemimpin berpengaruh, sejarah cenderung melekatkan identitas perempuan tersebut sepenuhnya dengan nama sang suami.
Namun, Tun Dr. Siti Hasmah berhasil menegaskan identitasnya sendiri dan menciptakan sejarahnya sendiri. Memang benar ia adalah istri Mahathir Mohamad, namun lebih dari itu, ia adalah seorang dokter perempuan Melayu yang memiliki segudang prestasi dan dedikasi luar biasa dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara.
Ia telah menjadi seorang pelopor dalam bidang kesehatan masyarakat. Di samping itu, ia juga sukses membesarkan tujuh orang anak. Dedikasinya juga terlihat dalam berbagai kegiatan sosial dan kesehatan yang dilaksanakannya, yang berhasil menjangkau lapisan masyarakat yang sangat luas.
Selama tujuh puluh tahun, ia setia mendampingi seorang tokoh yang perjalanan politiknya telah menjadi bagian integral dan krusial dari sejarah Malaysia.
Dengan demikian, ia bukanlah sekadar bayangan dari Mahathir. Sebaliknya, ia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah itu sendiri, yang berjalan secara berdampingan dengan Mahathir.
Itulah mungkin cara yang paling adil dan tepat untuk mengenang sosoknya. Mahathir Mohamad akan terus dikenang atas kontribusi dan perjalanan politiknya yang monumental.
Namun, Tun Dr. Siti Hasmah juga layak dikenang secara independen atas perjalanan hidup serta pengabdiannya yang luar biasa. Sejarah kedua tokoh ini kemudian bertemu dan terjalin dalam sebuah ikatan pernikahan yang kokoh, yang berlangsung selama tujuh dekade.
Rentang tujuh puluh tahun itu meliputi berbagai fase kehidupan: masa muda yang penuh cita-cita, pembangunan keluarga, pengembangan profesi, dinamika kekuasaan, perubahan zaman yang terus bergulir, dan pada akhirnya, perpisahan abadi.
Kini, satu di antara mereka telah menyelesaikan seluruh perjalanannya di dunia ini. Sejarah, pada akhirnya, telah memisahkan mereka berdua. Demikianlah kisah wafatnya istri seorang mantan perdana menteri.
Selamat jalan, Tun Dr. Siti Hasmah Mohd Ali.












