KlikMojok – Setiap pagi, sebelum mengantar putranya melewati gerbang sekolah, seorang ibu selalu mengusap kepala anaknya dengan perasaan cemas yang mendalam. Anaknya, Reno, memiliki perawakan yang kecil dibanding teman-teman seusianya; bahunya sempit, lengannya kurus, dan kedua kakinya tampak rapuh seolah belum sepenuhnya siap menghadapi dunia. Di tengah kerumunan teman-temannya, Reno sering terlihat seperti ranting kecil yang terselip di antara batang-batang pohon besar, memicu kekhawatiran sang ibu.
Di mata sang ibu, Reno adalah anak yang terlalu mudah terluka atau patah. Oleh karena itu, setiap kali Reno pulang dari sekolah dengan lutut yang memerah, siku yang lecet, atau bibir yang sedikit bengkak, ibunya secara otomatis menarik kesimpulan yang sama. Dua kata saja sudah cukup untuk mengisi dada sang ibu dengan kemarahan yang membara. Ia membayangkan suasana kelas yang kejam, anak-anak yang terlalu kasar, dan teman-teman yang tidak mengerti bahwa tubuh kecil anaknya membutuhkan perlakuan yang lebih lembut.
Namun, sang ibu tidak pernah membayangkan bahwa di dalam kelas, justru Reno-lah yang sering menjadi pemicu keributan, seperti percikan api yang kerap dilemparkan ke tumpukan jerami. Sang guru mengenal Reno sebagai anak yang sulit untuk diam. Setiap kali guru menerangkan materi pelajaran di depan kelas, mata Reno selalu menemukan hal lain yang jauh lebih menarik perhatiannya.
Sebagai contoh, ketika guru berkata, “Teman-teman, hari ini kita akan belajar tentang tanaman obat keluarga atau toga,” Reno sudah sibuk berbisik-bisik kepada teman di sebelahnya. Ada kalanya ia menyembunyikan penghapus milik temannya. Di kesempatan lain, ia tiba-tiba melepas peci dari kepala temannya, lalu melemparkannya begitu saja, dan berpura-pura tidak melakukan apa-apa ketika anak itu menoleh ke arahnya. Lima menit kemudian, suasana kelas akan kembali tenang seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Reno bertindak seperti angin kecil yang tidak pernah merasa perlu meminta izin kepada jendela untuk masuk dan keluar.
Entah dari mana datangnya tenaga, Reno selalu punya energi untuk mengganggu teman-temannya. Ada hari ketika ia menyenggol bahu temannya. Ada pula hari ketika ia mengajak seorang anak berlari mengelilingi kelas, meskipun sang guru sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ruang kelas bukanlah lapangan untuk bermain. Yang lucu, justru ketika permainan itu berbalik kepadanya, ia akan menangis. Ketika ia menjahili anak yang tubuhnya lebih kuat, lalu anak itu membalas dengan dorongan yang sedikit lebih keras, Reno akan jatuh. Ia akan bersikap seolah-olah dirinya tidak pernah menyalakan api pemicu keributan, seolah-olah ia hanyalah seseorang yang kebetulan berdiri terlalu dekat dengan kebakaran yang terjadi.
Sang guru beberapa kali berniat menjelaskan semua ini kepada ibunya. Namun, selalu saja ada sesuatu yang membuat percakapan itu tertunda. Mungkin, di dalam hati kecil sang guru, ia juga merasa takut merusak cara seorang ibu memandang anaknya. Sebab, seorang ibu memiliki cara tersendiri untuk mencintai. Ia akan melihat luka yang diderita anaknya terlebih dahulu, daripada tangan yang menyebabkan luka itu.
Hari itu, udara terasa begitu panas. Pendingin ruangan di dalam kelas tidak mampu membuat suasana menjadi sejuk; ia hanya mengaduk-aduk udara pengap dari satu sudut ke sudut lain, sementara keringat perlahan menggenang di pelipis anak-anak, dan kegaduhan mereka tumbuh seperti rumput liar yang tak sempat dicabut. Saat itu, sang guru sedang menerangkan cara menanam tanaman obat keluarga. Ia menggambar jahe dan kunyit di papan tulis, lalu bertanya, “Siapa yang tahu bagaimana cara menanam jahe dan kunyit?”
Sementara itu, di sudut kelas, Reno sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Lalu, ia mengambil penghapus milik seorang anak. Sampai seorang anak lain yang juga sedang berlari dari arah berlawanan tidak sempat menghindar. Dan dalam satu detik yang begitu cepat, Reno jatuh. Anak yang menabraknya berdiri kaku dengan wajah pucat. Tangannya menggantung lemas di sisi tubuhnya. Begitu mudahnya membuat siapa pun merasa bersalah dalam situasi tersebut. Dan untuk sesaat, sang guru melihat apa yang selama ini dilihat oleh ibunya; Reno masih duduk sambil memeluk lututnya sendiri.
“Anak saya memang sering jadi korban, ya, Ustazah?” Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Untuk pertama kalinya, sang guru tidak segera menjawab. Ia memandang papan tulis yang masih menyisakan dua gambar tanaman obat keluarga. Reno mengintip ke arah sang guru dari balik rambutnya. Ada juga rasa takut bahwa sebuah rahasia kecil akan terbuka. Setelah beberapa saat, sang guru memberanikan diri. “Bu,” katanya pelan, “saya ingin bercerita tentang hari-hari Reno di kelas.”
Sang guru melanjutkan, “Reno memang beberapa kali terluka. Tetapi tidak selalu karena dia dijahili.” Ia tidak ingin membuat sang ibu merasa gagal menjadi seorang ibu. Sang guru hanya ingin ibunya tahu bahwa anaknya bukan sekadar korban, melainkan juga seorang anak yang sedang belajar memahami batas-batas. Reno sedang belajar bahwa bercanda bisa menyakiti. Bahwa tangan yang ringan bagi dirinya mungkin terasa berat bagi orang lain. Bahwa menangis setelah mendapat balasan bukan berarti ia tidak pernah memulai. Bahwa tubuh yang kecil tidak selalu berarti hati yang tidak punya keberanian untuk mengusik dunia. Pesan ini disampaikan bukan dengan menyalahkan atau menghakimi, melainkan dengan sesuatu yang barangkali jauh lebih sulit daripada keduanya: pengertian.
Keesokan paginya, Reno datang ke kelas seperti biasa. Hari itu, sang guru kembali berdiri di depan kelas. “Teman-teman, hari ini kita akan belajar tentang….” Dan seperti biasa, Reno mulai berbisik kepada teman di sebelahnya. Namun, kali ini, belum sempat sang guru berkata apa-apa, Reno sudah menepuk bahu temannya, lalu mengangkat telunjuk ke bibir, memberi isyarat untuk diam.
Anak-anak tidak pernah benar-benar datang ke sekolah hanya untuk belajar membaca warna, angka, atau nama-nama binatang. Mereka datang untuk belajar menjadi manusia. Dan kadang-kadang, pelajaran berharga itu tidak tertulis di papan tulis. Tidak pula bisa selesai dalam satu jam pelajaran. Ada anak yang harus belajar bahwa ia tidak selalu menjadi korban. Ada ibu yang harus belajar bahwa mencintai anak bukan berarti selalu membelanya. Ada guru yang harus belajar bahwa di balik satu luka, selalu ada cerita yang lebih panjang daripada apa yang terlihat. Dan ada kita semua yang sesekali perlu bertanya sebelum menunjuk: Benarkah seseorang terluka karena ia tidak bersalah, atau karena kita belum melihat seluruh cerita?












