KlikMojok – Madura Institute bersama Yayasan H. Her Peduli Indonesia telah menyalurkan sembilan tangki air bersih ke sembilan lokasi di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang mengalami dampak kekeringan. Penyaluran bantuan air bersih ini, yang terakhir dilakukan pada Rabu (28/10/26), merupakan bagian dari upaya kolaboratif yang tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara mendesak, tetapi juga untuk mendorong penanganan kekeringan yang lebih terpadu dan penguatan infrastruktur guna menjamin ketersediaan air dalam jangka panjang.
Bantuan vital ini didistribusikan ke sejumlah desa yang sangat membutuhkan di Kecamatan Sepulu dan Kecamatan Konang, wilayah yang secara konsisten menghadapi kekeringan parah. Proses penyaluran berlangsung dengan khidmat dan mendapatkan sambutan antusias dari masyarakat setempat. Air bersih sangat esensial bagi mereka, terutama untuk keperluan minum dan memasak sehari-hari, sehingga kehadirannya menjadi harapan besar.
Madura Institute sendiri merupakan sebuah lembaga yang berdedikasi untuk melakukan kajian mendalam mengenai berbagai arah perkembangan dan permasalahan ketertinggalan yang ada di Pulau Madura. Enam bulan sebelum aksi penyaluran ini, lembaga tersebut telah secara khusus membahas dan menyoroti persoalan kekeringan yang melanda wilayah Madura.
Dalam kajian komprehensif yang telah dilakukan, Madura Institute mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab krisis air bersih di Pulau Madura. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi geografis pulau yang khas, minimnya area resapan air yang efektif, serta pola penanganan kekeringan yang selama ini cenderung bersifat reaktif, bukan proaktif.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Madura Institute, Muhari AS, menyampaikan keprihatinannya. Pada Rabu (28/10/26), ia menegaskan, “Kondisi di Madura setiap tahun selalu mengalami kekeringan di beberapa titik, setiap bantuan tetesan air bersih adalah harapan setiap masyarakat yang terdampak kekeringan.”
Muhari AS lebih lanjut menekankan pentingnya adanya tindakan nyata yang dapat diimplementasikan dengan cepat. Menurutnya, langkah-langkah ini harus berfungsi ganda, yaitu sebagai solusi langsung untuk mengatasi kesulitan dan sebagai strategi mitigasi untuk mengurangi beban berat yang ditanggung masyarakat. Ia menyoroti bahwa masalah kekeringan ini tidak hanya terbatas pada beberapa lokasi, melainkan telah terjadi di ratusan desa yang tersebar di berbagai kabupaten di Madura.
Selain respons cepat, Madura Institute juga telah melakukan kajian mendalam yang berfokus pada pembangunan infrastruktur permanen untuk air bersih, pengembangan mitigasi terpadu terhadap kekeringan, serta analisis lebih lanjut mengenai faktor geografis dan lingkungan yang berperan. Kajian tersebut juga secara spesifik membahas efektivitas pola penanganan yang selama ini bersifat reaktif dan mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang dapat diambil guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dalam jangka panjang.
Muhari AS berpendapat bahwa penanganan persoalan kekeringan ini membutuhkan pendekatan yang terpadu dan menyeluruh. Dengan demikian, warga yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih dapat segera memperoleh bantuan yang mereka perlukan.
Menurut Muhari, selain inisiatif gerakan sosial dari berbagai pihak, dukungan yang kuat dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memiliki peran yang sangat krusial. Dukungan ini diperlukan untuk memperkuat upaya penanganan di wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan. “Persoalan kekeringan di Madura harus menjadi perhatian bersama. Kami berharap BNPB turun tangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan masyarakat terdampak kekeringan mendapatkan bantuan air bersih,” pungkas Muhari.












