Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Hujan Tak Lagi Menyimpan Janji: Kerentanan Jawa Barat di Tengah Krisis Air dan Kerusakan DAS

badge-check

Ketika Hujan Tak Lagi Menyimpan Janji: Kerentanan Jawa Barat di Tengah Krisis Air dan Kerusakan DAS Perbesar

KlikMojok – Hamparan sawah yang biasanya hijau subur kini mengering, sungai-sungai menyusut, dan sumur-sumur tak lagi menyisakan air. Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat, memicu krisis air bersih yang mendalam, bukan semata-mata fenomena musiman. Lebih dari sekadar panjangnya musim kemarau, persoalan ini ternyata berakar pada meningkatnya kebutuhan air masyarakat serta menurunnya kemampuan Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam menyimpan cadangan vital kehidupan.

Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng., Pakar Hidrologi dan Pengelolaan DAS dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan bahwa krisis air terjadi ketika kebutuhan masyarakat melampaui ketersediaan sumber daya air. “Kalau bicara mengenai krisis air itu ada dua hal kemungkinan. Yang pertama karena kebutuhan itu lebih tinggi daripada ketersediaan. Sehingga secara neraca air, kebutuhan untuk akses air lebih besar daripada ketersediaan air itu sendiri,” jelas Hatma melalui siaran pers yang diterima.

Kondisi Jawa Barat menjadi sorotan khusus. Secara karakteristik iklim, wilayah ini relatif lebih basah, bahkan memiliki curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, fakta bahwa wilayah dengan curah hujan melimpah ini pun kini menghadapi kelangkaan air, mengisyaratkan adanya masalah yang lebih kompleks dari sekadar fluktuasi iklim. “Kalau sampai wilayah yang menerima atau memiliki input hujan yang lebih banyak saja kekurangan air, berarti ada dua kemungkinan besar. Satu, memang kebutuhannya semakin lama semakin tinggi. Sehingga ketika ketersediaan itu terbatas, muncul krisis air, atau memang ada kerusakan sistem DAS,” katanya.

Tekanan Penduduk dan Perubahan Fungsi Lahan: Akar Persoalan DAS yang Kritis

Pertumbuhan populasi yang terus meningkat secara langsung turut mendongkrak tekanan terhadap sumber daya air. Kebutuhan air melonjak di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, hingga beragam aktivitas ekonomi lainnya. Di sisi lain, lingkungan memiliki batasan kapasitas dalam menyediakan dan menyimpan air. Persoalan ini menjadi semakin rumit ketika terjadi perubahan fungsi lahan, terutama di kawasan hulu DAS.

Kawasan hulu yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air, kini banyak terdesak oleh pembangunan permukiman dan kegiatan produksi. Akibatnya, area resapan berkurang drastis, dan kemampuan tanah untuk menahan air hujan pun ikut menurun. “Ketika fungsi resapan hilang maka tidak ada air hujan yang dapat ditahan dan ditampung dalam sistem DAS. Semua air itu jadi air permukaan kemudian mengalir ke sungai. Maka kondisi DAS di Pulau Jawa itu juga semakin lama semakin kritis,” terang Hatma. Air hujan yang semestinya dapat tersimpan sebagai cadangan untuk musim kemarau, kini justru lebih cepat mengalir menjadi aliran permukaan, membuat ketersediaan air di musim kering menjadi sangat rentan.

Perubahan Iklim: Kenormalan Baru yang Mendesak Perencanaan Jangka Panjang

Hatma juga mengingatkan bahwa perubahan pola iklim global menuntut pengelolaan sumber daya air yang lebih strategis dan berorientasi jangka panjang. Fenomena seperti El Niño dan La Niña, menurutnya, tidak lagi cukup dipahami sebagai kejadian anomali yang muncul sesekali. Dampak perubahan iklim kini semakin nyata dan harus diintegrasikan ke dalam setiap perencanaan pengelolaan air. “Saya memandang bahwa dampak perubahan iklim ini sudah makin nyata dan kita sudah mengalaminya. Kita harus memahami ini bukan sebagai sebuah anomali, tetapi memang ini adalah sebuah kenormalan baru dari iklim di dunia termasuk di Indonesia,” tuturnya.

Oleh karena itu, penanganan kekeringan tidak bisa lagi ditunda hingga masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air. Sistem DAS perlu diperkuat secara fundamental agar mampu menghadapi perubahan pola hujan dan kondisi iklim yang semakin ekstrem. Hatma menjelaskan, pengelolaan DAS pada dasarnya berkaitan dengan menjaga keseimbangan neraca air. DAS tidak hanya berfungsi sebagai saluran air, tetapi juga harus mampu menyimpan air saat musim hujan untuk menjadi cadangan di musim kemarau. “Intinya mengelola DAS itu mengelola neraca air. Air itu kemudian akan dipergunakan untuk produktivitas, mulai dari kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, industri sampai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Solusi Jangka Pendek dan Urgensi Pemulihan Jangka Panjang

Dalam situasi krisis air yang akut, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki memang menjadi langkah darurat yang tak terhindarkan. Upaya ini sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kesulitan mengakses air. “Dalam jangka pendek itu solusi yang paling memungkinkan. Karena kebutuhan air itu mutlak. Penanganan jangka pendek itu dengan cara suplai air,” kata Hatma.

Namun, Hatma menekankan bahwa distribusi air bersih hanyalah solusi sementara yang tidak menyelesaikan akar persoalan dalam jangka panjang. Upaya pemulihan kawasan resapan harus segera dilakukan agar DAS kembali memiliki kemampuan vitalnya dalam menyimpan air. “Kalau ada fungsi resapan ya harus dipulihkan fungsi resapannya,” tegasnya.

Pemulihan fungsi DAS menjadi krusial karena kekeringan berkepanjangan dapat menimbulkan dampak berantai yang meluas. Persoalan tidak berhenti pada berkurangnya pasokan air bersih, tetapi dapat merembet ke sektor pertanian, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan. Hatma mengatakan keterbatasan air dapat mengganggu aktivitas masyarakat secara fundamental. Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran. “Kalau yang paling terkena itu dari sektor ekonomi dan sektor kesehatan. Kalau kesehatan itu terganggu maka anak-anak tidak bisa sekolah. Maka pendidikan juga akan terganggu. Jadi dampaknya cukup banyak,” ungkapnya.

Tanggung Jawab Bersama Menjaga Keberlanjutan DAS

Hatma menilai bahwa menjaga keberlanjutan DAS bukanlah tugas yang bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau lembaga khusus pengelola sumber daya air. Petani, masyarakat umum, pelaku industri, dan seluruh pengguna air perlu mengambil peran aktif dalam menjaga kondisi DAS. Kesadaran kolektif ini penting agar pemanfaatan air tetap seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan. “Semua pihak harus aware terkait dengan bagaimana kita memastikan bahwa sistem DAS itu bekerja dengan baik. Tidak hanya orang-orang yang ditugasi mengelola DAS, tetapi semua orang harus aware dengan DAS,” tuturnya.

Sektor industri juga memiliki peran penting. Penggunaan air dalam skala besar harus diimbangi dengan kontribusi nyata terhadap pengelolaan DAS dan perlindungan kualitas sumber daya air. Bagi masyarakat, upaya menjaga ketersediaan air dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti menggunakan air secara efisien sebagai langkah sederhana mengurangi tekanan terhadap sumber daya air. “Karena air itu sifatnya tidak tak terbatas, maka mari kita lebih bijak dalam menggunakan air. Kalau kita lebih hemat menggunakan air, berarti kita masih menyediakan air untuk kebutuhan yang lain, baik kebutuhan ekosistem maupun kebutuhan manusia,” katanya.

Menjaga sumber daya air, menurut Hatma, mencakup dua aspek fundamental: kuantitas dan kualitas. Kuantitas dapat dijaga melalui penggunaan air yang hemat, sementara kualitas perlu dilindungi dengan mencegah pencemaran lingkungan. “Setiap individu itu melakukan dua hal, menjaga kualitas dan menjaga kuantitas. Menjaga kuantitasnya dengan cara kita hemat air. Menjaga kualitasnya dengan cara kita tidak mencemari lingkungan supaya airnya tidak kotor,” pungkasnya. Hanya dengan kesadaran dan tindakan kolektif, janji air untuk kehidupan dapat terus kita jaga di tengah tantangan iklim yang tak menentu.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Gunung Sampah Membara: Pertarungan Melawan Api di TPA Belahantengah Mojokerto

27 Sep 2026 - 18:46 WIB

Ketika Gunung Sampah Membara: Pertarungan Melawan Api di TPA Belahantengah Mojokerto

Mengantar Amanah Kemanusiaan: Perjalanan Penuh Tantangan Lazismu Menuju Korban Gempa Flores

27 Sep 2026 - 18:45 WIB

Mengantar Amanah Kemanusiaan: Perjalanan Penuh Tantangan Lazismu Menuju Korban Gempa Flores

Kolaborasi Aisyiyah-Muhammadiyah: Kunci Penguatan Cabang, Ranting, dan Masjid

27 Sep 2026 - 18:44 WIB

Kolaborasi Aisyiyah-Muhammadiyah: Kunci Penguatan Cabang, Ranting, dan Masjid

Ketika Asap Menjelma Api: Tragedi Kebakaran Kandang di Bondowoso dan Pentingnya Edukasi Pembakaran Limbah Ternak

27 Sep 2026 - 15:18 WIB

Ketika Asap Menjelma Api: Tragedi Kebakaran Kandang di Bondowoso dan Pentingnya Edukasi Pembakaran Limbah Ternak

Nafas yang Terhenti di Pangarengan: Tragedi Kecelakaan Remaja Sampang dan Pelajaran yang Terlupa

27 Sep 2026 - 15:18 WIB

Nafas yang Terhenti di Pangarengan: Tragedi Kecelakaan Remaja Sampang dan Pelajaran yang Terlupa
Trending di Pendidikan