KlikMojok – Pada hari Sabtu, 3 Oktober 2026, sebuah inisiatif penting diselenggarakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik. Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, berkolaborasi dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik, mengadakan Upgrading Paham Akidah dan Ibadah. Acara ini ditujukan khusus bagi para kepala sekolah dan guru Ismuba di seluruh amal usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan se-Kabupaten Gresik, dengan tujuan memperkuat pemahaman keislaman mereka.
Kegiatan pembekalan yang berlangsung di lokasi tersebut berfokus pada dua tema sentral. Pertama, peserta mendalami pemahaman akidah yang selaras dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Kedua, mereka juga membahas teori dan praktik ibadah yang konsisten dengan pedoman HPT Muhammadiyah.
Drs. Zakariya, selaku Ketua MTT PDM Gresik, menyampaikan penekanan kuat mengenai kedudukan krusial guru Ismuba—yang merupakan singkatan dari Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab—dalam memastikan terpeliharanya pemahaman keislaman yang benar di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Dalam kesempatan tersebut, Drs. Zakariya secara lugas menyatakan, “Guru Ismuba sebagai pengawal di sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk meneruskan produk-produk tarjih.”
Lebih lanjut, Zakariya menjelaskan bahwa peran guru Ismuba tidak hanya sebatas menyampaikan informasi. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa hasil-hasil putusan Tarjih Muhammadiyah tidak hanya sekadar diketahui, melainkan juga dipahami secara mendalam dan diimplementasikan secara konsisten, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari di seluruh lingkungan sekolah.
Sementara itu, Muhammad Thoha Mahsun, M.Pd.I., M.Hes., selaku Ketua PDM Gresik, dalam sambutannya menyoroti betapa vitalnya penguatan pemahaman Kemuhammadiyahan bagi seluruh guru dan karyawan, khususnya bagi mereka yang baru bergabung dengan amal usaha Muhammadiyah.
Beliau secara aktif mendorong pembentukan program D1 Kemuhammadiyahan. Program ini dirancang khusus untuk guru dan karyawan baru, dan diinisiasi melalui kerja sama antara MTT dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik.
Menurut Thoha, materi yang akan diajarkan dalam program tersebut dapat mencakup aspek akidah dan ibadah, serupa dengan topik-topik yang telah dibahas dalam kegiatan upgrading yang baru saja diselenggarakan.
Thoha juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap fakta bahwa masih ditemukan guru dan karyawan di beberapa sekolah Muhammadiyah yang praktik akidah, akhlak, atau ibadahnya belum sepenuhnya selaras dengan pedoman Tarjih Muhammadiyah.
Menurut pandangannya, salah satu faktor penyebab kondisi ini adalah adanya kelonggaran yang selama ini diterapkan dalam menyikapi perbedaan praktik keagamaan di lingkungan AUM.
Dengan nada tegas, ia mengemukakan, “Muhammadiyah itu terlalu pemaaf. Akibatnya banyak ditemui guru karyawan di sekolah Muhammadiyah yang tidak sesuai dengan tarjih Muhammadiyah, baik secara akidah, akhlak maupun ibadah.”
Thoha mengingatkan bahwa Muhammadiyah telah memiliki Himpunan Putusan Tarjih (HPT) yang berfungsi sebagai pedoman utama, didukung pula dengan berbagai pengajian yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman seluruh warga Persyarikatan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya untuk memahami dan mengamalkan pedoman tersebut dengan tingkat konsistensi yang lebih tinggi.
Menutup pernyataannya, ia menyampaikan kritik, “Sudah ada HPT, ada pengajian, masih ditawar saja.”












