KlikMojok – Pemandangan tak biasa mewarnai Gedung TP PKK Kabupaten Lumajang pada Sabtu, 26 September 2026. Dalam sebuah acara bakti sosial layanan kesehatan, Mars Sang Surya, lagu kebanggaan Muhammadiyah, bergema lantang. Yang menarik, lagu tersebut bukan hanya dinyanyikan oleh kader Muhammadiyah, melainkan juga oleh ibu-ibu Tim Penggerak PKK Lumajang, yang mayoritas adalah istri camat se-Kabupaten Lumajang dan istri lurah di wilayah perkotaan. Momen ini menandai sebuah kolaborasi unik antara Lazismu Lumajang, TP PKK Kabupaten Lumajang, dan Komda PGPKT.
Sebelum Mars Sang Surya dilantunkan, suasana di Gedung TP PKK Kabupaten Lumajang telah diisi dengan semangat kebangsaan dan keorganisasian. Para peserta, termasuk ibu-ibu PKK, berdiri tegap saat lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang, memenuhi ruangan dengan irama yang sudah sangat akrab di telinga seluruh masyarakat Indonesia. Selanjutnya, “Mars PKK” menggema, dan para ibu yang hadir dengan kompak mengikuti setiap lirik lagu, menegaskan identitas mereka sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan keluarga.
Namun, suasana berubah menjadi lebih istimewa ketika lagu berikutnya mulai diperdengarkan. Nada-nada Mars Sang Surya secara perlahan memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang berbeda. Lagu yang secara luas identik dengan berbagai kegiatan resmi Muhammadiyah tersebut, pada pagi itu, terdengar sangat unik. Pasalnya, bukan hanya warga Muhammadiyah yang melantunkannya, melainkan juga ibu-ibu kader PKK, yang sebagian besar merupakan istri dari para camat di seluruh Kabupaten Lumajang serta istri lurah di wilayah perkotaan.
Momen kolaborasi langka ini merupakan bagian integral dari kegiatan bakti sosial layanan kesehatan. Acara tersebut mencakup skrining pendengaran dan layanan bersih-bersih telinga, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Milad ke-24 Lazismu. Bakti sosial ini adalah hasil kerja sama antara Lazismu Lumajang, Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang, dan Komda PGPKT, yang bertempat di Gedung TP PKK Lumajang pada hari Sabtu, 26 September 2026.
Bagi sebagian besar peserta dari kalangan ibu-ibu PKK, Mars Sang Surya kemungkinan besar merupakan lagu yang baru pertama kali mereka dengar secara langsung dalam konteks formal. Saat bait-bait lagu mulai mengalun, beberapa peserta terlihat fokus memperhatikan layar proyektor yang menampilkan lirik, berusaha untuk mengikuti setiap kata. Sementara itu, sebagian peserta yang berada di bagian belakang ruangan tampak sedikit menunduk, agar dapat membaca teks lagu dengan lebih jelas. Berbeda dengan mereka, kader Muhammadiyah yang sudah terbiasa melantunkan lagu ini terdengar lebih lantang dan fasih mengikuti setiap baitnya, menunjukkan kekompakan mereka.
Pemandangan tersebut menciptakan suasana yang sangat menarik dan penuh makna. Sebuah lagu yang sarat dengan semangat perjuangan dan identitas Muhammadiyah, Mars Sang Surya, kini bergema di tengah-tengah kegiatan kolaborasi yang melibatkan organisasi perempuan di luar struktur resmi Muhammadiyah, yaitu PKK. Ini menunjukkan adanya titik temu dan sinergi antar-organisasi yang berbeda.
Menariknya, sebelum acara bakti sosial ini dimulai, sempat muncul sebuah pertanyaan dari Said Romdhon, yang menjabat sebagai Manajer Lazismu Lumajang. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan rencana untuk menyanyikan Mars Sang Surya dalam acara tersebut. Said Romdhon mengungkapkan kekhawatirannya dengan bertanya, “Apa ada Mars Sang Surya nanti? Karena yang hadir bukan warga Muhammadiyah.”
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan penuh keyakinan oleh Aziz Fahrurrozi. Ia berpendapat bahwa melantunkan lagu tersebut justru akan menjadi bagian penting dari upaya pengenalan nilai-nilai dan semangat Muhammadiyah kepada khalayak yang lebih luas. Aziz Fahrurrozi menegaskan, “Tidak apa-apa, Mas. Ini bagian dari dakwah dan mengenalkan Muhammadiyah kepada ibu-ibu PKK.”
Dengan adanya keyakinan tersebut, susunan acara tetap berjalan sesuai rencana. Setelah lagu “Indonesia Raya” dan “Mars PKK” selesai dilantunkan, Mars Sang Surya kemudian menjadi lagu penutup dalam rangkaian lagu kebangsaan dan organisasi pada pagi itu. Menariknya, dirigen yang memimpin lagu tersebut bukanlah sosok yang secara khusus ditunjuk dari internal Muhammadiyah, melainkan Cihndy Vionariska. Ia dikenal sebagai salah satu kader Aisyiyah yang juga aktif tergabung dalam Tim Penggerak PKK Lumajang. Aziz Fahrurrozi kemudian berujar, “Karena ada Mars Sang Surya yang akan dinyanyikan, Mbak Cihndy jadi dirigen ya.” Dengan gerakan tangan yang mengarahkan irama, Cihndy memimpin seluruh peserta untuk menyanyikan Mars Sang Surya, dan perlahan, suara para peserta mulai menyatu, mengikuti alunan lagu tersebut dengan harmonis.
Bagi para kader Muhammadiyah, Mars Sang Surya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah lagu kebangsaan organisasi. Di setiap bait dan nadanya, terkandung semangat perjuangan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, serta pesan dakwah yang kuat untuk senantiasa menghadirkan Islam sebagai kekuatan pencerahan bagi seluruh aspek kehidupan umat.
Pada pagi yang bersejarah itu, gema Mars Sang Surya tidak hanya berfungsi sebagai lagu pengiring acara resmi Muhammadiyah semata. Lebih dari itu, lagu tersebut bertransformasi menjadi sebuah ruang perkenalan yang efektif, sebuah jembatan kecil yang menghubungkan Muhammadiyah dengan masyarakat luas, khususnya melalui kolaborasi sosial yang terjalin dengan Tim Penggerak PKK.
Dari sebuah inisiatif layanan kesehatan sederhana yang berfokus pada skrining pendengaran dan kebersihan telinga, muncul sebuah narasi baru tentang beragamnya cara dakwah dapat disampaikan. Dakwah tidak selalu harus melalui mimbar ceramah, melainkan juga bisa hadir melalui program-program sosial yang bermanfaat, pelayanan langsung kepada masyarakat, bahkan melalui sebuah lagu seperti Mars Sang Surya yang secara perlahan mulai dikenal dan diterima oleh individu-individu di luar lingkaran Muhammadiyah. Pada hari itu, Gedung TP PKK Lumajang bukan hanya menjadi lokasi penyelenggaraan layanan kesehatan; lebih dari itu, di sana, semangat pencerahan “Sang Surya” turut menyinari dan mempererat ruang kolaborasi yang harmonis antara Lazismu, Muhammadiyah, dan seluruh elemen masyarakat Lumajang.












