Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Kepribadian Muhammadiyah: Pedoman Akhlak dan Profesionalisme Modern

badge-check

Kepribadian Muhammadiyah: Pedoman Akhlak dan Profesionalisme Modern Perbesar

KlikMojok – Pada Sabtu, 12 September 2026, puluhan karyawan Rumah Sakit Umum Muhammadiyah (RSUM) Lumajang berkumpul di Rumah Makan Alka Lumajang untuk mengikuti kegiatan Baitul Arqam. Acara ini bertujuan mengajak peserta menyelami kembali makna Kepribadian Muhammadiyah, tidak hanya sebagai profesional, tetapi juga sebagai individu yang mencerminkan nilai-nilai Islam berkemajuan di tengah kehidupan modern.

Sebagai bagian dari upaya kaderisasi, kegiatan ini menghadirkan Drs. Aminudin, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang yang secara khusus membidangi pengkaderan, sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, Drs. Aminudin membawakan materi dengan judul “Kepribadian Muhammadiyah: Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Modern,” yang relevan dengan tantangan zaman.

Aminudin menjelaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah manifestasi dari sikap, sifat, dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap warga Muhammadiyah, dengan landasan utama yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia menegaskan, “Tujuan dari Kepribadian Muhammadiyah adalah membentuk manusia muslim yang sebenar-benarnya dan mampu beramal untuk masyarakat.”

Lebih lanjut, Aminudin menguraikan bahwa konsep Kepribadian Muhammadiyah ini secara resmi diperkenalkan dan disahkan dalam forum Tanwir Muhammadiyah yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1969. Sejak momen bersejarah tersebut, Kepribadian Muhammadiyah telah menjadi salah satu pedoman fundamental bagi seluruh warga Muhammadiyah, membimbing mereka dalam menjalani kehidupan sebagai individu muslim yang utuh sekaligus sebagai bagian integral dari gerakan dakwah yang lebih luas.

Dalam pemaparannya yang mendalam, Aminudin kembali menekankan bahwa fondasi utama dari Kepribadian Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari dua sumber nilai dan akhlak yang paling otentik, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di samping itu, Muhammadiyah juga secara konsisten mengedepankan prinsip ijtihad sebagai metode untuk menjawab berbagai tantangan zaman yang terus berkembang. Organisasi ini juga menjunjung tinggi tajdid, sebuah upaya pemurnian dan pembaharuan ajaran Islam, serta senantiasa memegang teguh semangat amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

“Islam tidak hanya dipahami sebagai ajaran yang diyakini, tetapi juga harus diwujudkan dalam perilaku dan tindakan nyata,” tegasnya. Selanjutnya, Aminudin merinci sepuluh ciri utama dari Kepribadian Muhammadiyah yang wajib melekat dan terinternalisasi dalam diri setiap kader dan anggota. Ciri-ciri tersebut meliputi: beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki akhlak mulia, cerdas dan berilmu, sehat jasmani dan rohani, disiplin dalam setiap tindakan, bertanggung jawab atas setiap amanah, mandiri dalam berusaha, bekerja keras untuk kemajuan, hidup sederhana, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta mencintai tanah air dan senantiasa membela kebenaran.

Aminudin menekankan bahwa menjadi seorang warga Muhammadiyah tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan intelektual semata. Lebih dari itu, mereka juga harus dibekali dengan kekuatan spiritual yang kokoh dan akhlak yang mulia. Dalam aspek ibadah, ia secara khusus mengingatkan para peserta akan pentingnya menjalankan setiap ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Selain itu, menjaga kekhusyukan dalam beribadah, menjauhi segala praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni, serta menjadikan shalat, zakat, puasa, haji, zikir, dan doa sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas kehidupan sehari-hari, menjadi poin krusial.

Sementara itu, dalam aspek akhlak, warga Muhammadiyah diharapkan mampu membangun dan memelihara hubungan yang harmonis dan baik, baik itu dengan Allah SWT, sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Ia merinci, “Kepada Allah kita harus taat, tawakal, dan bersyukur. Kepada sesama manusia kita harus jujur, amanah, saling menolong, dan menghargai. Sedangkan kepada alam, kita memiliki tanggung jawab sebagai khalifah untuk menjaganya.”

Lebih jauh lagi, Aminudin memaparkan bahwa kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui dakwah lisan semata, melainkan juga melalui dakwah dengan tindakan nyata dan berbagai karya konkret. “Dakwah Muhammadiyah dilakukan melalui bil lisan, bil hal, dan bil qolam,” ungkap Aminudin. “Wujudnya dapat kita lihat melalui amal usaha Muhammadiyah seperti sekolah, perguruan tinggi, pesantren, rumah sakit, klinik, panti, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat.”

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Aminudin mengingatkan bahwa setiap warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menjadi pribadi yang nasionalis sekaligus religius. Hal ini diwujudkan dengan menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945, menjaga toleransi antarumat beragama, aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa, serta secara tegas menolak segala bentuk radikalisme dan kekerasan.

Menurutnya, era kehidupan modern saat ini menyajikan tantangan yang semakin kompleks. Arus informasi yang bergerak sangat cepat, maraknya penyebaran hoaks, munculnya budaya individualisme dan materialisme, serta degradasi moral yang sering terjadi di media sosial, merupakan beberapa tantangan serius yang harus dihadapi dengan karakter dan kepribadian yang kuat. “Solusinya adalah memperkuat literasi Islam, literasi digital, dan pendidikan karakter,” pesannya dengan tegas. “Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.”

Dengan demikian, kegiatan Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh RSU Muhammadiyah Lumajang ini berhasil menjadi forum penting untuk mengingatkan kembali seluruh peserta bahwa bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak hanya sekadar menjalankan profesi, melainkan juga merupakan sebuah bentuk pengabdian yang tulus. Pasalnya, seorang kader Muhammadiyah sejati diharapkan tidak hanya datang dengan bekal kemampuan profesional, tetapi juga harus senantiasa membawa serta nilai-nilai luhur dalam setiap tindakan dan interaksinya. Mereka bekerja dengan berlandaskan ilmu pengetahuan, melayani dengan sepenuh hati, dan bergerak maju dengan semangat dakwah yang tak pernah padam.

Pada akhirnya, Kepribadian Muhammadiyah bukanlah sekadar konsep teoritis yang hanya tertulis dalam buku atau materi pelatihan. Lebih dari itu, ia adalah representasi nyata dari wajah Islam yang hidup dan termanifestasi dalam setiap tindakan: beriman, berakhlak mulia, berilmu pengetahuan, dan senantiasa memberikan manfaat bagi sesama.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Lebih dari Coretan: Pembacaan Gambar Siswa di Sekolah Kreatif Baratajaya Jadi Fondasi Pembelajaran Personal

7 Okt 2026 - 18:46 WIB

Lebih dari Coretan: Pembacaan Gambar Siswa di Sekolah Kreatif Baratajaya Jadi Fondasi Pembelajaran Personal

Terungkapnya Misteri Molekul Kiral: Nobel Kimia 2026 untuk Kagan dan Soai dalam Sintesis Asimetris

7 Okt 2026 - 18:44 WIB

Terungkapnya Misteri Molekul Kiral: Nobel Kimia 2026 untuk Kagan dan Soai dalam Sintesis Asimetris

Dari Ember ke Akar Masalah: Bojonegoro Mengurai Benang Kusut Bencana dengan Solusi Jangka Panjang

7 Okt 2026 - 15:18 WIB

Dari Ember ke Akar Masalah: Bojonegoro Mengurai Benang Kusut Bencana dengan Solusi Jangka Panjang

Jalan Mulus Lintas Selat Bali: Pelajaran Keselamatan dan Komitmen Menuju Zero ODOL 2027

7 Okt 2026 - 15:18 WIB

Jalan Mulus Lintas Selat Bali: Pelajaran Keselamatan dan Komitmen Menuju Zero ODOL 2027

Jurnalistik sebagai Media Dakwah: Santri SMA eLKISI Mendalami Etika dan Teknik Penulisan Berita

7 Okt 2026 - 15:17 WIB

Jurnalistik sebagai Media Dakwah: Santri SMA eLKISI Mendalami Etika dan Teknik Penulisan Berita
Trending di Pendidikan