KlikMojok – Pada hari Senin, 5 Oktober 2026, Kepala SMA Al-Fattah, Ridwan Manan, secara tegas mengajak para santri untuk berani menulis dan menuangkan gagasan mereka dalam bentuk karya tulis. Ajakan ini disampaikan dalam sambutannya pada Kegiatan Literasi bertema “Santri Berkarya, Pesantren Mendunia” yang berlangsung di Masjid Baiturrahim, Pondok Pesantren Al-Fattah, Buduran, Sidoarjo. Manan menekankan bahwa santri tidak cukup hanya dengan berbicara dan mendengarkan; mereka harus berani menghasilkan karya tulis agar ilmu serta ide-ide mereka dapat terus dibaca dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, bahkan melampaui usia penulisnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Manan mendorong para santri untuk memanfaatkan Kegiatan Literasi ini sebagai momentum penting. Ia berharap mereka dapat memulai perjalanan menulis dan mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah mereka tekuni sebelumnya.
“Walaupun sudah meninggal dunia, tulisannya tetap ada,” ujar Ridwan Manan, menggarisbawahi keabadian sebuah tulisan. Sebagai ilustrasi, ia merujuk pada karya-karya ulama terdahulu yang hingga kini masih menjadi bahan pembelajaran di berbagai pesantren. Melalui kitab-kitab yang mereka susun, warisan ilmu para ulama tersebut terus dapat diakses dan dipelajari oleh generasi penerus.
Manan juga berpandangan bahwa kebiasaan membaca dan menulis merupakan fundamental bagi para santri, yang tidak boleh diabaikan. Ia menghubungkan kedua aktivitas tersebut dengan nilai-nilai ajaran Islam, seraya mengingatkan bahwa setiap ilmu yang dimiliki perlu dituangkan dalam bentuk tulisan agar dapat diakses dan dibaca oleh khalayak luas.
Dorongan untuk menulis ini tidak hanya sekadar ajakan, tetapi juga disertai dengan harapan besar agar para santri mampu menjadi agen perubahan melalui karya-karya mereka. Manan secara spesifik meminta para peserta untuk tidak hanya puas mendengarkan materi, melainkan aktif menggali serta menuliskan setiap gagasan yang muncul dalam benak mereka masing-masing.
“Harus ada perubahan besar dari para santri ini,” tegasnya. Ia menyatakan harapannya agar di masa depan, tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh santri dapat turut serta mengubah dunia dan mendorong kemajuan di era mereka. Untuk mewujudkan aspirasi tersebut, Ridwan Manan menekankan bahwa langkah awal yang krusial adalah memiliki keberanian untuk menulis.
Pada kesempatan sambutannya, kepala sekolah juga berbagi pengalaman pribadinya dalam belajar menulis. Ia mengakui bahwa keberaniannya untuk menulis baru tumbuh setelah ia mendapatkan bimbingan yang tepat. Berangkat dari pengalaman tersebut, ia mengajak para santri untuk memberikan kesempatan kepada diri sendiri dalam mencoba kegiatan-kegiatan yang mungkin pada awalnya tidak mereka sukai.
Sebagai contoh, Ridwan Manan menceritakan pengalamannya dengan genre cerita pendek. Sebelumnya, ia mengaku tidak terlalu menyukai membaca cerpen. Namun, setelah mengikuti pelatihan khusus dan mencoba sendiri untuk menulisnya, ia justru mulai menemukan kenikmatan dalam kegiatan tersebut.
Pengalaman pribadi ini disampaikan Ridwan Manan dengan tujuan untuk membangkitkan semangat para santri yang mungkin belum memiliki ketertarikan pada dunia tulis-menulis. Menurutnya, sebuah kebiasaan dapat terbentuk dan berkembang melalui kemauan untuk mencoba serta latihan yang konsisten. Oleh karena itu, rasa tidak suka di awal tidak seharusnya menjadi penghalang atau alasan untuk menutup diri dari peluang belajar.
Secara khusus, Ridwan Manan memberikan dorongan kepada santri kelas X agar mulai berani menghadapi berbagai tantangan baru. Ia meminta para santri untuk berani melakukan hal-hal yang mungkin belum lazim mereka kerjakan, termasuk dalam hal menuangkan setiap pemikiran dan gagasan mereka ke dalam bentuk tulisan.
“Harus berani dengan sesuatu yang baru, dengan sesuatu yang tidak biasa,” demikian pesannya. Ia melanjutkan dengan meminta para santri untuk aktif menggali setiap gagasan yang mereka miliki dan mengolahnya menjadi sebuah karya tulis yang tidak hanya baik, tetapi juga menarik untuk dibaca oleh orang lain.
Mengakhiri sambutannya, Ridwan Manan mengajak seluruh santri untuk memulai perjalanan menulis ini dengan tekad yang kuat dan bulat. Ia juga tidak lupa memohon doa agar para santri diberikan kemampuan untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas.












