KlikMojok – Minggu pagi, 27 September 2026, seharusnya menjadi hari yang tenang di Desa Binakal, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso. Namun, ketenangan itu mendadak sirna ketika gumpalan asap tebal membubung tinggi, disusul lidah api yang menjilat-jilat. Sebuah praktik yang lumrah dilakukan para peternak—pembakaran kotoran sapi—tanpa disadari telah menyulut bencana, merembet menjadi kebakaran kandang dan lahan milik warga, mengingatkan betapa vitalnya pemahaman akan risiko dalam pengelolaan limbah pertanian.
Di banyak pedesaan, pembakaran kotoran ternak adalah metode tradisional yang sering dipilih untuk membersihkan kandang atau bahkan sebagai upaya sederhana mengusir serangga. Namun, di balik kemudahan praktisnya, tersimpan potensi bahaya yang mengintai, terutama saat musim kemarau atau kondisi lingkungan yang kering. Tepat pukul 10.00 WIB, Minggu itu, sebuah percikan kecil dari tumpukan kotoran sapi yang dibakar, entah karena angin atau kelalaian, mulai menjalar tak terkendali.
Api yang semula kecil itu dengan cepat membesar, melahap material kering di sekitarnya. Kobaran api kemudian menjalar ke kandang dan lahan milik seorang warga bernama Idris. Kasi Pemadam Kebakaran pada Satpol PP Bondowoso, Taufik Hidayat, mengonfirmasi sumber insiden ini. “Api berasal dari pembakaran kotoran sapi kemudian merembet ke kandang dan lahan,” kata Taufik, menjelaskan kronologi awal yang diterima pihaknya.
Warga sekitar yang menyadari bahaya yang mengancam, tidak tinggal diam. Dengan sigap, mereka bergotong royong melakukan upaya pemadaman secara manual, menggunakan alat seadanya demi mencegah api semakin meluas. Solidaritas warga juga berhasil menyelamatkan hewan-hewan ternak yang berada di dalam kandang, memindahkan mereka ke tempat aman sebelum api benar-benar membesar dan menelan seluruh bangunan.
Tak lama setelah laporan diterima petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bondowoso sekitar pukul 10.15 WIB, tim Damkar segera bergegas menuju lokasi kejadian. Proses pemadaman berlangsung intensif. Sesampainya di tempat, petugas dengan cekatan melakukan penyemprotan air, bekerja keras memadamkan setiap titik api yang masih menyala, memastikan tidak ada lagi bara yang berpotensi menyulut kembali.
Upaya penanganan darurat ini tidak hanya melibatkan Damkar. Personel Damkar mendapat bantuan dari berbagai pihak, menunjukkan sinergi yang kuat antara aparat dan masyarakat. Polsek Binakal, Koramil Binakal, perangkat desa setempat, serta masyarakat sekitar bahu-membahu turut membantu dalam proses pemadaman. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam mengendalikan situasi dan mencegah kerugian yang lebih besar.
Syukurlah, insiden kebakaran ini tidak menyebabkan korban jiwa. Namun, dampak material tetap tak terhindarkan. Kerugian akibat kejadian itu diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta, sebuah angka yang tidak kecil bagi sebagian warga pedesaan. Setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan dan situasi dinyatakan aman, petugas Damkar Bondowoso kembali ke markas, bersiaga untuk tugas darurat lainnya, meninggalkan pelajaran penting bagi semua.
Peristiwa di Binakal ini adalah cermin dari dilema yang sering dihadapi masyarakat pedesaan: antara praktik tradisional yang telah turun-temurun dengan tuntutan akan keamanan dan keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks pendidikan, insiden pembakaran kotoran sapi yang berujung pada kebakaran ini menjadi momentum berharga untuk meningkatkan kesadaran. Edukasi mengenai alternatif pengelolaan limbah ternak yang lebih aman, seperti pembuatan kompos atau biogas, bukan hanya tentang mencegah bencana, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem pertanian yang lebih lestari dan produktif. Kisah api di Bondowoso ini mengajarkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, memiliki konsekuensi, dan pengetahuan adalah kunci untuk mengelola risiko tersebut demi keselamatan bersama.












