Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Dari Bakaran Sampah ke Dapur yang Hangus: Kisah Sukaryono di Situbondo dan Pentingnya Edukasi Pencegahan Kebakaran

badge-check

Dari Bakaran Sampah ke Dapur yang Hangus: Kisah Sukaryono di Situbondo dan Pentingnya Edukasi Pencegahan Kebakaran Perbesar

KlikMojok – Minggu siang di Dusun Krajan, Desa Jatibanteng, Situbondo, seharusnya menjadi waktu tenang bagi Sukaryono (58). Namun, rutinitas sederhana membakar sampah sisa rumput pakan sapi di kandang dekat rumahnya berubah menjadi musibah yang tak terduga. Kobaran api yang mulanya kecil dan tak terhiraukan, perlahan menjilat dinding dapur, meninggalkan jejak hangus dan kerugian. Peristiwa ini bukan sekadar berita kebakaran, melainkan sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan dan edukasi pencegahan kebakaran, terutama dari tindakan sehari-hari seperti pembakaran sampah.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Sukaryono membakar tumpukan sampah sisa rumput pakan sapi. Setelah api terlihat menyala, ia beranjak untuk memperbaiki pagar kandang, meninggalkan bara yang masih menyimpan potensi bahaya. Kelalaian sesaat itu berbuah petaka. Satu setengah jam kemudian, sekitar pukul 12.30 WIB, Sukaryono dikejutkan oleh pemandangan yang tak diinginkan: api sudah membakar dinding dapur rumahnya. “Sekitar pukul 12.30 WIB, pemilik melihat api sudah membakar dinding dapur. Kemudian berteriak meminta pertolongan dan warga langsung bergotong royong memadamkan api,” terang Puriyono, Koordinator Pusdalops BPBD Situbondo, menggambarkan detik-detik mencekam itu.

Sigap, warga Dusun Krajan bahu-membahu memadamkan api dengan peralatan seadanya. Air dari ember dan selang seadanya digunakan untuk memerangi jilatan api yang mulai melahap bangunan semi permanen tersebut. Sekitar pukul 13.00 WIB, api berhasil dikendalikan. Setelah api padam, warga tak berhenti di situ; mereka melanjutkan proses pembasahan untuk memastikan tak ada lagi bara yang bersembunyi, siap menyulut kembali. Beruntung, insiden ini tidak menelan korban jiwa maupun luka-luka. Namun, kerusakan material tak terhindarkan. Dinding dapur berukuran sekitar 5 meter x 3 meter dengan tinggi 3 meter mengalami kerusakan ringan. “Kerugian material ditaksir sekitar Rp1 juta. Untuk korban jiwa maupun luka-luka nihil,” tambah Puriyono, memberikan rincian dampak finansial yang harus ditanggung Sukaryono.

Kasus kebakaran dapur di Jatibanteng, Situbondo, ini adalah cerminan dari bahaya yang seringkali disepelekan: pembakaran sampah tanpa pengawasan. Tindakan yang sering dianggap remeh ini menyimpan potensi risiko yang besar, terutama jika dilakukan di dekat bangunan atau material yang mudah terbakar. Puriyono menegaskan kembali imbauan penting bagi masyarakat untuk selalu berhati-hati. “Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merembet apabila ditinggalkan tanpa pengawasan,” pesannya, mengingatkan bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Edukasi mengenai mitigasi bencana, termasuk pencegahan kebakaran, menjadi sangat krusial agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Pasca-kejadian, tim gabungan dari Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Situbondo segera bergerak ke lokasi. Mereka tidak sendiri; unsur kecamatan, TNI-Polri, pemerintah desa, Tagana, serta warga turut serta dalam peninjauan dan asesmen. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen dalam menangani dampak bencana dan sekaligus menjadi bagian dari upaya sosialisasi bahaya kebakaran kepada masyarakat.

Kisah Sukaryono dan dapur yang hangus di Jatibanteng, Situbondo, menjadi pengingat yang gamblang. Dari tumpukan sampah sisa pakan sapi yang terbakar, kita belajar bahwa api, sekecil apa pun, menuntut rasa hormat dan kewaspadaan penuh. Ini adalah panggilan untuk setiap individu, agar lebih bijak dalam mengelola risiko di sekitar lingkungan tempat tinggal, memastikan bahwa rutinitas sederhana tidak berujung pada penyesalan yang mendalam. Edukasi dan kesadaran kolektif adalah kunci untuk mencegah api kecil menjadi bencana yang lebih besar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Sumur Mengering, Harapan Mengalir: PMI Pamekasan dan Komitmen Air Bersih untuk Pesantren

14 Sep 2026 - 21:07 WIB

Ketika Sumur Mengering, Harapan Mengalir: PMI Pamekasan dan Komitmen Air Bersih untuk Pesantren

Lebih dari Sekadar Pertemuan: Taman Senja Aisyiyah Sidoarjo Wujudkan Lansia Sehat, Bahagia, dan Berdaya

14 Sep 2026 - 21:06 WIB

Lebih dari Sekadar Pertemuan: Taman Senja Aisyiyah Sidoarjo Wujudkan Lansia Sehat, Bahagia, dan Berdaya

Pencarian Lima Jurnalis dan Awak Kapal di Selat Sunda Diperpanjang: Evaluasi Risiko Liputan Bencana

14 Sep 2026 - 21:04 WIB

Pencarian Lima Jurnalis dan Awak Kapal di Selat Sunda Diperpanjang: Evaluasi Risiko Liputan Bencana

Perpaduan Dakwah dan Petualangan: Bikersmu Kulon Progo Lantik Pengurus Baru di Lereng Gunung Sumbing

14 Sep 2026 - 18:47 WIB

Perpaduan Dakwah dan Petualangan: Bikersmu Kulon Progo Lantik Pengurus Baru di Lereng Gunung Sumbing

Pengembangan Keterampilan Santri: Giat Pramuka eLKISI di Gua Gembyang Mojokerto

14 Sep 2026 - 15:17 WIB

Pengembangan Keterampilan Santri: Giat Pramuka eLKISI di Gua Gembyang Mojokerto
Trending di Pendidikan