KlikMojok – Benda yang seringkali dianggap tidak bernilai ternyata dapat bertransformasi menjadi sumber pembelajaran yang berharga. Inilah yang terjadi di SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A, di mana murid kelas 2 secara langsung diajak untuk memahami isu-isu lingkungan melalui kegiatan inovatif.
Pada hari Selasa, 1 September 2026, para siswa tersebut mengikuti sebuah kegiatan kokurikuler yang berfokus pada pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Dalam kegiatan ini, mereka melakukan pengamatan mendalam terhadap berbagai jenis sampah anorganik yang ditemukan di area sekolah.
Dengan mengusung tema ‘Sampahku, Kreasiku, Bumiku Lestari’, aktivitas ini dirancang bukan hanya untuk sekadar meminta murid memungut sampah. Lebih jauh lagi, para guru bertujuan membimbing siswa agar dapat memahami dan menganalisis permasalahan konkret yang ada di lingkungan sekitar mereka.
Proses pembelajaran melibatkan serangkaian langkah, dimulai dari mengumpulkan informasi melalui pengamatan langsung, kemudian mengelompokkan temuan, mencatat hasil pengamatan, hingga berdiskusi mengenai dampak yang ditimbulkan oleh sampah terhadap lingkungan.
Pada hari pelaksanaan kegiatan, seluruh lingkungan SD Mugres Kampus A bertransformasi menjadi laboratorium belajar yang interaktif bagi para siswa. Mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, lalu menyusuri setiap sudut area sekolah untuk mengamati dan mengidentifikasi keberadaan sampah anorganik.
Dilandasi oleh rasa ingin tahu yang tinggi, setiap murid dengan cermat memperhatikan beragam jenis sampah yang mereka temui. Setelah itu, mereka melakukan proses identifikasi dan pengelompokan berdasarkan karakteristik yang diamati.
Setiap kelompok dibekali satu kantong kresek yang berfungsi sebagai wadah untuk memilah dan mengumpulkan sampah anorganik di sekitar lingkungan sekolah. Para guru memfasilitasi kegiatan ini dengan membagi tugas secara sederhana di antara anggota kelompok.
Pembagian tugas meliputi peran mencari dan mengamati, ada yang bertugas mengumpulkan sampah, sementara anggota lain bertanggung jawab memastikan bahwa sampah yang ditemukan telah dikelompokkan dengan benar sesuai jenisnya.
Melalui aktivitas ini, siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama dalam tim. Mereka memahami bahwa penyelesaian suatu permasalahan seringkali membutuhkan kolaborasi dan tidak selalu bisa diselesaikan secara individu.
Oleh karena itu, aspek komunikasi, pembagian tugas yang jelas, dan rasa tanggung jawab menjadi elemen integral yang tak terpisahkan dari keseluruhan kegiatan pembelajaran ini.
Menariknya, proses pembelajaran tidak berhenti pada tahap pemilahan sampah. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, setiap kelompok melanjutkan dengan mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).
Dalam LKPD tersebut, siswa mencatat jenis-jenis sampah yang berhasil mereka temukan selama pengamatan. Mereka juga menyusun laporan sederhana yang merangkum hasil dari seluruh kegiatan.
Tahap ini mengajarkan siswa bagaimana mentransformasi pengalaman langsung menjadi data dan informasi yang konkret. Pengamatan di lingkungan sekolah tidak hanya lewat begitu saja, melainkan dicatat dan kemudian didiskusikan kembali.
Dengan demikian, para siswa mulai diperkenalkan pada proses berpikir ilmiah yang sederhana, meliputi langkah-langkah seperti mengamati, menemukan, mengelompokkan, mencatat, dan menarik kesimpulan.
Hal inilah yang menjadi salah satu keunggulan utama dari kegiatan kokurikuler berbasis STEM. Pembelajaran tidak hanya terpaku pada penyampaian materi oleh guru, melainkan beranjak dari permasalahan nyata yang ditemukan langsung oleh siswa di lingkungan sekitar mereka.
Aspek Science (Sains) terintegrasi melalui kegiatan pengamatan jenis-jenis sampah, serta pemahaman mengenai karakteristik dan dampaknya terhadap ekosistem lingkungan.
Sementara itu, unsur Technology (Teknologi) diperkenalkan melalui pemanfaatan alat dan bahan yang sederhana, yang digunakan untuk mendukung proses pengumpulan dan pemilahan sampah.
Aspek Engineering (Rekayasa) tampak jelas saat siswa melakukan proses pemilahan sampah sebagai sebuah langkah praktis yang sederhana untuk mengatasi permasalahan limbah.
Adapun unsur Mathematics (Matematika) diaplikasikan melalui kegiatan pencatatan dan pengelompokan hasil temuan, yang melibatkan data kuantitatif sederhana.
Pendekatan holistik ini menjadikan STEM terasa lebih dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak-anak. Siswa tidak selalu harus berinteraksi dengan perangkat digital canggih atau melakukan eksperimen yang rumit untuk dapat mempelajari STEM.
Sebaliknya, permasalahan sederhana yang ditemukan di halaman sekolah sekalipun mampu menjadi titik tolak yang efektif untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan solusi inovatif.
Setelah semua kelompok merampungkan tugasnya, para guru memfasilitasi diskusi dengan mengajak siswa membahas dampak sampah terhadap lingkungan. Siswa berkesempatan menceritakan temuan mereka selama pengamatan dan mengaitkannya dengan kondisi riil lingkungan sekolah.
Dari sesi diskusi tersebut, siswa semakin menyadari bahwa keberadaan sampah bukanlah masalah yang remeh. Sampah yang dibuang secara tidak bertanggung jawab dapat mencemari lingkungan dan menurunkan tingkat kenyamanan.
Terlebih lagi, sampah anorganik yang memiliki sifat sulit terurai memerlukan penanganan serta pengelolaan yang sangat tepat dan berkelanjutan.
Christalina Riya Ristanti, S.Pd., selaku guru pengajar, menjelaskan bahwa kegiatan ini secara khusus dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memahami berbagai persoalan lingkungan.
“Kami ingin anak-anak belajar dari masalah yang ada di sekitar mereka. Ketika mereka menemukan sampah, mereka tidak hanya mengambilnya, tetapi juga mengamati, mengelompokkan, mencatat, dan kemudian membahas dampaknya. Dari proses itu, mereka belajar bagaimana memahami sebuah masalah dan mencari solusinya,” ujar Rista.
Ia menambahkan bahwa pendekatan STEM diterapkan kepada murid kelas 2 dengan metode yang sederhana dan disesuaikan dengan tahapan usia mereka. Menurutnya, esensi terpenting adalah memberikan pengalaman belajar yang konkret agar siswa dapat memahami keterkaitan erat antara materi pembelajaran dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak juga belajar bekerja sama dalam kelompok. Mereka belajar berkomunikasi, berbagi tugas, bertanggung jawab, dan menyampaikan hasil pengamatan. Jadi, dalam satu kegiatan mereka mendapatkan banyak pengalaman belajar,” tambahnya.
Antusiasme yang tinggi juga terpancar dari para siswa selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini. Alley Athazaky Budy A., seorang murid dari kelas 2 Siti Munjiyah, mengungkapkan rasa senangnya dapat belajar langsung dengan mengamati dan memilah sampah bersama rekan-rekannya.
“Saya senang mencari sampah bersama teman-teman. Ternyata ada banyak sampah plastik di sekitar sekolah. Setelah ini saya akan membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah,” ujar Alley.
Menurut Alley, kegiatan ini menjadi jauh lebih menyenangkan karena dilaksanakan secara berkelompok. Ia dan teman-temannya saling bergotong royong mencari serta mengumpulkan sampah, sebelum akhirnya mencatat hasil temuan mereka ke dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).












