Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Harmoni Irama Dug-Dug dan Gerak Tari Sekar Bayuangga: Merajut Identitas Probolinggo

badge-check

Harmoni Irama Dug-Dug dan Gerak Tari Sekar Bayuangga: Merajut Identitas Probolinggo Perbesar

KlikMojok – Sore itu, Stadion Bayuangga di Kota Probolinggo bergemuruh, bukan oleh sorak-sorai pertandingan, melainkan oleh tabuhan perkusi yang menghentak dan gemulai gerak tari yang memukau. Sebanyak 455 pemusik dari 13 grup dug-dug, yang selama ini berkembang di sanggar masing-masing, berkolaborasi dengan 300 penari dalam sebuah pertunjukan kolosal bertajuk Tari Sekar Bayuangga. Penampilan akbar ini menjadi puncak kemeriahan Mango Carnival of Indonesia 2026, sebuah perhelatan yang tak hanya merayakan buah mangga, tetapi juga kekayaan seni dan budaya lokal Probolinggo.

Ribuan pasang mata terpaku menyaksikan sinkronisasi luar biasa dari para penampil. Di tengah irama dug-dug yang dimainkan serentak, ratusan penari meliuk, bergerak serempak, menghadirkan sebuah narasi visual yang menonjolkan kekuatan tradisi dan semangat kebersamaan. Ini bukan sekadar pertunjukan biasa; ini adalah panggung perdana yang berhasil menyatukan seluruh sanggar dug-dug di Kota Probolinggo dalam satu sajian berskala besar, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi dunia seni setempat.

Para pemusik yang terlibat berasal dari berbagai sanggar ternama, di antaranya Sawunggaling Ethic Collaboration, Kalimosodo, Sedap Malam, Klabang Songo, Bahana Suara Bayuangga, Gludug Keng Tak Ojen, Lake Perkusi, Jagad Sari, Sri Manis, Kolosebo, Rebumi, Rana Wijaya, dan Jabong Sagere. Di balik megahnya pertunjukan ini, ada sosok Peni Priyono dari Sanggar Bina Tari Bayu Kencana yang bertanggung jawab atas aransemen musik dan tata tari, memastikan setiap nada dan gerakan menyatu harmonis dalam ciptaannya, Tari Sekar Bayuangga.

Kolaborasi epik ini, menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Setyorini Sayekti, merupakan momentum krusial untuk mengangkat potensi kesenian daerah ke permukaan. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bangganya melihat para pelaku seni dari berbagai sanggar mampu bersatu di panggung megah itu. “Kami sangat bangga seluruh pelaku seni dari sanggar dug-dug yang ada di Kota Probolinggo bisa berkolaborasi apik dalam memeriahkan Mango Carnival of Indonesia,” ujarnya, penuh semangat.

Setyorini Sayekti menambahkan bahwa mangga dan musik dug-dug memiliki potensi besar untuk menjadi penanda identitas Kota Probolinggo. Kedua kekuatan lokal ini, lanjutnya, harus terus dipupuk dan dikembangkan agar gaungnya terdengar hingga ke mancanegara. “Dan kedua-duanya adalah sama-sama memegang potensi lokal dari Kota Probolinggo yang diharapkan ke depan akan menjadi ikon dari Kota Probolinggo yang dibanggakan, baik pengunjung nasional maupun internasional,” tegasnya, menyoroti visi jangka panjang pengembangan budaya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Probolinggo, Eva Riani, yang secara resmi membuka acara, menegaskan bahwa musik dug-dug jauh melampaui sekadar hiburan festival. Ia menyebutnya sebagai salah satu pilar budaya daerah yang wajib dijaga kelestariannya. Bahkan, Eva secara khusus mengapresiasi penampilan 13 grup musik dug-dug secara kolosal yang dianggapnya sebagai fenomena langka. “Duk-Duk adalah ciri potensi budaya Kota Probolinggo yang sebenarnya, dan kali ini mereka hadir berjejer secara kolosal dan belum pernah ditemukan di seluruh dunia. Tepuk tangan buat Duk-Duk kita semua,” serunya, disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Namun, apresiasi Eva tidak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahwa semangat kolaborasi antar-sanggar tidak boleh pudar seiring usainya festival. Harapannya, seluruh kelompok musik dug-dug terus memupuk kebersamaan, saling mendukung, dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Kekuatan sejati musik dug-dug, menurutnya, akan terpancar maksimal ketika setiap kelompok mampu melebur dalam konsep pertunjukan yang saling melengkapi. “Mudah-mudahan acara ini terus meningkat kreativitasnya, bukan hanya berjejer seperti ini, terbentuk kerukunan yang luar biasa, masing-masing saling memperkuat sehingga Duk-Duk itu tidak lagi sendiri-sendiri tapi saling melengkapi. Akan terbentuk semacam medley kolosal yang menjadi ciri khas Kota Probolinggo yang tidak ditemukan di daerah lain,” jelasnya, menawarkan visi masa depan seni dug-dug.

Di balik gemerlap pertunjukan budaya ini, Pemerintah Kota Probolinggo juga menargetkan capaian yang lebih ambisius. Penyelenggaraan Mango Carnival of Indonesia diharapkan dapat menembus Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah agenda pariwisata tingkat nasional yang menjadi tolok ukur pengembangan event daerah. Target ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memantapkan posisi Kota Probolinggo sebagai kota penyelenggara event sekaligus destinasi wisata yang kaya akan daya tarik budaya.

Eva Riani menutup dengan menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya, pengembangan seni, hingga pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui pendekatan holistik ini, festival tidak hanya menjadi etalase bagi para seniman, tetapi juga diharapkan memicu dampak ekonomi positif bagi masyarakat. “Pemerintah Kota Probolinggo berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarian budaya, pengembangan seni, pengembangan UMKM, dan tentu dampak akhirnya adalah pertumbuhan bagi masyarakat Kota Probolinggo, sesuai dengan jargon kita adalah Probolinggo Bersolek Luar Biasa,” pungkasnya, menandai sebuah harapan besar bagi masa depan Probolinggo yang bersinar melalui budayanya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Penjaga Sumber Hidup di Kaki Pandan: Suara Warga Bojonegoro Tolak Survei Geotermal

31 Okt 2026 - 15:17 WIB

Penjaga Sumber Hidup di Kaki Pandan: Suara Warga Bojonegoro Tolak Survei Geotermal

Lazismu Jawa Timur Perkuat Edukasi Mitigasi, Dorong AUM Jadi Kawasan Aman Bencana

31 Okt 2026 - 15:17 WIB

Lazismu Jawa Timur Perkuat Edukasi Mitigasi, Dorong AUM Jadi Kawasan Aman Bencana

Mewujudkan Sekolah Aman: Lazismu Jatim Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana dengan APAR di Sidoarjo

31 Okt 2026 - 15:16 WIB

Mewujudkan Sekolah Aman: Lazismu Jatim Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana dengan APAR di Sidoarjo

Mengibarkan Merah Putih di Tanah Papua: Satgas Marinir Menjaga Kedaulatan, Menanam Nasionalisme

31 Okt 2026 - 12:38 WIB

Mengibarkan Merah Putih di Tanah Papua: Satgas Marinir Menjaga Kedaulatan, Menanam Nasionalisme

Melampaui Nilai Rupiah: Kisah Pohon-Pohon Tua di Jalan PB Sudirman Lumajang yang Berakhir di TPA

31 Okt 2026 - 12:38 WIB

Melampaui Nilai Rupiah: Kisah Pohon-Pohon Tua di Jalan PB Sudirman Lumajang yang Berakhir di TPA
Trending di Pendidikan