KlikMojok – Pada Kamis, 22 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, murid-murid kelas V dan VI SDIT Al-Ibrah Gresik bersama para guru melaksanakan salat Istiska di halaman sekolah. Kegiatan ini tidak hanya merupakan ibadah sunah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah Swt. di tengah musim kemarau panjang, tetapi juga menjadi sarana edukasi penting. Melalui salat Istiska, para siswa diajak untuk memahami nilai-nilai ikhtiar, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta mendalami enam karakter utama yang terangkum dalam singkatan SANTRI.
Situasi kemarau panjang yang melanda menjadi latar belakang utama pelaksanaan kegiatan ini. Momen tersebut dimanfaatkan secara optimal untuk menanamkan nilai-nilai keislaman yang mendalam dan meningkatkan kepedulian peserta didik terhadap kondisi lingkungan sekitar. Para murid diajak untuk memahami esensi pentingnya berikhtiar, senantiasa memperbanyak doa, serta berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah Swt. dalam menghadapi setiap situasi dan kondisi kehidupan.
Rangkaian acara salat Istiska ini diawali dengan pelaksanaan zikir pagi dan doa bersama yang dilakukan secara berjamaah. Dalam atmosfer yang penuh kekhusyukan, seluruh murid dan guru bersama-sama memanjatkan permohonan kepada Allah Swt. agar segera menurunkan hujan. Harapan besar tercurah agar hujan yang turun tidak hanya mengakhiri kekeringan, tetapi juga membawa rahmat dan keberkahan yang melimpah bagi seluruh aspek kehidupan.
Setelah sesi doa, Kepala SDIT Al-Ibrah Gresik, Bapak Janan, S.Pd., menyampaikan arahan dan sambutannya. Dalam pidatonya, beliau secara khusus mengingatkan seluruh hadirin bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukanlah sekadar seremonial, melainkan sebuah momentum berharga untuk meneladani semangat dan perjuangan para santri. Perjuangan tersebut meliputi upaya gigih dalam menjaga ajaran agama Islam serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Bapak Janan lebih lanjut mengulas kembali sejarah penting Resolusi Jihad. Resolusi ini diserukan oleh K.H. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945, yang kemudian menjadi titik balik dalam perjuangan kemerdekaan. Seruan heroik tersebut berhasil membangkitkan gelora semangat perjuangan di kalangan para santri, ulama, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu mempertahankan kedaulatan Indonesia. Sejarah perjuangan yang heroik inilah yang menjadi landasan dan alasan kuat di balik penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
Beliau juga menekankan definisi santri yang lebih luas, tidak terbatas pada mereka yang menimba ilmu di pesantren saja. “Santri bukan hanya mereka yang belajar ilmu agama di pesantren. Lebih dari itu, santri adalah generasi yang memiliki tanggung jawab menjaga nilai-nilai Islam, memperjuangkan kebaikan, dan memberikan kontribusi nyata bagi agama, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Menurut Bapak Janan, wujud perjuangan seorang santri di era kontemporer dapat diaktualisasikan melalui beberapa hal. Ini meliputi kesungguhan dalam menuntut ilmu pengetahuan, ketekunan dalam menjaga ibadah, upaya terus-menerus untuk memperbaiki akhlak mulia, serta komitmen untuk senantiasa memberikan manfaat yang positif bagi lingkungan sekitar dan sesama.
Oleh karena itu, beliau menaruh harapan besar agar seluruh murid SDIT Al-Ibrah dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi penerus yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki fondasi keimanan yang kokoh, serta menjunjung tinggi karakter dan akhlak yang Islami dalam setiap aspek kehidupan mereka.
Dalam kesempatan yang sama, Bapak Janan turut mengajak para murid untuk memahami dan menginternalisasi enam karakter utama yang telah dirangkum dalam akronim “SANTRI”. Keenam nilai luhur ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan panduan yang kokoh dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik saat berada di lingkungan sekolah, di rumah, maupun ketika berinteraksi dalam masyarakat luas.
Beliau menguraikan lebih lanjut makna dari karakter SANTRI tersebut dengan penuh semangat. “Jadilah santri yang tidak hanya luas ilmunya, tetapi juga mulia akhlaknya; tidak hanya kuat ibadahnya, tetapi juga besar manfaatnya bagi sesama. Dengan sopan santun, amanah, kejujuran, tawaduk, kerajinan, dan istikamah, insyaallah kita akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan agama, orang tua, sekolah, dan Indonesia,” ungkap Bapak Janan, memberikan motivasi kepada para siswa.
Setelah sambutan yang inspiratif dari Kepala Sekolah, seluruh murid dan guru kemudian bersama-sama menunaikan ibadah salat Istiska. Salat sunah ini dipimpin langsung oleh Bapak Mochammad Chakimmuddin, S.Pd., salah seorang guru Al-Qur’an di SDIT Al-Ibrah. Sementara itu, sesi doa setelah salat dipimpin oleh Bapak Masnun, yang juga merupakan pengajar Al-Qur’an di lembaga pendidikan yang sama.
Melalui pelaksanaan ibadah salat Istiska ini, seluruh peserta diajak untuk merenungkan dan menyadari betapa besar nikmat hujan dari Allah Swt. Hujan adalah anugerah yang memiliki peran fundamental dan sangat berarti bagi keberlangsungan serta kelangsungan hidup seluruh makhluk di bumi, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan.
Lebih dari sekadar ritual, pelaksanaan salat Istiska ini juga berfungsi sebagai pembelajaran praktis dan langsung bagi para murid mengenai cara yang tepat dalam menghadapi berbagai kesulitan. Mereka didorong untuk senantiasa mengiringi setiap usaha lahiriah dengan kekuatan doa, memperbanyak istigfar, dan meningkatkan ibadah lainnya sebagai bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Momen pelaksanaan salat Istiska yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional ini secara kuat menghubungkan pesan-pesan moral dan spiritual dengan semangat keimanan yang kokoh, keteguhan hati, serta nilai pengabdian. Kepedulian yang mendalam terhadap kondisi alam, terutama di tengah kemarau, diwujudkan melalui doa bersama yang tulus agar hujan segera turun dan membawa keberkahan bagi semesta.
Pihak SDIT Al-Ibrah Gresik sangat berharap bahwa kegiatan ini akan secara signifikan membantu para murid untuk memahami makna sejati dari menjadi seorang santri. Makna tersebut mencakup pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan Allah Swt., memiliki akhlak mulia dalam berinteraksi dengan sesama, menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, serta mengembangkan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.
Dengan demikian, peringatan Hari Santri Nasional ini tidak hanya menjadi perayaan, melainkan sebuah kesempatan emas untuk menghidupkan kembali semangat kebaikan dan nilai-nilai luhur dalam setiap aspek keseharian. Seluruh keluarga besar SDIT Al-Ibrah Gresik memanjatkan harapan agar musim kemarau panjang segera berakhir, dan yang terpenting, agar para murid senantiasa tumbuh menjadi pribadi yang beriman teguh, berilmu luas, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat yang besar bagi umat, masyarakat, dan bangsa Indonesia.












