Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Filosofi Daun Kelor: Simbol Ketahanan Palu dalam Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

badge-check

Filosofi Daun Kelor: Simbol Ketahanan Palu dalam Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah Perbesar

KlikMojok – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi meluncurkan logo peringatan Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah yang akan diselenggarakan pada tahun 2026. Uniknya, logo ini mengangkat filosofi mendalam dari daun kelor, sebuah tanaman sederhana namun tangguh yang juga merupakan identitas khas masyarakat Palu, Sulawesi Tengah, lokasi digelarnya Tanwir. Pemilihan daun kelor ini bukan tanpa alasan, melainkan merepresentasikan semangat kehidupan, ketahanan, dan kebermanfaatan yang relevan dengan perjalanan organisasi Muhammadiyah serta pengalaman masyarakat Palu.

Dalam desain logo tersebut, helai-helai daun kelor tidak digambarkan secara realistis, melainkan telah diolah dan dipadukan harmonis dengan angka “114”. Angka ini, yang menandai usia Muhammadiyah, seolah tumbuh dari satu kesatuan daun, sementara pada bagian puncaknya ditempatkan kaligrafi nama Muhammadiyah, memberikan sentuhan spiritual dan identitas yang kuat.

Pilihan penggunaan daun kelor ini bukan semata-mata untuk tujuan estetika. Berdasarkan Standar Identitas Visual Logo Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, daun kelor disebut merepresentasikan “kehidupan, ketahanan, dan kebermanfaatan”. Selain itu, kelor juga dipilih karena menjadi salah satu identitas khas Palu yang lekat dengan kehidupan, budaya, dan potensi daerah tersebut.

Penjelasan serupa juga dipublikasikan oleh Muhammadiyah.or.id, yang menguraikan bahwa angka 114 yang menyatu dengan daun kelor dimaknai sebagai gambaran perjalanan Muhammadiyah yang terus bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu, menunjukkan dinamika dan kesinambungan gerakannya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, turut memberikan makna yang lebih mendalam terhadap tanaman yang sering dianggap sederhana ini. Saat peluncuran logo Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu, 12 September 2026, Haedar Nashir menyebut kelor sebagai tanaman yang “sederhana sekaligus tangguh”. Ia menjelaskan bahwa kelor mampu tumbuh dalam beragam kondisi lingkungan tanpa membutuhkan perawatan yang rumit atau intensif.

Karakteristik daun kelor tersebut, menurut Haedar Nashir, sangat relevan dengan gerakan Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa “kesederhanaan tidak seharusnya membuat sebuah gerakan kehilangan ketangguhan, nilai, dan orientasinya.” Ini menjadi pesan penting bagi para kader dan anggota Muhammadiyah.

Lebih lanjut, Haedar Nashir juga menjuluki kelor sebagai “miracle tree” atau pohon ajaib, mengingat luasnya manfaat yang dimiliki tanaman tersebut bagi kesehatan dan kehidupan. Filosofi kelor kemudian ditarik lebih jauh untuk mencakup nilai-nilai kesederhanaan, ketangguhan, keluasan manfaat, hingga pada akhirnya, kesejahteraan.

Dengan demikian, daun kelor dalam logo ini tidak hanya berfungsi sebagai ornamen lokal yang sekadar menunjukkan lokasi penyelenggaraan acara. Sebaliknya, ia menjadi pintu masuk untuk memahami pesan-pesan esensial yang hendak dibawa oleh Muhammadiyah dari Palu kepada seluruh bangsa.

Keterkaitan antara logo dan kota Palu juga tidak terbatas pada simbol daun kelor semata. Palu, bersama dengan beberapa daerah lain di Sulawesi Tengah, pernah menghadapi bencana alam dahsyat berupa gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada tahun 2018. Bencana tersebut memang meninggalkan kerusakan yang masif, namun di sisi lain, juga melahirkan pengalaman panjang tentang proses pemulihan, daya tahan masyarakat, dan semangat kerja sama yang kuat.

Dalam penjelasan filosofi logo, Muhammadiyah secara eksplisit mengaitkan pengalaman tragis tersebut dengan ketahanan masyarakat Palu yang luar biasa. Muhammadiyah sendiri turut hadir dan berperan aktif dalam proses pemulihan pascabencana melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya. Universitas Muhammadiyah Palu dan sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lainnya menjadi bagian integral dari perjalanan pemulihan ini.

Di sinilah tema besar “Bersama Satukan Bangsa” menemukan konteks dan relevansinya yang mendalam. Dokumen resmi Muhammadiyah menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan “seruan untuk membangun kebersamaan, persatuan, serta kemajuan bangsa di tengah keragaman, perbedaan, persoalan, rintangan, dan tantangan kehidupan kebangsaan.” Pesan luhur ini, antara lain, diletakkan dalam spirit Surah Al-Hujurat ayat 10 dan 13 yang menekankan pentingnya persaudaraan dan keberagaman manusia.

Maka, Palu tidak hanya berfungsi sebagai kota tempat Tanwir akan diselenggarakan. Pengalaman bangkit dari keterpurukan bencana membuat kota ini menjadi latar yang sangat kuat dan bermakna bagi pesan persatuan yang ingin disampaikan oleh Muhammadiyah.

Logo yang sarat makna ini akan menaungi seluruh rangkaian acara Tanwir Muhammadiyah 2026 dan Milad Ke-114 Muhammadiyah. Berdasarkan Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 19/EDR/I.0/B/2026 tentang Tuntunan Penyelenggaraan Tanwir dan Milad Ke-114 Muhammadiyah, disebutkan bahwa Tanwir akan berlangsung mulai tanggal 19 hingga 21 November 2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Sementara itu, Milad Ke-114 Muhammadiyah sendiri jatuh pada tanggal 18 November 2026. Resepsi Milad akan digabungkan dengan acara pembukaan Tanwir, yang dijadwalkan pada hari Kamis, 19 November 2026, pukul 09.00–11.30 WITA, bertempat di Universitas Muhammadiyah Palu.

Para pimpinan Muhammadiyah, organisasi otonom, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah yang berada di luar negeri, serta seluruh amal usaha Muhammadiyah yang tidak dapat hadir secara fisik di Palu, memiliki kesempatan untuk mengikuti acara pembukaan melalui siaran langsung yang akan disiarkan oleh Muhammadiyah Channel.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Amin Parakkasi, menyatakan bahwa amanah sebagai tuan rumah penyelenggara Tanwir bukan hanya persoalan teknis acara. Tanwir dipandang sebagai momentum strategis untuk menghadirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan yang relevan dan berdampak positif bagi masyarakat.

Rektor Universitas Muhammadiyah Palu sekaligus Ketua Panitia Penerima Tanwir 2026, Rajindra, menegaskan bahwa persiapan terus dimatangkan secara komprehensif. Persiapan tersebut meliputi penentuan lokasi, penyediaan sarana dan prasarana, pelayanan prima bagi peserta, akomodasi, hingga koordinasi teknis yang detail antarpanitia.

Di balik simbol daun kelor dan perayaan Milad, Tanwir Palu membawa agenda organisasi yang jauh lebih besar dan strategis. Haedar Nashir menjelaskan bahwa Tanwir 2026 merupakan tanwir terakhir dalam periode kepemimpinan Muhammadiyah 2022–2027, sebelum diselenggarakannya Muktamar Ke-49 di Medan pada tahun 2027.

Salah satu pembahasan paling penting dalam Tanwir ini adalah penyusunan program Muhammadiyah untuk 25 tahun mendatang. Ini berarti bahwa pembicaraan dan keputusan yang dihasilkan di Palu tidak hanya diarahkan untuk menjawab persoalan jangka pendek satu atau dua tahun ke depan, melainkan juga untuk menyiapkan peta perjalanan Persyarikatan hingga pertengahan abad ini, menegaskan visi jangka panjang organisasi.

Tanwir sendiri merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua di Muhammadiyah, setelah Muktamar. Mengingat posisinya yang strategis menjelang Muktamar Ke-49, keputusan dan gagasan yang lahir dari Palu akan menjadi bagian krusial dalam mempersiapkan perjalanan Muhammadiyah memasuki periode kepemimpinan dan perjuangan berikutnya.

Pada titik inilah, logo dengan daun kelor mendapatkan makna yang lebih utuh dan mendalam. Ia berawal dari sebuah tanaman yang akrab dengan masyarakat Palu, membawa serta simbol ketahanan dan kebermanfaatan, lalu bertemu dengan angka 114 yang menggambarkan perjalanan panjang dan progresif Muhammadiyah dalam mengabdi kepada bangsa dan umat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bayangan Merah di Batas Hutan: Pasukan Penjaga Pasuruan Berjibaku Hadang Karhutla

15 Sep 2026 - 12:38 WIB

Bayangan Merah di Batas Hutan: Pasukan Penjaga Pasuruan Berjibaku Hadang Karhutla

Di Bawah Langit Biru dan Selimut Kabut: Prakiraan Cuaca Malang Raya dan Rona Keseharian Warganya

15 Sep 2026 - 12:37 WIB

Di Bawah Langit Biru dan Selimut Kabut: Prakiraan Cuaca Malang Raya dan Rona Keseharian Warganya

Inovasi Pembelajaran: Santri eLKISI Rutin Uji Hafalan Hadis saat Apel Pagi

15 Sep 2026 - 12:37 WIB

Inovasi Pembelajaran: Santri eLKISI Rutin Uji Hafalan Hadis saat Apel Pagi

Peran Vital STIT Muhammadiyah Lumajang dalam Pembangunan SDM Unggul Bersama Pemerintah Daerah

15 Sep 2026 - 12:36 WIB

Peran Vital STIT Muhammadiyah Lumajang dalam Pembangunan SDM Unggul Bersama Pemerintah Daerah

Gelombang Duka dari Laut Jawa: Kisah Pilu Warga Blitar yang Terempas Tragedi KM Virgo Transport 8

15 Sep 2026 - 09:45 WIB

Gelombang Duka dari Laut Jawa: Kisah Pilu Warga Blitar yang Terempas Tragedi KM Virgo Transport 8
Trending di Pendidikan