KlikMojok – Pada Sabtu pagi, 24 Oktober 2026, ratusan kader Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) GKB memadati Masjid Al Mizan SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio). Pertemuan ini bertujuan untuk membangkitkan semangat dakwah, mendorong pengabdian yang nyata, serta memperkokoh fondasi kepemimpinan yang akan memajukan bangsa di masa mendatang. Acara ini menjadi wadah penting bagi para pemuda Muhammadiyah GKB untuk menegaskan komitmen mereka.
Suasana di Masjid Al Mizan Smamio begitu semarak pada pagi hari itu, Sabtu, 24 Oktober 2026. Keramaian tersebut diinisiasi oleh Gerakan Pemuda Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) dan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) GKB, yang sukses menyelenggarakan Forum Aksi Jihad Amar Makruf Muhammadiyah (Fajar Muda). Kegiatan ini menjadi platform utama bagi para pemuda untuk berkumpul dan berkolaborasi.
Forum Fajar Muda ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta yang berusia di bawah 40 tahun, menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Para peserta tersebut adalah perwakilan dari empat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Pendidikan terkemuka, yang berada di bawah pengelolaan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik.
Para kader muda yang berjumlah ratusan ini berasal dari berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah, yaitu SD Muhammadiyah GKB Gresik (Mugeb Primary School), SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian Primary School), SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas), serta SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio). Kehadiran mereka bersama-sama dalam satu forum ini menegaskan kembali komitmen kuat terhadap dakwah persyarikatan Muhammadiyah.
Ir. Sugeng, M.M., selaku Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB, secara resmi membuka acara tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif para pemuda. Sugeng secara tegas menyatakan di hadapan seluruh peserta, “Adik-adik Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) GKB mampu menyelenggarakan acara yang luar biasa untuk mendukung dakwah persyarikatan Muhammadiyah.”
Sugeng juga menegaskan adanya dukungan penuh terhadap acara ini dari berbagai tingkatan struktural organisasi, mulai dari pimpinan ranting hingga pimpinan daerah. Jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) GKB, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) GKB, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Gresik, hingga Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik, semuanya menyambut baik dan hangat gagasan Fajar Muda ini. “Alhamdulillah, semua siap dengan niat bergerak menyiarkan dakwah amar makruf nahi mungkar sesuai gagasan Fajar Muda yang digagas oleh AMM GKB,” imbuh Sugeng.
Partisipasi aktif para peserta dalam forum ini menjadi bukti nyata bahwa proses regenerasi di lingkungan Muhammadiyah GKB berjalan dengan sangat dinamis dan adaptif. Hal ini menunjukkan kesiapan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
Lebih lanjut, Sugeng membagikan kisah unik mengenai sejarah terbentuknya PCM GKB. Ia membandingkan dinamika perkembangannya dengan PCM Ngagel, yang merupakan cabang ke-31 dari total 30 kecamatan yang ada. Perbandingan ini menyoroti pola pertumbuhan yang tidak biasa.
Sugeng menjelaskan, “PCM GKB sendiri berdiri sebagai cabang ke-19 dari 18 kecamatan di Kabupaten Gresik. Cabang ini lahir dari keberanian para tokohnya dalam mendirikan AUM pendidikan terlebih dahulu sebelum struktur persyarikatan terbentuk secara formal.” Pernyataan ini menunjukkan semangat inovatif para pendiri.
Situasi historis tersebut secara signifikan membentuk karakteristik penggerak Muhammadiyah GKB, yang sebagian besar terdiri dari angkatan muda, terutama para guru dan karyawan sekolah. Mereka dikenal sebagai kader-kader terpilih yang telah melewati proses seleksi yang ketat ketika pertama kali bergabung dengan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Selain itu, Sugeng turut mengingatkan pentingnya bagi para kader untuk segera melakukan migrasi Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTM) dari model lama ke model baru dalam waktu dekat.
Imbauan tersebut menggarisbawahi urgensi kerapian administrasi serta kesiapan organisasi dalam menghadapi era digital. Sugeng dengan lugas memaparkan, “Kegiatan semacam ini merupakan inisiatif yang sangat bagus. Kita harus mengadopsi setiap hal yang baik. Pada periode 2022–2027 ini, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah mendeklarasikan bahwa kita perlu anak-anak muda untuk menggerakkan organisasi. Hal ini karena generasi yang tua sudah ketinggalan. Tantangan dakwah saat ini luar biasa, sehingga kita harus menjalankan dakwah yang berkemajuan.”
Menurut pandangan Sugeng, pengabdian yang ditunjukkan oleh kader muda tidak boleh hanya terbatas pada level wacana atau diskusi semata. Ia menekankan, “Generasi Muhammadiyah harus mulia akhlaknya dan nyata pengabdiannya kepada umat dan bangsa. Kehadiran adik-adik sekalian sangat ditunggu oleh bangsa,” tambahnya, menyerukan aksi konkret.
Untuk memperkuat landasan gerak ini, Sugeng merujuk pada Surah At-Taubah ayat 105, yang secara jelas mengajarkan bahwa keimanan yang sejati harus termanifestasi dalam bentuk amal perbuatan yang nyata. Baginya, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya merasa bangga menjadi bagian dari organisasi, melainkan harus mampu memperlihatkan kontribusi yang konkret melalui berbagai aktivitas dakwah yang membawa pencerahan bagi masyarakat luas.
Dalam upaya mewujudkan visi dakwah berkemajuan yang dicita-citakan, Sugeng kemudian memaparkan tiga pilar fundamental. Tiga pilar ini, menurutnya, wajib menjadi pedoman utama bagi seluruh kader muda Muhammadiyah dalam setiap gerak langkah mereka.
Pilar pertama adalah penguatan iman dan pemahaman keislaman. Sugeng menekankan bahwa para kader harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang utama, serta secara konsisten mengikuti kajian-kajian keislaman untuk terus memperbarui dan memperbaiki akhlak mereka secara berkelanjutan. Pilar kedua berfokus pada penguatan proses kaderisasi dan persatuan di internal organisasi.
Sugeng memberikan arahan, “Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan kader yang cerdas, tetapi juga aktif berorganisasi. Kalian juga harus membangun kolaborasi jaringan antara Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dan seluruh unsur Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).”
Pilar ketiga adalah perwujudan dakwah nyata yang manfaatnya dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Ini berarti kader muda tidak boleh hanya fokus pada aktivitas internal organisasi saja, tetapi juga harus memiliki kepekaan dan daya tanggap yang tinggi terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.
“Kami berharap kajian ini tidak berhenti pada penambahan pengetahuan semata, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas ibadah AMM. AMM harus menjadi mitra strategis dalam gerakan dakwah sekaligus menyiapkan kepemimpinan Muhammadiyah masa depan,” demikian harapan yang disampaikan Sugeng.
Sugeng juga mengajak seluruh peserta yang hadir untuk kembali menata niat mereka dan memantapkan langkah dalam perjuangan persyarikatan. “Jangan pernah lelah berbuat baik dan jangan pernah berhenti belajar demi kemajuan umat dan bangsa,” pesan Sugeng dengan penuh semangat.
Mengakhiri sambutannya, Sugeng secara resmi membuka forum Fajar Muda dengan mengucap basmalah. Acara ini mengusung tema inspiratif: “Menghidupkan Semangat, Produktivitas, dan Keberkahan Pemuda,” menandai dimulainya serangkaian kegiatan penting.












