KlikMojok – Langit Malang tak lagi biru cerah. Sejak Rabu siang, 21 Oktober 2026, gumpalan asap tebal membayangi, memuntahkan aroma menyengat yang menusuk hidung dan menyesakkan dada. Bukan dari tungku pembakaran sampah biasa, melainkan dari jantung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, yang kini dilalap jilatan api. Kebakaran TPA Supit Urang Malang ini telah memicu kekhawatiran serius di kalangan warga.
Luasnya area yang terbakar, mencapai lebih dari 8 hektare, membuat asap pekat itu merambat jauh ke arah barat, meliputi kawasan padat penduduk seperti Dinoyo, Tlogomas, hingga ke wilayah Dau dan sekitarnya. Keluhan demi keluhan tak terhindarkan, dari mata perih hingga kesulitan bernapas, menggambarkan betapa beratnya dampak polusi udara ini bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menyadari beban yang ditanggung warganya, Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, tak lantas berdiam diri. Dengan nada penyesalan, ia menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh masyarakat yang terdampak. Permohonan maaf itu tak hanya sebatas lisan, melainkan diikuti dengan langkah taktis yang cepat dan konkret.
Pemerintah Kota Malang, melalui koordinasi intensif, telah menyiagakan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk memberikan layanan kesehatan gratis secara maksimal. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap warga yang merasakan gejala akibat paparan asap dapat segera tertangani. “Kita mohon maaf ke semua warga yang terdampak. Kedua kita upayakan. Jadi, kalaupun terdampaknya masuk wilayah Kabupaten tidak masalah, kita fasilitasi pengobatan gratis di Puskesmas Mulyorejo. Kalau ada efek-efek atau dampak di semua warga sekitar Malang Raya ini bisa menghubungi Puskesmas terdekat,” ujar Ali pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ini menunjukkan komitmen untuk merangkul semua, tak terbatas pada batas administrasi kota.
Pria yang akrab disapa Sam Ali itu menegaskan bahwa koordinasi telah dilakukan secara menyeluruh dengan Dinas Kesehatan Kota Malang, rumah sakit daerah, dan seluruh puskesmas. Tujuannya jelas: memastikan kesiapan fasilitas dan menyebarkan informasi penting mengenai pencegahan dan penanganan. “Sudah koordinasi dengan Dinkes, dengan rumah sakit daerah dan semua puskesmas untuk sosialisasi. Terutama yang terdampak lebih dekat. Kita bagikan semuanya masker dan kita imbau masyarakat untuk memakai masker. Dan Puskesmas semua yang ada di Kota Malang untuk siaga Jadi kalau ada warga masyarakat yang terdampak segera ke puskesmas terdekat,” kata Sam Ali. Distribusi masker dan imbauan untuk selalu memakainya saat beraktivitas di luar rumah menjadi upaya pencegahan yang masif, demi meminimalisir risiko kesehatan.
Di sisi penanganan langsung kebakaran, Sam Ali juga memastikan upaya maksimal tengah dilakukan. Penambahan personel dan alat pemadam telah dilipatgandakan hingga tiga kali lipat, menunjukkan keseriusan dalam memadamkan api. Targetnya, api dapat dipadamkan sepenuhnya dalam waktu kurang dari dua pekan. “Ini kita upayakan dengan untuk mempercepat area titik api yang belum tersentuh di yang agak susah itu nanti bisa. Yang penting asap bisa kita padamkan sampai ujungnya sehingga bisa masuk ke area titik api yang belum bisa kita sentuh,” ujar Sam Ali, menggambarkan tantangan dan strategi pemadaman yang rumit di tengah tumpukan sampah.
Kebakaran TPA Supit Urang bukan sekadar insiden, melainkan pengingat pahit akan kerentanan lingkungan dan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Di tengah kepungan asap, solidaritas dan respons cepat pemerintah menjadi oase bagi warga Malang yang berharap langit kota mereka kembali bersih, bebas dari beban polusi yang menyesakkan.












