KlikMojok – Suasana khusyuk memenuhi lantai satu Masjid Al-Khoory Faqih Oesman Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) pada Ahad, 27 September 2026. Sejak usai salat Subuh hingga terbitnya fajar (syuruq), ratusan jemaah yang berkumpul di lokasi Jalan Sumatera 101 GKB Gresik, Jawa Timur, tampak antusias menyimak paparan materi mengenai pentingnya ‘vaksin iman’. Kajian pagi itu disampaikan oleh Ustaz Dr. Hairul Warisin, S.E., M.M., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Pondok eLKISI sekaligus Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur.
Kegiatan edukatif ini, yang merupakan kolaborasi antara takmir Masjid Faqih Oesman UMG dan Lazismu UMG, tidak hanya dihadiri secara fisik tetapi juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Masjid Faqih Oesman Gresik. Dengan mengusung tema “Vaksinasi Iman, agar Nggak Mudah Demam Dunia”, Ustaz Hairul memulai sesinya dengan merujuk pada realitas yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari, memberikan konteks yang relevan bagi para hadirin.
Ustaz Hairul Warisin memanfaatkan istilah “vaksin” yang sempat sangat populer selama pandemi Covid-19 sebagai analogi yang pas untuk menjelaskan fluktuasi kondisi keimanan manusia. Ia menekankan bahwa iman perlu diberikan kekebalan. “Iman kita perlu kita beri kekebalan. Kita membahas masalah hubbud dunya (cinta dunia). Kita menyuntikkan vaksin iman agar kita tidak menjadi orang yang mencintai dunia secara berlebihan,” tegas Ustaz Hairul kepada para jemaah.
Beliau kemudian mengajak jemaah untuk melakukan introspeksi diri, merenungkan respons hati masing-masing ketika menyaksikan pencapaian atau keberhasilan orang lain. Seringkali, tanpa disadari, muncul perasaan iri saat melihat rekan kerja dengan posisi yang serupa namun memiliki standar hidup yang berbeda.
“Kalau hati kita bergetar karena iri, artinya hati itu perlu vaksin,” ujarnya. Ustaz Hairul melanjutkan penjelasannya, “Penyakit hati sangat banyak dan biasanya kita tidak menyadarinya. Hubbud dunya sangat mengganggu keimanan. Kita boleh mencintai dunia, tetapi ingat, suatu saat kita akan meninggalkannya juga,” tutur beliau mengingatkan pentingnya menjaga hati dari penyakit spiritual ini.
Selanjutnya, Ustaz Hairul menekankan urgensi untuk mengendalikan kadar cinta terhadap segala sesuatu yang bersifat duniawi. “Genggam saja dunianya, jangan memasukkannya ke dalam hati. Jadi, kalau ada masalah, kita tidak sampai sakit hati,” jelasnya, memberikan nasihat praktis untuk menjaga ketenangan batin.
“Jika kita mencintai dunia seakan-akan tidak ada duanya, kita perlu merenungkan ulang apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini,” kata Ustaz Hairul. Ia bahkan menambahkan dengan candaan ringan, “Bahkan, bagi Bapak-bapak yang ingin perhiasannya lebih banyak, carilah istri yang salehah sebagai perhiasan terbaik.”
Guna mengantisipasi dan mencegah penyakit cinta dunia yang melampaui batas, Ustaz Hairul kemudian memaparkan empat jenis ‘vaksin iman’ yang harus dimiliki setiap muslim. Vaksin pertama yang dijelaskan adalah vaksin tauhid, karena tauhid merupakan fondasi dan sumber ketenangan sejati, sebagaimana termaktub dalam Surah Az-Zumar ayat 36.
“Allah sudah mencukupi rezeki dan kebutuhan kita,” terangnya. Beliau melanjutkan, “Hal yang membuat seseorang pontang-panting adalah keinginan yang tidak ada habisnya. Keinginan manusia tidak terbatas, sedangkan sarana untuk memenuhinya sangat terbatas. Dari sinilah timbul ilmu ekonomi,” jelasnya, mengaitkan konsep spiritual dengan realitas kebutuhan manusia.
“Lalu, kalau Allah sudah mencukupi semuanya, apakah kita masih perlu bekerja atau mengejar keinginan? Apakah orang Islam tidak boleh memiliki cita-cita? Boleh, Allah tidak melarangnya,” jelas Ustaz Hairul, memberikan klarifikasi bahwa berikhtiar dan bercita-cita adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam.
Menurut beliau, sebagai individu beriman, cita-cita dan rasa cinta yang dimiliki seharusnya dapat melampaui batas-batas kehidupan duniawi dan kematian. “Makanya, kita harus meminta Surga Firdaus. Keinginan manusia tidak terbatas oleh kematian. Kita memohon kepada Allah, ‘Aku meminta surga-Mu, ya Allah.’ Keinginan kita harus berlandaskan syariat Allah,” tambahnya, menekankan pentingnya orientasi akhirat dalam setiap keinginan.
Ustaz Hairul kemudian menguraikan bahwa seorang mukmin sah-sah saja menjadi kaya raya, asalkan ia memahami bagaimana cara “membawa” kekayaannya hingga ke akhirat. “Apakah harta milik kita akan kita bawa mati? Kalau tidak, kita rugi. Apapun nikmat yang Allah berikan, termasuk harta benda, harus kita bawa mati agar kita tidak rugi!” tegasnya, meluruskan pemahaman jemaah yang saat itu kompak menjawab bahwa harta tidak dapat dibawa mati.
“Orang Islam itu praktis,” lanjutnya. “Jika memiliki harta banyak, titipkan ke panti asuhan, pondok pesantren, anak yatim piatu, fakir miskin, atau korban bencana. Jika kita meyakini hal itu, harta benda tersebut dapat kita bawa mati melalui sedekah jariyah,” tegas beliau, menjelaskan mekanisme agar harta duniawi memiliki nilai abadi.
Beliau juga mengajak para jemaah untuk merefleksikan seberapa besar kontribusi wakaf dan sedekah yang telah mereka berikan selama ini. Ustaz Hairul secara khusus mendorong jemaah untuk mempertimbangkan praktik wakaf produktif.
“Saat ini, bentuk wakaf produktif semakin beragam dan makin mudah, seperti wakaf uang tunai,” ungkapnya. Beliau menambahkan, “Bahkan di Jawa Tengah, terdapat wakaf berupa selang pompa bensin yang keuntungannya disalurkan untuk kebutuhan fakir miskin,” menunjukkan inovasi dalam berwakaf.
“Jika kita memiliki kebutuhan yang banyak, seperti menghidupi masjid dan anak yatim, Allah akan mencukupi semuanya. Namun, jika kita tidak pernah berinfak dan bersedekah, Allah hanya memberi secukupnya,” ucapnya, menekankan korelasi antara kedermawanan dan rezeki.
Vaksin kedua yang tidak kalah krusial dalam membentengi iman adalah vaksin ilmu. Ustaz Hairul mengingatkan jemaah untuk memurnikan niat dalam menuntut ilmu, bukan semata-mata demi mengejar jabatan atau popularitas duniawi, melainkan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban fundamental seorang muslim. “Umat Islam tidak boleh menjadi orang awam; orang Islam harus berilmu,” ujarnya dengan nada memotivasi.
Beliau kemudian menguraikan ilmu menjadi dua kategori utama. Kategori pertama adalah ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang saja atau dikenal sebagai fardhu kifayah, seperti ilmu faraid, fikih kontemporer, dan fisika. Dalam pandangan Islam, tidak ada pemisahan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat, keduanya saling melengkapi.
“Kedua, ilmu yang wajib bagi setiap individu (fardhu ‘ain) untuk mendekatkan diri kepada Allah,” paparnya. Contoh dari fardhu ‘ain ini, menurut beliau, adalah ilmu taharah, seperti tata cara mandi janabat yang benar.
Selanjutnya, Ustaz Hairul beralih menjelaskan dua jenis vaksin terakhir, yaitu vaksin ibadah dan vaksin qanaah. Vaksin ibadah berperan krusial dalam memperkokoh iman seorang muslim melalui pemeliharaan ibadah-ibadah wajib, khususnya salat lima waktu yang disebut sebagai tiang agama.
“Barang siapa mendirikan salat, ia telah menegakkan agamanya. Sebaliknya, barang siapa meruntuhkan salat, ia meruntuhkan agamanya,” tegasnya, mengilustrasikan pentingnya salat dengan perumpamaan bangunan tanpa tiang yang pasti akan roboh. Ustaz Hairul juga mengimbau agar setiap aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah, dengan cara melakukannya sesuai teladan Rasulullah dan diniatkan semata-mata untuk beribadah. “Jadilah pedagang, petani, seniman, atau guru yang baik dan bertakwa,” tambahnya.
Beliau memberikan sebuah perumpamaan sederhana untuk menjelaskan konsep keikhlasan niat. Dua individu yang sama-sama minum kopi di sebuah warung akan mendapatkan nilai yang berbeda di sisi Allah; satu mungkin hanya berniat sekadar minum, sementara yang lain berniat untuk menyambung tali silaturahmi. Demikian pula halnya dalam membantu sesama. Niat yang didasari riya hanya akan berbuah pujian dari manusia, sedangkan niat ikhlas karena Allah semata akan mendatangkan pahala yang berlimpah.
“Vaksin keempat yang dijelaskan adalah vaksin qanaah, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan keinginan dan mengekang hawa nafsu. Sifat qanaah ini melatih jiwa seseorang untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dimiliki, sekaligus melatih kesabaran terhadap hal-hal yang belum berhasil diraih atau dimiliki.
“Semakin banyak keinginan, semakin banyak pula hal yang terasa belum kita miliki,” pungkas Ustaz Hairul. “Oleh karena itu, cukupkan diri dengan apa yang Allah berikan. Agar qanaah meresap ke dalam hati, bersyukurlah dan selalulah melihat ke bawah karena masih banyak orang yang kurang beruntung dibanding kita dalam urusan dunia. Kaya atau tidaknya seseorang tergantung pada rasa syukurnya,” tutup beliau, memberikan penekanan pada pentingnya rasa syukur sebagai kunci kekayaan sejati.
Rangkaian kegiatan Kajian Ahad Pagi yang penuh manfaat tersebut diakhiri dengan suasana hangat dan kebersamaan. Setelah menunaikan salat Duha, para jemaah melanjutkan momen silaturahmi dengan menikmati hidangan sarapan berupa semangkuk nasi lodeh Manisa, lengkap dengan lauk tahu telor Bali dan ayam bumbu kuning. Jemaah putri terlihat menikmati santap pagi di area selasar depan masjid, sementara jemaah putra berkumpul dengan akrab di halaman samping masjid, menutup acara dengan penuh kebersamaan.












