KlikMojok – Upaya digitalisasi di lingkungan Muhammadiyah Pacitan kini semakin digencarkan melalui sistem Satu Data Muhammadiyah atau SatuMu. Meskipun bimbingan teknis (Bimtek) telah selesai dilaksanakan pada Selasa, 15 September 2026, dorongan kuat diberikan agar proses transformasi digital ini tidak berhenti pada tahap pelatihan, melainkan terus berlanjut melalui pendampingan, pembaruan data, serta penerapan administrasi yang konsisten.
Pertanyaan krusial muncul setelah pelatihan selesai dan peserta kembali ke tempat masing-masing: bagaimana nasib data organisasi selanjutnya? Pertanyaan sederhana ini menjadi sangat relevan mengingat Muhammadiyah Pacitan sedang berupaya mempercepat proses digitalisasi melalui platform SatuMu.
Dalam rangka mendukung percepatan ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pacitan telah menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Agen dan Verifikator SatuMu. Acara penting tersebut bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Pacitan dan dihadiri oleh perwakilan dari seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Kabupaten Pacitan.
Materi yang disampaikan oleh panitia tidak hanya terbatas pada penggunaan aplikasi semata. Para peserta Bimtek juga mendalami berbagai aspek penting, mulai dari proses migrasi data eKTAM, pengelolaan Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM), hingga aktivasi rekening organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa arah digitalisasi yang dicanangkan bertujuan untuk menyentuh inti dari sistem administrasi Persyarikatan Muhammadiyah.
Namun, di sinilah letak tantangan utamanya. Proses digitalisasi ini tidak boleh berhenti hanya setelah Bimtek berakhir; peserta diharapkan untuk terus melanjutkan dan mengimplementasikannya.
Ketua PDM Kabupaten Pacitan, Suprayitno Ahmad, menjelaskan bahwa Bimtek SatuMu merupakan bagian integral dari program wajib yang digulirkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. “Ini terkait dengan pelaksanaan Bimtek SatuMu merupakan program mandatory dari PP Muhammadiyah dalam rangka soliditas dan penguatan organisasi untuk menjadi sebuah organisasi yang berkemajuan,” tegas Suprayitno.
Menurut Suprayitno, sebagai sebuah organisasi modern, Muhammadiyah harus mampu beradaptasi dan tidak boleh tertinggal dalam menghadapi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menambahkan bahwa SatuMu berperan penting dalam memfasilitasi koordinasi, komunikasi, dan pendataan di seluruh lingkungan Persyarikatan.
Namun, perlu diingat bahwa teknologi hanyalah sebuah alat bantu. Keberhasilan implementasi digitalisasi pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.
Oleh karena itu, pengurus dituntut untuk secara aktif memperbarui data agar informasi tetap relevan dan bermanfaat. Para pengguna juga diharapkan untuk memanfaatkan aplikasi secara maksimal, bukan hanya sekadar membiarkannya menjadi ikon di layar ponsel atau komputer. Lebih lanjut, organisasi perlu mengintegrasikan sistem digital ini ke dalam administrasi harian guna menciptakan pengelolaan yang lebih tertib dan efisien.
Pesan penting mengenai keberlanjutan ini justru datang dari Tim SatuMu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Muhammad Mufti Asyidiqi, salah satu anggota Tim SatuMu PWM Jawa Timur, berpendapat bahwa aktivasi SatuMu memerlukan pendampingan yang konkret dan berjenjang. Ia mengusulkan agar PRM mendapatkan pendampingan dari PCM, PCM dari PDM, sementara PDM akan didampingi oleh Tim SatuMu PWM Jawa Timur.
“Perlu adanya pendampingan khusus tentang aktivasi Satu Data Muhammadiyah ini dalam bentuk pendampingan riil dari organisasi yang ada di atas tingkatnya,” ujar Mufti.
Mufti juga mengingatkan bahwa tanpa adanya pendampingan yang berkelanjutan, proses digitalisasi berisiko kehilangan momentum dan sentuhan implementasi setelah kegiatan pelatihan selesai. “Karena memang tanpa pendampingan khusus, maka sentuhan-sentuhan itu akan hilang dengan sendirinya,” katanya.
Peringatan dari Tim SatuMu PWM Jawa Timur ini sangat penting untuk diperhatikan. Sebab, permasalahan dalam digitalisasi organisasi sering kali bukan terletak pada ketersediaan teknologi, melainkan pada konsistensi dan komitmen penggunanya dalam menerapkan sistem tersebut.
Sekretaris PCM Pringkuku, Hadi Sovi’in, merasakan langsung manfaat dari Bimtek tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu para pengurus dalam memahami prosedur migrasi eKTAM, pengelolaan Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM), serta langkah-langkah aktivasi rekening organisasi. “BI SatuMU sangat membantu kami dalam memahami proses migrasi eKTAM, pengelolaan Direktori Organisasi Muhammadiyah, serta aktivasi rekening organisasi,” tutur Hadi.
Meskipun demikian, Hadi juga menekankan urgensi tindak lanjut di tingkat cabang dan ranting. Pengetahuan yang diperoleh dari Bimtek harus segera diwujudkan menjadi praktik administrasi sehari-hari.
Senada dengan itu, Aan, seorang Verifikator dari PWM Jawa Timur, berharap agar kegiatan Bimtek ini tidak hanya menjadi agenda seremonial belaka. Ia mendorong seluruh PCM dan PRM untuk segera menindaklanjuti proses aktivasi SatuMu agar penerapannya dapat berjalan secara menyeluruh dan optimal.
Target yang ingin dicapai oleh PDM Pacitan sangat jelas, yaitu terwujudnya aktivasi SatuMu hingga 100 persen di seluruh tingkatan organisasi.
Target ini, meskipun mudah diucapkan, sesungguhnya tidak sederhana untuk diwujudkan. Dibutuhkan koordinasi yang solid, pendampingan yang berkelanjutan, pembaruan data yang konsisten, disiplin administrasi, serta kemauan kuat dari setiap jenjang organisasi untuk benar-benar mengadopsi dan menggunakan sistem SatuMu.
Dalam rangkaian kegiatan Bimtek tersebut, Ganang Eka Kurniawan dari Bank Danamon Syariah turut menyampaikan materi penting. Ia membahas mengenai kerja sama antara PP Muhammadiyah dengan Bank Danamon Syariah dalam konteks digitalisasi Kartu Tanda Anggota (KTA) Muhammadiyah.
Materi yang disampaikan oleh perwakilan Bank Danamon Syariah ini memiliki relevansi langsung dengan agenda aktivasi rekening organisasi yang menjadi salah satu komponen penting dari seluruh rangkaian kegiatan Bimtek.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan digitalisasi Muhammadiyah tidak terletak pada seberapa sering Bimtek diselenggarakan, pun bukan pada seberapa banyak peserta yang hadir di dalam ruangan pelatihan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah apa yang terjadi setelah para peserta meninggalkan ruangan Bimtek dan kembali ke unit organisasinya masing-masing.
Digitalisasi Muhammadiyah harus melampaui batas-batas ruang Bimtek. Proses ini wajib masuk ke meja administrasi harian, bergerak aktif dari PCM ke PRM, menjadi kebiasaan yang melekat, dan pada akhirnya menghasilkan organisasi yang lebih tertib, cepat, transparan, serta senantiasa berkemajuan.












