SURABAYA – Kasus perundungan atau bullying pada usia remaja masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian berbagai pihak. Tidak hanya lingkungan pendidikan, dunia medis juga memiliki peran dalam mendeteksi dan mencegah dampak perundungan terhadap kesehatan jiwa serta tumbuh kembang remaja.
Upaya tersebut dilakukan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melalui penelitian kesehatan masyarakat di Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya, Rabu (26/8).

Penelitian yang dilakukan Ashfahani Imanadhia, dr., tersebut mengangkat topik “Deteksi Dini, Karakteristik, dan Faktor Risiko Bullying pada Remaja di Kota Surabaya”.
Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 di SMP PGRI 6 Surabaya, Jalan Bulak Rukem III No. 7–9, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir. Penelitian melibatkan peserta didik SMP PGRI 6 Surabaya sebagai bagian dari upaya memetakan dinamika psikososial remaja sekaligus merumuskan strategi pencegahan yang tepat di lingkungan sekolah.
Penelitian tersebut berfokus pada tiga hal utama.
Pertama, deteksi dini perundungan. Peneliti menggunakan instrumen skrining kesehatan mental dan perilaku untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal remaja yang berisiko menjadi korban maupun pelaku bullying. Bentuk perundungan yang menjadi perhatian meliputi bullying fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying.
Kedua, karakteristik remaja dan bentuk bullying. Penelitian berupaya mengidentifikasi pola perundungan yang paling sering terjadi di lingkungan sekolah urban Surabaya serta melihat kaitannya dengan profil siswa, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat kelas.
Ketiga, pemetaan faktor risiko. Peneliti menganalisis berbagai faktor yang berpotensi memicu bullying, mulai dari lingkungan keluarga, dinamika kelompok teman sebaya, kondisi psikologis individu, hingga atmosfer budaya di sekolah.
Kehadiran mahasiswa PPDS Ilmu Kesehatan Anak di lingkungan sekolah menunjukkan pentingnya kolaborasi antara dunia medis dan institusi pendidikan. Peran dokter spesialis anak tidak hanya berkaitan dengan penanganan penyakit fisik, tetapi juga pemantauan tumbuh kembang dan kesehatan mental anak serta remaja.
Guru pendamping Ashfahani Imanadhia, Anis Laily Mufidah, S.Pd., mengatakan kegiatan penelitian tersebut memberikan manfaat bagi sekolah maupun tim medis.
“Melalui kegiatan ini, pihak sekolah memperoleh pemahaman berbasis data (evidence-based) mengenai kondisi kesehatan mental para siswanya, sementara tim medis mendapatkan gambaran lapangan yang komprehensif mengenai tantangan remaja di Surabaya,” ujarnya.
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan perundungan. Bagi sekolah, data yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk merancang program anti-bullying yang lebih terarah, termasuk pembentukan konselor sebaya (peer counselor) dan penguatan sistem pelaporan yang aman bagi siswa.
Bagi orang tua, hasil penelitian dapat menjadi bahan edukasi mengenai tanda-tanda perubahan perilaku anak yang mungkin mengalami maupun melakukan perundungan di lingkungan sekolah.
Sementara bagi pemangku kebijakan, data penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi Dinas Kesehatan maupun Dinas Pendidikan Kota Surabaya dalam merumuskan kebijakan perlindungan anak dan program sekolah sehat mental secara berkelanjutan.
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara, Banu Atmoko, S.Pd., M.Pd., menyambut baik penelitian tersebut. Menurutnya, skrining dan pemetaan risiko sejak dini menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembang remaja.
Kolaborasi antara sekolah dan calon dokter spesialis anak tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung kesehatan mental siswa.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik dan faktor risiko perundungan, sekolah diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan secara lebih tepat sekaligus memberikan perlindungan kepada siswa.
Pada akhirnya, mencegah bullying bukan hanya tentang menghentikan tindakan perundungan ketika sudah terjadi. Lebih dari itu, diperlukan upaya mengenali risiko sejak dini, membangun budaya sekolah yang sehat, serta memastikan setiap anak merasa aman untuk belajar dan tumbuh.













