KlikMojok – Pagi hari di Surabaya Raya seringkali menyuguhkan pemandangan aktivitas yang padat, dari hiruk pikuk pasar hingga deru kendaraan menuju sekolah dan kantor. Namun, di balik rutinitas yang membias, ada satu faktor alamiah yang senantiasa memengaruhi setiap langkah: cuaca. Pada Senin, 5 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda telah merilis prakiraan cuaca yang menarik perhatian, khususnya bagi warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.
Informasi ini bukan sekadar angka, melainkan panduan penting untuk merencanakan hari, terutama di tengah iklim tropis yang seringkali menyimpan kejutan. Oky Sukma Hakim, seorang Prakirawan dari BMKG Juanda, memberikan penekanan khusus pada kondisi yang mungkin terasa kontradiktif: “Meski cuaca di Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik hari ini cenderung berawan. Namun, suhu bisa mencapai 36 derajat celsius,” ujarnya pada Minggu (4/10/2026). Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa langit yang tertutup awan tidak selalu berarti hawa sejuk, melainkan bisa jadi pertanda potensi terik yang menyengat di bawahnya.
Surabaya: Awan di Siang Hari, Cerah di Malam Hari
Untuk Kota Pahlawan, Surabaya, BMKG Juanda memprediksi cuaca cenderung berawan sepanjang hari. Namun, suasana akan berubah saat malam tiba, di mana langit diprediksi akan cerah. Kondisi ini mencakup sejumlah kecamatan penting seperti Tandes, Pabean Cantian, Simokerto, Semampir, Lakarsantri, Wiyung, Dukuh Pakis, Jambangan, Tenggilis Mejoyo, dan Bulak. Suhu udara di Surabaya diperkirakan berada di kisaran terendah 28°C dan tertinggi 35°C. Sementara itu, tingkat kelembapan udara akan bervariasi antara 37 hingga 72 persen. Fluktuasi ini menuntut kesiapan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan atau mengelola lingkungan belajar-mengajar.
Sidoarjo: Berawan Tanpa Hujan, Suhu Terpanas
Bergeser ke Sidoarjo, kota yang sering dijuluki Kota Udang ini juga diprediksi akan mengalami cuaca berawan. Menariknya, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan meskipun awan menyelimuti. Kondisi ini meliputi area luas seperti Kecamatan Porong, Jabon, Tanggulangin, Candi, Sukodono, Buduran, Gedangan, Waru, Taman, Krembung, Krian, dan Balongbendo. Meskipun berawan, suhu di Sidoarjo patut diwaspadai karena diprediksi menjadi yang terpanas di antara ketiga wilayah, dengan terendah sekitar 28°C dan tertinggi mencapai 36°C. Kelembapan udara berkisar antara 37 hingga 74 persen. Suhu tinggi ini bisa berdampak pada kenyamanan beraktivitas, apalagi bagi siswa-siswi yang belajar di kelas tanpa pendingin udara yang memadai.
Gresik: Awan dan Kelembapan Tinggi
Di Gresik, kota industri yang berbatasan langsung dengan Surabaya, prakiraan cuaca juga menunjukkan kondisi berawan sepanjang hari, tanpa indikasi hujan. Wilayah yang terdampak termasuk Sangkapura, Gresik, Kebomas, Menganti, Cerme, Manyar, Sidayu, Kedamean, Ujungpangkah, dan Wringinanom. Suhu di Gresik relatif lebih moderat dibandingkan dua kota lainnya, dengan terendah sekitar 27°C dan tertinggi 32°C. Namun, tingkat kelembapan di Gresik tercatat paling tinggi, antara 67 hingga 85 persen. Kelembapan tinggi ini, meskipun suhu tidak seekstrem Sidoarjo, tetap bisa menciptakan rasa gerah dan kurang nyaman.
Pentingnya Kesiapsiagaan dan Literasi Cuaca
Dinamika cuaca di wilayah tropis seperti Jawa Timur memang dikenal cepat berubah. Oleh karena itu, masyarakat di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sangat disarankan untuk selalu membawa payung atau jas hujan sebagai langkah antisipasi, meskipun prakiraan tidak menunjukkan hujan. Lebih dari itu, penting bagi setiap individu, termasuk lembaga pendidikan dan keluarga, untuk membiasakan diri memantau pembaruan informasi cuaca secara berkala. Aplikasi resmi BMKG atau layanan cuaca daring lainnya menjadi sumber daya yang tak ternilai.
Memahami prakiraan cuaca secara detail bukan hanya tentang menghindari basah kuyup atau kepanasan, tetapi juga tentang literasi cuaca yang lebih luas. Ini adalah bagian dari pendidikan informal yang mengajarkan kita untuk beradaptasi dengan lingkungan, membuat keputusan yang tepat demi keamanan dan kenyamanan, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga diri di tengah tantangan alam. Dengan demikian, setiap aktivitas, baik di sekolah, kantor, maupun di rumah, dapat dijalani dengan lebih aman, nyaman, dan produktif.












