KlikMojok – Pada Minggu malam, 1 November 2026, sebuah insiden kebakaran melanda dapur rumah Sukaji di Dukuh Kupang Barat Gang 22, Surabaya. Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan urgensi memiliki alat pemadam api ringan (APAR) di setiap rumah, sebab api berhasil dikendalikan dengan cepat berkat kesigapan warga yang memiliki APAR sebelum petugas pemadam kebakaran tiba.
Teriakan minta tolong menggema di Dukuh Kupang Barat Gang 22, Surabaya, persis setelah salat Isya pada hari itu. Dapur kediaman Sukaji terbakar, memicu para tetangga berdatangan membawa tabung-tabung APAR.
Percikan api pertama kali muncul saat istri Sukaji, yang akrab disapa Bu Seh, sedang bersiap untuk memasak. Nyala api terlihat di beberapa titik di dapur, yang diduga kuat berasal dari kebocoran gas yang sebelumnya tidak disadari oleh penghuni rumah.
Petugas pemadam kebakaran (damkar) Kota Surabaya segera diberangkatkan setelah menerima laporan. Namun, sebuah video yang diunggah oleh Oala.id sempat memperlihatkan satu truk damkar tertahan oleh portal rendah di area Dukuh Kupang. Dalam rekaman tersebut, terlihat petugas bersama warga bergotong royong mengangkat palang portal agar kendaraan pemadam bisa melintas.
Sementara tim damkar dalam perjalanan, warga setempat secara proaktif berupaya meredakan kobaran api menggunakan APAR yang ternyata tersedia di hampir setiap rumah di gang tersebut. Berkat upaya kolektif ini, api berhasil dikendalikan di area dapur dan tidak sempat merembet ke rumah-rumah tetangga. Saat petugas tiba di lokasi, mereka hanya perlu melakukan proses pendinginan.
Imam Farikhin, yang sering disapa Mas Farikin, adalah salah satu warga yang memiliki APAR atas inisiatif pribadi. Dengan pekerjaannya yang sering bersinggungan dengan listrik dan api, ia menganggap tabung pemadam sebagai perlengkapan keselamatan yang wajib ada. Farikin secara khusus memilih APAR yang berisi karbon dioksida (CO₂) karena bahan pemadamnya bersifat nonkonduktif, menjadikannya aman untuk kebakaran listrik.
Bagi Farikin, pemahaman tentang cara menggunakan APAR sangat membantu penghuni rumah untuk tetap tenang saat api baru muncul. Ia menjelaskan, “Kalau unsur kepanikan ini bisa dikendalikan dengan kita punya dan bisa menggunakan APAR yang ada di rumah, kebakaran bisa diatasi dengan cepat.”
APAR jenis karbon dioksida aman digunakan untuk memadamkan kebakaran yang melibatkan peralatan listrik bertegangan, asalkan label pada tabung menyatakan kesesuaian tersebut. Penting untuk diingat bahwa menyiram peralatan yang masih bertegangan dengan air dapat menimbulkan risiko sengatan listrik yang berbahaya.
Menurut panduan yang dikeluarkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kutai Kartanegara, upaya pemadaman awal menggunakan APAR dapat dilakukan oleh individu yang terlatih, asalkan api masih dalam skala kecil dan jalur keluar tetap aman.
Farikin sendiri mempelajari cara penggunaan APAR dengan membaca petunjuk yang tertera pada tabung. Ia juga sangat memperhatikan penempatan APAR agar mudah dijangkau saat dibutuhkan. Salah satu contoh penempatan yang ia sebutkan adalah boks penyimpanan dengan kaca yang dapat dipecahkan dalam situasi darurat.
Ia juga secara aktif mengimbau warga untuk memanfaatkan sosialisasi penggunaan APAR. Menurut Farikin, sosialisasi yang diselenggarakan oleh dinas pemadam kebakaran biasanya menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari sekolah, organisasi, komunitas, hingga permukiman melalui pengurus RT dan RW. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya bahkan memasukkan praktik penggunaan APAR dalam simulasi penanganan kebakaran di area permukiman.
Selain untuk bengkel, tempat servis, dan tempat pengelasan, Farikin berpendapat bahwa APAR portabel juga sangat penting untuk tersedia di setiap kendaraan pribadi. Ia menyebutkan bahwa tabung pemadam ini mudah ditemukan di berbagai toko di kawasan Blauran.
“Meski begitu harus dicek secara berkala dan rutin, jadi benar-benar diupayakan berfungsi dengan baik dan bisa digunakan sewaktu-waktu,” pesannya mengingatkan.
Di rumah lain di gang yang sama, Agus Tri Romadhon, seorang siswa kelas X SMKN 2, juga mengenal APAR berkat orang tuanya.
“Yang pertama kali mencetuskan ada APAR di rumah itu ibu dan bapak,” kata Agus, putra dari pasangan Supredi dan Muryati. Ia berpendapat bahwa tabung pemadam mudah dibeli dan praktis untuk digunakan. Menurutnya, panduan penggunaan APAR juga sangat mudah ditemukan melalui platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.
Achmad Mundir memiliki kisah tersendiri terkait kepemilikan APAR. Ia mulai menyediakan APAR di rumahnya sejak tahun 1997, bertepatan dengan dimulainya usaha kecil-kecilan di kediamannya. Sebelum beralih menggunakan tabung pemadam, ia pernah mencoba memadamkan api dengan air dan kain basah, seperti sarung atau handuk. Pada Minggu malam saat kebakaran di rumah Sukaji, tabung APAR miliknya yang berada tepat di depan rumahnya turut digunakan untuk membantu meredakan api.
Mundir berpesan agar warga tetap tenang ketika api mulai muncul. “Ayo, kalau bisa untuk menjaga rumah dan lingkungan dengan memiliki APAR guna pertolongan pertama jika ada kebakaran, meski pakai yang kecil, lho, bisa mengatasi kebakaran agar tidak merembet lebih luas,” ajaknya, menekankan pentingnya kesiapan dini.












