Menu

Mode Gelap
Asap Tebal Menggulung dari SDN Rongtengah 5 Sampang: Api Lahap Tiga Ruang Kelas Ketika Lumajang Memerah: Ancaman Karhutla dan Panggilan Mitigasi Dini Relawan Lazismu Jatim Ungkap Tantangan Penanganan Gempa Flores di Tengah Guncangan Susulan Inisiatif Mulia: Anak TK Aisyiyah 4 Candi Kumpulkan Donasi untuk Korban Gempa NTT Mengejutkan! Pasukan Penerjun Khusus TNI ‘Terjun Bebas’ Langsung ke Titik Api Karhutla, Prabowo: Ini Terobosan! Pesantren Tak Lagi Ketinggalan Zaman: BRI Brebes Gandeng FORMULA Pacu Digitalisasi Keuangan

Pendidikan

Reog Ponorogo dan Sepeda Klasik: Edukasi Budaya dalam Penutupan Pekan Olahraga Pawargari Sukoharjo

badge-check


					Reog Ponorogo dan Sepeda Klasik: Edukasi Budaya dalam Penutupan Pekan Olahraga Pawargari Sukoharjo Perbesar

KlikMojok – Pekan Olahraga Pawargari (Paguyuban Warga Gayamsari) di Sukoharjo, Jawa Tengah, secara resmi ditutup pada Ahad, 23 Agustus 2026, dengan meriah. Acara penutupan yang berpusat di Lapangan Tengah Perumahan Korpri, Gayamsari, ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian warga adalah pertunjukan kesenian tradisional Reog Ponorogo.

Kesenian Reog Ponorogo memang menjadi daya tarik utama dalam perayaan penutupan Pekan Olahraga Pawargari tersebut. Lebih dari 90 warga Perumahan Korpri antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah diselenggarakan.

Rangkaian Pekan Olahraga Pawargari ini telah menghadirkan berbagai kompetisi, mulai dari cabang olahraga populer hingga permainan tradisional. Perlombaan olahraga meliputi sepak bola untuk anak-anak serta bola voli yang diikuti oleh peserta dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Kedua cabang olahraga ini dipilih karena menjadi aktivitas yang sering dimainkan oleh warga Perumahan Korpri.

Tidak hanya itu, lomba tradisional yang digelar juga tak kalah seru, seperti estafet balon, bola kardus, estafet air, dan estafet tepung. Selain berbagai perlombaan, panitia juga menyuguhkan hiburan berupa kesenian Reog Ponorogo yang memukau.

Dalam pertunjukan Reog Ponorogo, dua anak yang merupakan kakak beradik tampil membawakan kesenian tersebut. Meskipun penampilan mereka tidak semeriah joget bersama bapak-bapak dan ibu-ibu, kehadiran Reog Ponorogo ini menandakan adanya perhatian dan upaya warga untuk melestarikan budaya tradisional.

Budaya Reog Ponorogo yang memiliki sejarah panjang memang memerlukan perhatian berkelanjutan agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya. Inisiatif warga ini menjadi langkah nyata dalam menjaga warisan budaya.

Anggota DPRD Sukoharjo dari Fraksi PKS, Widoyo, turut memberikan perhatian terhadap kegiatan ini. Ia mengajak seluruh warga Perumahan Korpri untuk aktif menyampaikan aspirasi mereka guna mengembangkan potensi masyarakat. “Saya mohon kepada warga Perumahan Korpri yang ingin membangun potensinya untuk menyampaikan aspirasi. Kami siap melayani, selain memberikan fasilitas peralatan hadrah oleh Annisa di Masjid Nurul Huda,” ujarnya.

Ketua Pawargari, Herry Agus Susanto, juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh warga Perumahan Korpri atas partisipasi aktif mereka dalam menyukseskan acara. “Kami mengucapkan terima kasih banyak atas partisipasinya, khususnya para warga RW setempat, yang bersama-sama memberikan kontribusi terhadap Pawargari,” ucapnya.

Selain perlombaan dan kesenian, panitia juga menghadirkan hiburan yang penuh kebersamaan, yaitu joget bersama dan saweran. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya untuk mempererat tali silaturahmi dan kekompakan antarwarga. Joget dan saweran juga menjadi momen hiburan yang memicu kegembiraan warga, terutama bagi mereka yang mungkin jarang menikmati hiburan bersama.

Sebelumnya, sebagian warga memiliki preferensi hiburan yang berbeda saat mengikuti malam tirakatan di tingkat RW masing-masing. Oleh karena itu, Panitia Pawargari berinisiatif menyelenggarakan kegiatan bersama ini agar seluruh warga dapat menikmati suasana perayaan kemerdekaan secara kolektif, di tengah keberagaman pemahaman dan kebiasaan yang ada di Perumahan Korpri.

Seorang warga mengungkapkan bahwa hiburan dalam perayaan kemerdekaan terkadang masih dikaitkan dengan isu keagamaan. “Memang sangat sedikit. Acara hiburan ini sering dibumbui hal-hal agama, padahal acara ini sekadar hiburan. Selama ini masih banyak yang menyimpan unek-unek,” tuturnya, menyoroti adanya pandangan tersebut di tengah masyarakat.

Saweran menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian, di mana sejumlah warga memberikan uang kepada peserta yang berjoget, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Panitia memperkirakan jumlah peserta yang ikut berjoget berkisar antara 10 hingga 15 orang, menyesuaikan kondisi di lapangan. Hingga acara berakhir, panitia juga memberikan kesempatan kepada anggota panitia lainnya untuk ikut berjoget, baik di atas panggung maupun di bawah.

Penampilan Reog Ponorogo yang dibawakan oleh dua anak kakak beradik itu memang sangat menarik perhatian. Salah satu anak mengenakan properti Reog, sementara yang lain berperan sebagai pemanah. Penampilan sederhana ini membawa pesan penting bahwa budaya tradisional harus terus dikenalkan dan dilestarikan secara turun-temurun kepada generasi penerus.

Beberapa warga memberikan tanggapan positif terhadap penampilan tersebut. Salah seorang warga mengutarakan bahwa penampilan kedua anak itu masih memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. “Masih sangar, tetapi penampilannya kurang menjiwai,” celotehnya, memberikan masukan konstruktif.

Sementara itu, pembawa acara, Aliya dan Nabiha, memberikan apresiasi tinggi atas bakat yang ditunjukkan. “Wah, luar biasa sekali. Dua anak ini memiliki bakat terpendam yang siap ditampilkan,” ucap mereka, memuji semangat anak-anak tersebut.

Kehadiran kesenian Reog Ponorogo dinilai memberikan nuansa berbeda pada acara tersebut, mengingat kegiatan serupa selama ini lebih sering menghadirkan hiburan berupa joget dan musik dangdut. Hal ini menunjukkan keragaman dalam perayaan kemerdekaan.

Di tengah keramaian warga, anggota DPRD Sukoharjo Fraksi PKS, Widoyo, kembali menyampaikan ajakannya kepada warga untuk menyampaikan aspirasi. “Kami sangat ingin memberikan ruang bagi aspirasi warga untuk mengembangkan potensi masyarakat Perumahan Korpri,” tegasnya, menegaskan komitmennya untuk melayani masyarakat.

Widoyo lebih lanjut mengajak warga untuk menyampaikan berbagai kebutuhan dan potensi yang dapat dikembangkan di lingkungan Perumahan Korpri. Ia juga mengaku mengenal beberapa tokoh masyarakat setempat. “Saya sangat kenal baik dengan beberapa tokoh di sini, terutama Pak Heri dan Pak Ari Sarwanto,” ujarnya, menunjukkan kedekatan dengan komunitas.

Kehadiran anggota DPRD tersebut sekaligus menjadi kesempatan berharga bagi warga untuk menyampaikan aspirasi secara langsung mengenai berbagai kebutuhan dan potensi pengembangan di lingkungan mereka.

Selain olahraga dan kesenian, panitia juga menyelenggarakan balap sepeda klasik jarak dekat. Dalam perlombaan unik ini, peserta ditantang untuk mengayuh sepeda secara perlahan tanpa menyentuhkan kaki ke tanah. “Ayo, sekarang mulai balap sepeda. Tidak boleh menyentuh tanah,” ujar salah seorang panitia yang bertugas sebagai penanggung jawab lomba balap sepeda klasik, memberikan instruksi.

Sepeda klasik turut mewarnai kegiatan ini karena sebagian warga masih memiliki dan merawat sepeda keluaran era 1990-an. Meskipun membutuhkan perawatan khusus, banyak dari sepeda-sepeda tersebut masih dalam kondisi baik dan banyak digunakan hingga kini. Kehadiran sepeda klasik ini menjadi salah satu cara efektif untuk mengenalkan kembali benda-benda bersejarah kepada generasi berikutnya, memungkinkan warga melihat dan menikmati tradisi serta nilai-nilai masa lalu di tengah perkembangan digitalisasi yang pesat.

Rangkaian kegiatan penutupan Pekan Olahraga Pawargari ini membuktikan bahwa perayaan kemerdekaan tidak hanya terbatas pada perlombaan dan hiburan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi ruang penting untuk mempererat kebersamaan, serta mengenalkan dan melestarikan kekayaan budaya kepada generasi muda. Acara ini berhasil menciptakan perpaduan harmonis antara olahraga, seni, dan semangat kebangsaan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Asap Tebal Menggulung dari SDN Rongtengah 5 Sampang: Api Lahap Tiga Ruang Kelas

26 Agustus 2026 - 18:53 WIB

Ketika Lumajang Memerah: Ancaman Karhutla dan Panggilan Mitigasi Dini

26 Agustus 2026 - 18:52 WIB

Relawan Lazismu Jatim Ungkap Tantangan Penanganan Gempa Flores di Tengah Guncangan Susulan

26 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Inisiatif Mulia: Anak TK Aisyiyah 4 Candi Kumpulkan Donasi untuk Korban Gempa NTT

26 Agustus 2026 - 18:49 WIB

Jilatan Api di Lereng Ponorogo: Kemarau Panjang Menguji Ketahanan Hutan dan Kewaspadaan Warga

26 Agustus 2026 - 15:25 WIB

Trending di Pendidikan