Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Merajut Kebersamaan dalam Setiap Suap: Kisah Ancakan Maulid Nabi di Tanah Osing Kemiren

badge-check

Merajut Kebersamaan dalam Setiap Suap: Kisah Ancakan Maulid Nabi di Tanah Osing Kemiren Perbesar

KlikMojok – Udara petang di Desa Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, selalu menyimpan cerita. Namun, menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad 1448 Hijriah, suasana itu bertransformasi menjadi panggung kehangatan dan rasa syukur yang meluap. Ratusan warga, dari anak-anak hingga orang tua, tumpah ruah, berjalan kaki berbondong-bondong menuju serambi masjid, membawa serta warisan leluhur yang unik dan sarat makna: tradisi Ancakan dan Endog-Endogan.

Setiap langkah yang diayunkan membawa sebuah ‘ancak’ – wadah makanan tradisional yang dibuat dari pelepah dan daun pisang, diisi dengan nasi gurih lengkap dengan aneka lauk-pauk. Ini bukan sekadar bekal, melainkan simbol persembahan dan bagian dari ritual komunal yang telah berakar ratusan tahun. Pemandangan semakin semarak dengan iringan ‘endog-endogan’, pohon-pohon hias mungil yang dihiasi telur rebus yang ditancapkan pada bilah bambu, bermekaran dengan kertas hias aneka warna, menambah semarak perayaan yang memadukan spiritualitas dan kearifan lokal.

Begitu tiba di masjid, hiruk pikuk perlahan mereda, digantikan oleh kekhusyukan yang menyelimuti. Gema selawat Nabi dan pembacaan kitab Barzanji melantun syahdu, memenuhi setiap sudut ruang, mengantarkan hati para jamaah pada refleksi akan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Setelah mendengarkan tausiyah yang menyejukkan, momen yang paling dinanti pun tiba: makan bersama di pelataran masjid, sebuah jamuan yang bukan hanya mengisi perut, tetapi juga jiwa.

Mohammad Edy Saputro, salah seorang warga Desa Kemiren, mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas kelestarian tradisi ini. “Masih bersyukur bisa mengikuti Maulid Nabi Muhammad dengan tradisi Ancakan dan Endog-Endogan. Masyarakat sekitar sini juga sangat antusias dan guyub berbondong-bondong di Masjid,” ujar Edy, suaranya memancarkan kebanggaan akan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.

Namun, di balik keguyuban itu, tersimpan sebuah aturan tak tertulis yang menjadi inti filosofi Ancakan: kewajiban untuk saling bertukar ancak antarwarga. Setiap pembuat atau pemilik ancak dilarang keras menyantap masakan buatannya sendiri. Sebaliknya, mereka diwajibkan menikmati hidangan yang dibawa oleh tetangganya. Praktik indah ini bukan sekadar formalitas; ia adalah simbol murni dari solidaritas, kesetaraan, dan kerelaan berbagi rezeki. Dalam setiap suap hidangan tetangga, terkandung makna mendalam tentang kebersamaan, tentang menanggalkan ego pribadi demi merasakan kebahagiaan dari apa yang disuguhkan orang lain. Ini adalah pendidikan karakter yang diwariskan secara turun-temurun, sebuah cara untuk merajut kerukunan yang terus lestari di tengah masyarakat Banyuwangi, mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam memberi dan berbagi, bukan hanya menerima.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mengurai Simpul Harapan di Lereng Gunung: Mengapa Warga Ngadirenggo Membela Keberadaan PT Greenfields

13 Okt 2026 - 21:06 WIB

Mengurai Simpul Harapan di Lereng Gunung: Mengapa Warga Ngadirenggo Membela Keberadaan PT Greenfields

Jejak Pipa di Tambak Mayor: Pelajaran dari Insiden Kebocoran Petrokimia Gresik

13 Okt 2026 - 21:06 WIB

Jejak Pipa di Tambak Mayor: Pelajaran dari Insiden Kebocoran Petrokimia Gresik

Batik Fun Time: Inovasi Pembelajaran Budaya Berbasis Teknologi Antar Guru PAUD Ini Raih Juara

13 Okt 2026 - 21:04 WIB

Batik Fun Time: Inovasi Pembelajaran Budaya Berbasis Teknologi Antar Guru PAUD Ini Raih Juara

Prestasi Mengagumkan: Alumni SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo Hafal 105 Hadis, eLKISI Tawarkan Edupark

13 Okt 2026 - 21:03 WIB

Prestasi Mengagumkan: Alumni SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo Hafal 105 Hadis, eLKISI Tawarkan Edupark

Bisikan Bumi dari Selatan Pacitan: Getaran Gempa M 4,5 yang Singgah Sekejap di Ponorogo

13 Okt 2026 - 18:48 WIB

Bisikan Bumi dari Selatan Pacitan: Getaran Gempa M 4,5 yang Singgah Sekejap di Ponorogo
Trending di Pendidikan