KlikMojok – Pukul 14.30 WIB, biasanya koridor SD Muhammadiyah 1 Giri (SD Muri), Kebomas, Gresik, mulai lengang. Suara riuh anak-anak berangsur menghilang, menyisakan keheningan yang familiar setelah jam belajar mengajar (KBM) usai. Namun, pada Selasa, 18 Agustus 2026, ada yang berbeda di Kelas III Al-Halim. Alih-alih sepi, ruangan itu justru dipenuhi gelak tawa, riuh percakapan, dan aroma manis kue yang berpadu dengan semarak warna-warni hiasan.
Bukan murid, melainkan 19 guru SD Muri yang tengah beradu kreativitas menghias kue merah putih, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara yang manis dan penuh makna. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT RI, mengubah ruang kelas menjadi panggung ekspresi para pendidik.

Di balik rutinitas mengajar yang padat, para pendidik ini menemukan sebuah ruang baru untuk berekspresi. Lomba menghias kue, yang diselenggarakan setelah KBM berakhir, bukan sekadar kompetisi biasa. Ia menjadi oase bagi para guru untuk sejenak melepas penat, menyalurkan ide-ide kreatif, dan yang terpenting, mempererat tali kebersamaan di antara mereka. Ini adalah perayaan kemerdekaan yang dirajut dengan kegembiraan, jauh dari formalitas, namun tetap sarat semangat kebangsaan.
Mila Sopia, S.Pd., selaku penanggung jawab lomba, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme luar biasa dari para guru. “Bapak dan Ibu guru tetap semangat mengikuti lomba meskipun kegiatan ini dilaksanakan setelah KBM. Ini menunjukkan bahwa kemeriahan HUT RI dapat menjadi ruang untuk bergembira sekaligus mempererat kebersamaan,” ujarnya. Sambutan itu disambut hangat, memicu semangat kompetisi yang sehat. Setelah Fitriyah Yuliana membacakan peraturan dan kriteria penilaian, Kelas III Al-Halim seketika bertransformasi menjadi dapur kreasi mini. Setiap guru mulai sibuk dengan kue dan pernak-pernik hiasan yang telah disiapkan.
Tangan-tangan terampil mulai bergerak lincah. Ada yang teliti mengoleskan *buttercream*, menyusun *fondant*, hingga menata berbagai ornamen kecil di atas kue. Nuansa merah dan putih mendominasi, menjadi kanvas utama yang melambangkan semangat kemerdekaan. Meskipun serius, canda dan tawa sesekali pecah, mengisi ruangan dengan kehangatan. Beberapa guru tampak berdiskusi ringan dengan rekan di sebelahnya, berbagi ide atau sekadar mengomentari hasil karya. Suasana kekeluargaan terasa kental, mengalahkan ketegangan kompetisi, menghasilkan beragam bentuk kue yang unik, masing-masing memancarkan sentuhan kreativitas dan imajinasi personal.
Setelah waktu pengerjaan usai, tiga dewan juri mulai mengamati setiap karya dengan cermat. Mereka adalah Kepala SD Muri Riza Agustina Wahyu Setyawati, S.Pd., M.Pd., guru SMP Muhammadiyah 4 Gresik Adhimatul Ilmiyah, S.Ag., serta wali murid Salman dari kelas V Al-Waly. Empat kriteria menjadi pegangan penilaian: keserasian tema, kreativitas, kebersihan, dan ketepatan waktu. Namun, Riza Agustina menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini melampaui sekadar mencari pemenang. “Yang terpenting bukan hanya siapa yang menjadi juara. Kita ingin menikmati prosesnya, membangun kebersamaan, dan menghadirkan kegembiraan di tengah kesibukan sebagai pendidik,” tuturnya, menekankan nilai-nilai persahabatan di atas persaingan.
Menjelang sore, setelah penilaian yang objektif, tiga nama diumumkan sebagai yang terbaik: Juara I diraih Qolbiyah Azkan Nada, Juara II Bellah Iasyah Meylindah, dan Juara III Eni Mariana. Namun, sorak sorai yang terdengar bukan hanya untuk para pemenang. Seluruh peserta menikmati hasil karya dan pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Lomba menghias kue ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sederhana, namun mampu menumbuhkan kreativitas, kekompakan, dan energi positif di kalangan para pendidik.
Lebih dari sekadar menciptakan kue yang indah, kegiatan ini telah menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan kegembiraan yang diharapkan akan terus terbawa dalam keseharian di sekolah. Para guru SD Muri tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan di kelas, tetapi juga memberikan teladan berharga tentang arti persatuan, kreativitas, dan bagaimana merayakan hidup—dan kemerdekaan—dengan penuh sukacita. Gelak tawa dan kehangatan yang menutup sore itu menjadi pengingat bahwa di balik peran pendidik yang mulia, ada jiwa-jiwa kreatif yang siap merajut keindahan dalam setiap kesempatan.













