Menu

Mode Gelap
Semangat Kreativitas Anak Warnai Gebyar UMKM Sidoarjo: Ratu Hadriana Raih Juara Lomba Mewarnai Muktamar NU dan Riak Demokrasi: Saat Tata Tertib Menjadi Medan Uji Kedaulatan Peserta Dari Tambak ke Cobek: Mengukir Asa dan Kebanggaan Pangan Lokal Lamongan di Festival Bandeng Lele Nyanyian Persatuan di Omah Sawah Kediri: Ketika Musik dan Olahraga Mengukir Semangat Kemerdekaan Di Bawah Terik Tambakberas: Suara Nahdliyin Muda Mengawal Marwah Muktamar PBNU SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo Gelar “Sdamada Berkisah” dan Lomba Agustusan untuk Guru

Pendidikan

Dari Tambak ke Cobek: Mengukir Asa dan Kebanggaan Pangan Lokal Lamongan di Festival Bandeng Lele

badge-check


					Dari Tambak ke Cobek: Mengukir Asa dan Kebanggaan Pangan Lokal Lamongan di Festival Bandeng Lele Perbesar

KlikMojok – Di bawah terik matahari Lamongan, ratusan pasang tangan sibuk mengulek bumbu, menciptakan simfoni rasa yang tak hanya menggugah selera, namun juga menyuarakan kebanggaan akan identitas daerah. Halaman Kantor Kecamatan Turi, pada Minggu (30/8/2026), berubah menjadi panggung megah bagi Festival Bandeng Lele Megilan, sebuah perayaan yang jauh melampaui sekadar lomba masak. Dalam balutan semangat Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, acara ini menjadi penanda vitalitas potensi perikanan Lamongan, sebuah kabupaten yang kaya akan hasil tambak.

Bandeng dan lele bukan sekadar ikan. Bagi masyarakat Lamongan, keduanya adalah denyut nadi ekonomi, simbol kemandirian pangan, dan warisan budaya yang telah lama dihidupi. Festival ini, dengan konsep penyet atau uleg yang melibatkan total 430 peserta, bukan hanya memperkenalkan sajian kuliner khas, melainkan juga menegaskan kembali posisi bandeng dan lele sebagai komoditas unggulan yang potensinya masih sangat luas untuk dikembangkan. Lebih dari itu, ia adalah ajang partisipasi kolektif, tempat warga bersatu merayakan kekayaan lokal mereka, sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa.

Kemeriahan ini tak luput dari perhatian Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, yang hadir bersama Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara. Dalam sambutannya, Bupati yang akrab disapa Pak Yes ini memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif penyelenggaraan festival. “Kita bangga dengan Festival Bandeng Lele ini. Tahun ini dipusatkan di Kecamatan Turi,” ujarnya, menyoroti bagaimana kegiatan semacam ini mampu memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap komoditas lokal dan mendorong kemajuan sektor perikanan. Ia berharap, pengenalan yang lebih luas terhadap bandeng dan lele akan memicu minat masyarakat untuk semakin giat dalam budidaya tambak. “Mudah-mudahan acara ini bisa menggairahkan budi daya tambak, sehingga harga semakin mahal,” tambahnya, menunjukkan visi ekonomi di balik perayaan budaya ini.

Namun, gairah budidaya ini tentu perlu ditopang oleh ekosistem yang kondusif. Pak Yes menekankan pentingnya kemudahan bagi para pembudidaya, mulai dari ketersediaan pupuk hingga akses air yang memadai. “Pupuk gampang, air juga mudah dan dimudahkan semuanya,” tuturnya, menggarisbawahi komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan yang optimal agar aktivitas tambak masyarakat dapat berjalan tanpa hambatan. Hal ini bukan sekadar janji, melainkan sebuah strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan dan peningkatan produksi perikanan di Lamongan.

Festival ini sendiri berlangsung dengan konsep yang menarik dan penuh warna. Peserta tidak hanya ditantang untuk menyajikan olahan bandeng dan lele, tetapi juga diwajibkan membuat sambal secara langsung di tempat, menggunakan cobek dan uleg yang telah disediakan panitia. Proses ini tidak hanya menguji keterampilan memasak, tetapi juga menjadi tontonan yang menghibur. Kreativitas menjadi kunci; setiap kelompok mengenakan kostum kreasi unik, mengubah area festival menjadi parade warna dan ekspresi budaya. Ini adalah ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan daya cipta mereka, sekaligus memeriahkan momentum kemerdekaan dengan cara yang otentik.

Sebelum puncak perayaan, semangat kebersamaan telah dipupuk melalui jalan sehat sejauh 8 kilometer, yang diikuti warga dan berakhir di pusat kegiatan, halaman Kantor Kecamatan Turi. Pemandangan paling mencolok setelah festival penyet adalah keberadaan gunungan yang megah, tersusun dari sekitar 80 kilogram bandeng dan 40 kilogram lele asap. Gunungan ini, yang melambangkan kemakmuran hasil bumi Lamongan, menjadi rebutan warga setelah seluruh rangkaian acara selesai, menambah semarak dan kegembiraan kolektif.

Festival Bandeng Lele Megilan di Kecamatan Turi bukan sekadar perhelatan tahunan. Ia adalah manifestasi dari semangat kemerdekaan yang diterjemahkan dalam upaya nyata memajukan potensi pangan lokal. Dari setiap ulekan sambal, dari setiap gigitan bandeng dan lele, terpancar harapan akan masa depan yang lebih sejahtera, di mana kebanggaan akan warisan lokal menjadi fondasi kokoh bagi kemajuan ekonomi dan identitas budaya Lamongan. Ini adalah pelajaran bahwa pendidikan tentang potensi diri dan daerah, dapat tersampaikan dengan cara yang paling menyenangkan dan berkesan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Muktamar NU dan Riak Demokrasi: Saat Tata Tertib Menjadi Medan Uji Kedaulatan Peserta

30 Agustus 2026 - 18:51 WIB

Nyanyian Persatuan di Omah Sawah Kediri: Ketika Musik dan Olahraga Mengukir Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 15:29 WIB

Di Bawah Terik Tambakberas: Suara Nahdliyin Muda Mengawal Marwah Muktamar PBNU

30 Agustus 2026 - 15:26 WIB

SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo Gelar “Sdamada Berkisah” dan Lomba Agustusan untuk Guru

30 Agustus 2026 - 15:25 WIB

DPP LSM ASLI Berharap Pemimpin NU Muktamar ke-35 Berakhlak Rasulullah dan Merakyat

30 Agustus 2026 - 15:24 WIB

Trending di Pendidikan