Menu

Mode Gelap
Maulid Nabi TKIT Salam Viral: Bukan Sekadar Shalawat, tapi Aksi Nyata Berbagi yang Menyentuh Hati! Ketika Cak Imin Soroti ‘Kemunduran NU Akibat HMI’, Anak-anak Tokoh NU Ini Malah Mantap Ber-HMI! Memukau di Gebyar UMKM Sidoarjo 2026: Talenta Alvaro, Shinta, Elvira Dorong Cinta Produk Lokal Panggung Merdeka Blitar: Wadah Talenta Lokal Berpadu Dangdut Rock Bergengsi Api Melalap Serbuk Kayu di Gresik: Pelajaran Berharga dari Insiden Gudang PT Kaliandra Ancaman Tak Terlihat di Langit Sidoarjo: Ketika Senar Layangan Mengoyak Wajah Pengendara

Pendidikan

Ancaman Tak Terlihat di Langit Sidoarjo: Ketika Senar Layangan Mengoyak Wajah Pengendara

badge-check


					Ancaman Tak Terlihat di Langit Sidoarjo: Ketika Senar Layangan Mengoyak Wajah Pengendara Perbesar

KlikMojok – Sore itu, saat mentari mulai condong ke barat, Devina melaju di atas sepeda motornya, membelah jalanan di kawasan Tol Tambak Sumur arah Pondok Tjandra, Sidoarjo. Perjalanan rutin dari sekolah pelayaran menuju Pondok Candra itu tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk yang meninggalkan luka mendalam, bukan hanya pada fisiknya, tetapi juga pada kesadaran kolektif akan bahaya senar layangan yang kerap kali diabaikan. Insiden ini, yang kemudian viral melalui akun Instagram @nindiwr, menjadi pengingat mengerikan tentang ancaman tak kasat mata di ruang publik.

Devina, yang saat itu berboncengan dengan adiknya, merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah sentuhan tajam dan tak terduga menerpa masker yang dikenakannya. Naluri bertahan hidup membuatnya spontan menghentikan sepeda motor, sebuah tindakan mendadak yang bahkan mengejutkan pengendara di belakangnya. Beruntung, ia sempat berhenti, mencegah senar tipis namun mematikan itu melukai bagian lehernya yang vital.

“Teman saya, kemarin sore berencana akan pergi bersama adiknya. Dengan rute melewati sekolah pelayaran, lalu lapangan kosong yang luas di dekat tol Tambak Sumur arah mau ke Pondok Candra. Saat menyusuri jalan raya inilah tiba-tiba teman saya berhenti mendadak yang membuat beberapa pengendara motor di belakangnya juga kaget dan ada yang terjatuh,” tutur @nindiwr, Sabtu (29/8/2026), menggambarkan detik-detik menegangkan tersebut.

Meski lehernya selamat dari sabetan maut, senar layangan itu tetap meninggalkan jejak luka yang menganga. Bibir bagian bawah dan sedikit area di pipi kanannya menjadi korban. Sebuah luka yang cukup dalam, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri dan iba. “Alhamdulillah benang tidak mengenai lehernya, tetapi apesnya benang itu mengenai bibir bagian bawah dan pipi kanannya sedikit. Seperti yang di foto, merinding dan gak tega melihatnya. Lekas pulih untuk Devina,” imbuh @nindiwr, mengungkapkan keprihatinan mendalam.

Adiknya yang duduk di jok belakang pun tak luput dari sapuan benang layangan tersebut. Beruntung, senar itu hanya mengenai pakaiannya hingga robek, tanpa melukai kulit. “Dev boncengan sama adiknya. Iya adiknya duduk di belakang juga kena benang layangan itu tapi gak sampai mengenai tubuhnya. Hanya mengenai pakaian yang dia pakai,” jelas akun tersebut lebih lanjut.

Kejadian ini bukan kali pertama. Kawasan di sekitar Tol Tambak Sumur memang dikenal memiliki lahan kosong yang luas, menjadikannya magnet bagi para penghobi layang-layang. Apa yang bagi sebagian orang adalah hiburan tradisional yang tak berbahaya, bagi pengendara motor bisa menjadi ancaman serius. Penggunaan senar gelasan atau benang dengan serbuk kaca yang tajam, meskipun dilarang, masih marak digunakan demi “kemenangan” dalam adu layang-layang. Inilah akar masalah yang perlu edukasi dan penanganan serius.

Insiden Devina harus menjadi lonceng peringatan bagi kita semua. Ini bukan hanya tentang kecelakaan individu, melainkan cerminan minimnya kesadaran akan dampak dari aktivitas rekreasi yang bersinggungan dengan ruang publik. Pendidikan mengenai etika bermain layang-layang, bahaya penggunaan senar tajam, dan pentingnya memilih lokasi yang aman, jauh dari jalan raya, menjadi krusial. Tanggung jawab tidak hanya ada pada pemain layangan, tetapi juga orang tua, komunitas, dan pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua pengguna jalan. Luka di wajah Devina adalah pengingat pahit bahwa kebebasan berekreasi tidak boleh mengorbankan keselamatan orang lain, dan bahwa kewaspadaan serta tanggung jawab adalah kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Api Melalap Serbuk Kayu di Gresik: Pelajaran Berharga dari Insiden Gudang PT Kaliandra

31 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Festival Menjadi Gresik: Merajut Sejarah Kota dari Ingatan dan Keseharian Warga

31 Agustus 2026 - 06:12 WIB

Dari Jombang, Asa Kepemimpinan Teduh di Pusaran Muktamar: Gus Kikin dan Spirit Kewirausahaan Nahdliyin

30 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Di Balik Tirai Dalem Kasepuhan: Sembilan Kiai Menentukan Arah Nahdlatul Ulama

30 Agustus 2026 - 21:53 WIB

Ubah Mindset Takmir Masjid: Dana Umat Ada di Kantong Jemaah, Bukan Ditabung

30 Agustus 2026 - 21:52 WIB

Trending di Pendidikan