KlikMojok – Upaya pembongkaran puluhan warung remang-remang serta bilik asmara yang pernah dilakukan di area lokalisasi Krengseng, tepatnya di Desa Jerukgamping, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, ternyata belum mampu menghentikan sepenuhnya geliat aktivitas prostitusi di kawasan tersebut. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang setempat.
Mengejutkan, hanya berselang sekitar dua bulan pasca kawasan tersebut diratakan dengan tanah, sejumlah warung dan bilik-bilik semi permanen kembali terlihat berdiri. Kehadiran bangunan-bangunan ini mengindikasikan kembalinya kegiatan yang dilarang di lokasi tersebut.
Lebih lanjut, aktivitas yang kuat diduga berkaitan dengan transaksi prostitusi ini bahkan terpantau beroperasi sejak pagi hari hingga menjelang siang. Ketika jajaran Kecamatan Krian melaksanakan pengecekan langsung di lapangan, mereka mengaku telah menyaksikan secara langsung dugaan transaksi yang melibatkan seorang pria dan perempuan, yang diyakini sebagai pekerja seks komersial (PSK).
Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Krian, Dheny Kurniawan, menjelaskan bahwa proses pengecekan ini dilaksanakan bersama dengan jajaran dari Kelurahan Kemasan. Tindakan ini diambil menyusul adanya laporan dari masyarakat setempat yang mengeluhkan kembali maraknya aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut.
Berdasarkan hasil pemantauan yang telah dilakukan, tim menemukan kembali berdirinya sejumlah warung kopi serta bilik-bilik semi permanen. Bangunan-bangunan ini tersebar di sekitar lokasi, baik yang berada di sisi sebelah barat maupun di sisi timur jalur rel kereta api.
Dheny mengungkapkan pada hari Minggu (1/11), “Ketika kami datang menggunakan pakaian dinas dan rompi, aktivitas itu tetap berlangsung. Bahkan, di depan mata kami sendiri terlihat ada transaksi antara laki-laki dan perempuan yang duduk di warung.” Pernyataan ini menunjukkan betapa beraninya para pelaku dalam menjalankan aksinya.
Menurut Dheny, aktivitas terlarang ini diduga kuat berawal dari keberadaan warung-warung kopi yang berfungsi sebagai titik kumpul. Para pria yang datang kemudian berinteraksi dengan perempuan-perempuan yang berada di warung tersebut. Setelah tercapai kesepakatan tertentu, keduanya kemudian berpindah menuju bilik-bilik yang letaknya tidak jauh dari warung.
Bilik-bilik yang kembali didirikan tersebut dibangun dengan sangat sederhana, seringkali hanya memanfaatkan bekas spanduk atau banner sebagai material penutup. Diperkirakan, jumlah bilik yang sudah kembali berdiri mencapai antara tiga hingga empat unit. Sementara itu, untuk warung-warung kopi yang kembali beroperasi di lokasi tersebut juga diperkirakan berjumlah serupa, yakni tiga hingga empat unit.
“Kalau jumlah perempuan yang beraktivitas di sana, kami belum mengetahui secara pasti. Namun, saat pengecekan terlihat ada yang datang, bertransaksi, kemudian menuju bilik,” jelas Dheny, menggarisbawahi pola aktivitas yang teramati.
Dheny menambahkan bahwa aktivitas mencurigakan ini sudah mulai terlihat sejak sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 pagi. Meskipun demikian, ia juga mencatat bahwa tidak semua pengunjung yang berada di lokasi tersebut diduga kuat menggunakan jasa prostitusi. Sebagian pengunjung lainnya terlihat hanya sekadar nongkrong, menghabiskan waktu dengan bermain kartu remi, atau membeli berbagai makanan ringan yang dijual di warung-warung tersebut.












